Oleh Angga Wijaya
SAYA pernah percaya bahwa dimuat di koran adalah semacam baptisan. Sebuah pengakuan yang tidak diucapkan secara langsung, tetapi terasa begitu nyata. Nama kita tercetak, karya kita hadir di antara berita-berita besar, dan ada seseorang di balik meja redaksi yang memutuskan bahwa tulisan itu layak dibaca publik. Ada proses yang panjang, penantian, dan kemungkinan ditolak tanpa penjelasan. Semua itu membentuk semacam disiplin batin bagi penulis.
Di Indonesia, masa ketika sastra koran benar-benar berada di puncaknya bisa ditarik sejak dekade 1970-an hingga awal 2000-an. Pada periode itu, halaman budaya di berbagai surat kabar menjadi ruang yang sangat bergengsi. Cerpen hari Minggu, puisi mingguan, dan esai budaya bukan hanya dibaca, tetapi juga ditunggu. Nama-nama penulis tumbuh dan dikenal dari sana. Dimuat di koran besar menjadi semacam legitimasi yang diakui secara luas.
Di masa itu, sastra koran bukan sekadar ruang publikasi. Ia adalah ruang legitimasi. Seorang penulis bisa dianggap benar-benar penulis ketika karyanya menembus halaman budaya. Ada standar yang tidak tertulis, tetapi diakui bersama. Juga, selera redaktur yang pelan-pelan membentuk lanskap sastra itu sendiri.
Namun sejak pertengahan 2000-an, perubahan mulai terasa. Internet masuk lebih luas ke kehidupan sehari-hari, meski belum sepenuhnya menggeser koran cetak. Blog mulai bermunculan sekitar 2005 hingga 2010, menjadi ruang awal bagi banyak orang untuk menulis tanpa perantara. Ini bisa dianggap sebagai fase awal sastra digital di Indonesia, ketika medium mulai bergeser, meski belum menjadi arus utama.
Perubahan itu menjadi semakin nyata memasuki dekade 2010-an. Sekitar 2012 hingga 2018, media sosial berkembang pesat dan mengubah cara orang membaca serta menulis. Platform seperti Instagram, Facebook, danWattpad mulai menjadi ruang baru bagi karya sastra, terutama di kalangan generasi muda. Di titik ini, sastra digital tidak lagi sekadar alternatif, tetapi mulai menjadi tren.
Lalu datang masa ketika semuanya semakin dipercepat. Setelah 2020, ketika penggunaan internet melonjak dan interaksi digital menjadi bagian utama kehidupan sehari-hari, sastra digital semakin menguat. Banyak penulis yang sebelumnya mengandalkan media cetak mulai beralih atau setidaknya membagi perhatian mereka ke platform digital.
Perubahan ini sering disebut sebagai demokratisasi. Semua orang punya kesempatan yang sama. Tidak ada lagi penjaga gerbang yang menentukan siapa boleh masuk dan siapa tidak. Dalam banyak hal, ini memang terasa membebaskan. Penulis-penulis baru bermunculan, suara-suara yang dulu terpinggirkan kini menemukan ruangnya sendiri.
Tetapi kebebasan ini tidak benar-benar tanpa konsekuensi. Jika dulu seorang penulis berhadapan dengan redaktur, sekarang ia berhadapan dengan sesuatu yang lebih abstrak dan sulit dilacak, yakni algoritma. Sebuah sistem yang tidak pernah benar-benar kita pahami, tetapi diam-diam menentukan apa yang terlihat dan apa yang tenggelam.
Di titik ini, kita tidak sedang berpindah dari satu ruang ke ruang lain yang lebih netral. Kita hanya berpindah dari satu bentuk kekuasaan ke bentuk kekuasaan lain. Jika dulu selera redaktur menjadi penentu, sekarang selera pasar digital yang bekerja melalui angka-angka. Jumlah suka, jumlah tayangan, jumlah pengikut. Semua itu menjadi ukuran baru yang sering kali lebih menentukan daripada kualitas estetik itu sendiri.
Saya sering bertanya, apakah ini benar-benar kebebasan? Atau justru bentuk lain dari keterikatan yang lebih halus? Dalam sastra koran, keterbatasan ruang memaksa penulis untuk memilih. Kata-kata harus hemat, kalimat harus efektif, dan gagasan harus dirumuskan dengan cermat. Ada kesadaran bahwa setiap baris memiliki nilai. Proses menunggu juga menjadi bagian dari pembentukan itu. Menunggu dimuat, ditolak, atau menunggu kesempatan berikutnya.
Di dunia digital, kecepatan menjadi segalanya. Tulisan bisa lahir dan hilang dalam waktu yang sangat singkat. Kita menulis, mengunggah, lalu segera melihat respons. Jika sepi, kita mungkin menghapusnya. Jika ramai, kita terdorong untuk mengulang pola yang sama. Dalam situasi seperti ini, proses sering kali dipangkas. Kedalaman bisa tergantikan oleh kecepatan.
Ini bukan berarti sastra digital lebih dangkal. Tidak selalu. Ada banyak karya yang lahir dari ruang digital dengan kekuatan yang tidak kalah. Tetapi ada kecenderungan yang sulit diabaikan. Kita semakin terbiasa dengan yang cepat, yang instan, yang segera mendapat respons.
Di Bali, perubahan ini terasa lebih kompleks. Pulau ini sejak lama menjadi objek sekaligus subjek dalam banyak karya sastra. Dalam sastra koran, Bali sering hadir dengan jarak tertentu. Ia dipotret dengan refleksi, dengan upaya memahami, kadang juga dengan kritik yang halus.
Di dunia digital, Bali sering berubah menjadi konten. Ia tampil dalam gambar-gambar yang indah, dalam potongan kalimat yang mudah dibagikan, dalam narasi-narasi yang cepat dikonsumsi. Ada estetika yang kuat, tetapi kadang kehilangan kedalaman. Bali tidak lagi hanya diceritakan, tetapi juga diproduksi sebagai sesuatu yang harus menarik perhatian.
Di sini, pertanyaannya menjadi lebih tajam. Apakah kita masih sedang menulis tentang Bali, atau kita sedang menulis untuk memenuhi bayangan tentang Bali yang diinginkan oleh pasar digital?
Perubahan ini juga menyentuh posisi penulis sebagai pekerja. Dalam sastra koran, ada honorarium. Tidak selalu besar, tetapi cukup untuk menandai bahwa tulisan memiliki nilai ekonomi. Ada hubungan yang jelas antara karya dan imbalan.
Di dunia digital, hubungan itu menjadi kabur. Banyak penulis bekerja tanpa bayaran langsung. Mereka mengandalkan eksposur, berharap pada kemungkinan lain yang mungkin datang kemudian. Dalam situasi seperti ini, penulis bisa berubah menjadi semacam pekerja yang tidak terlihat. Mereka terus memproduksi, terus berbagi, tetapi tidak selalu mendapatkan imbalan yang sepadan.
Apakah ini bentuk kebebasan, atau justru bentuk baru dari eksploitasi yang tidak kita sadari? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak memiliki jawaban yang sederhana. Sastra koran dan sastra digital bukan dua dunia yang sepenuhnya terpisah. Banyak penulis hari ini hidup di antara keduanya. Mereka mengirim karya ke media, sekaligus aktif di platform digital. Mereka mencoba menegosiasikan diri di tengah perubahan yang terus berlangsung.
Mungkin yang paling penting bukan memilih salah satu, tetapi memahami bagaimana keduanya bekerja. Menyadari bahwa setiap ruang memiliki logika, memiliki kekuasaan, dan memiliki konsekuensi.
Menulis hari ini bukan hanya soal menemukan suara, tetapi juga soal menjaga suara itu agar tidak sepenuhnya ditentukan oleh redaktur maupun algoritma. Ada godaan untuk mengikuti selera yang sudah ada, untuk menyesuaikan diri dengan apa yang dianggap laku. Tetapi di situlah risiko terbesar muncul. Ketika tulisan tidak lagi lahir dari kebutuhan untuk memahami, melainkan dari keinginan untuk terlihat.
Saya tidak ingin meromantisasi masa lalu. Sastra koran juga memiliki keterbatasan, bahkan bisa sangat eksklusif. Banyak suara yang tidak pernah mendapat ruang. Tetapi saya juga tidak ingin sepenuhnya merayakan dunia digital tanpa kritik. Kebebasan yang ditawarkan tidak selalu berarti kemandirian.
Di antara dua dunia itu, penulis hari ini berdiri dalam posisi yang tidak mudah. Ia harus terus bergerak, menyesuaikan diri, sekaligus menjaga jarak. Ia harus cukup terbuka untuk memanfaatkan peluang, tetapi juga cukup keras kepala untuk tidak kehilangan arah.
Mungkin pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan sekadar ruang baru, tetapi kesadaran baru. Bahwa menulis tetaplah sebuah upaya untuk memahami sesuatu yang tidak selesai di dalam diri. Dan di tengah segala perubahan, ada hal-hal yang tidak seharusnya berubah.
Seperti kebutuhan untuk jujur pada pengalaman. Seperti keberanian untuk tidak selalu mengikuti arus, dan kesediaan untuk tetap menulis. Bahkan, ketika tidak ada yang benar-benar menjamin bahwa tulisan itu akan dibaca. Di situlah, sastra, dalam bentuk apa pun, menemukan maknanya kembali.***

