Revolusi Mental dan Pendidikan yang Dimulai dari Diri

Cok Widya, Business Development Services Koperasi dan UMKM di Bali. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Cok Widya*

Membaca berbagai berita belakangan ini, juga mengingat pengalaman sejak masa kuliah, ada satu hal yang terasa terus berulang, banyak lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan jurusan yang mereka tekuni. Fenomena ini bukan hal baru. Ia sudah lama ada, dan seolah menjadi kewajaran. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, ini bisa menjadi tanda bahwa ada yang perlu dibenahi dari sistem pendidikan kita.

Saya mengalami sendiri proses itu. Saat duduk di bangku sekolah dasar, bayangan tentang masa depan terasa begitu jauh. Pertanyaan kelak mau jadi apa belum benar benar lahir dari kesadaran diri. Jawaban yang muncul lebih banyak dipengaruhi lingkungan, ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Mungkin ini juga efek dari keterlibatan dalam kegiatan Pramuka sejak kecil, yang tanpa disadari menanamkan nilai nilai dasar tentang pengabdian.

Memasuki sekolah menengah pertama, arah itu masih samar. Yang ada hanya alur umum, lulus SD, lanjut SMP, lalu SMA, kemudian kuliah. Fokus saat itu sederhana, diterima di sekolah negeri terdekat dan belajar sebaik mungkin. Sistem pendidikan masih berbasis tes lokal, dan saya pun lulus secara murni. Belum ada kesadaran tentang jalur jalur lain yang kini begitu kompleks.

Kegiatan organisasi mulai memberi warna. Kesempatan menjadi pengurus OSIS hadir, dan saya menjalaninya dengan antusias. Sibuk, tentu saja. Namun ada kegembiraan di dalamnya. Pengalaman itu menempa banyak hal, kepemimpinan, tanggung jawab, juga kemampuan beradaptasi. Hingga akhirnya, saya lulus sebagai peringkat pertama di SMPN 9 Denpasar, dulu dikenal sebagai SMPN Sanur, dan berkesempatan memilih sekolah favorit.

Namun, bahkan di titik itu, pertanyaan tentang masa depan masih belum menemukan bentuk yang jelas. Di jenjang SMA, pilihan mulai dipaksa untuk diambil. Jurusan harus ditentukan, cita cita harus disebutkan. Saya memilih jalur biologi, dengan impian menjadi dokter. Tetapi jika jujur, pilihan itu belum sepenuhnya lahir dari pemahaman tentang minat, bakat, atau kemampuan diri. Belum ada tes yang membantu mengenali potensi secara utuh. Semua masih berdasarkan asumsi dan harapan.

Perjalanan kemudian mengajarkan hal yang berbeda. Nilai yang tidak memadai dan kegagalan dalam dua kali kesempatan masuk perguruan tinggi negeri memaksa saya berhadapan dengan realitas. Keterbatasan ekonomi keluarga juga menjadi faktor penentu. Pada akhirnya, saya memilih jurusan akuntansi, sebuah pilihan yang jauh dari bayangan awal, tetapi dianggap memiliki peluang kerja yang lebih cepat.

Di masa kuliah, situasi justru menempa hal hal yang sebelumnya tidak direncanakan. Saya mulai berjualan untuk menambah uang saku. Membeli pakaian secara grosir, mencicilnya melalui koperasi kampus, lalu menjual kembali. Dari sini, jiwa kewirausahaan tumbuh, bukan karena teori, melainkan karena kebutuhan.

Dulu, sempat ada rasa tidak menerima keadaan. Latar belakang keluarga yang dianggap berada tidak sejalan dengan realitas yang dijalani. Namun, seiring waktu, saya belajar melihatnya sebagai bagian dari proses. Bahwa kita tidak pernah memilih dilahirkan di mana, tetapi kita selalu punya pilihan untuk bersyukur dan belajar dari keadaan.

Arah hidup kembali berbelok. Jurusan yang ditempuh tidak pernah benar benar terbayangkan sebelumnya. Namun, kemampuan beradaptasi, yang mungkin sudah terasah sejak kecil, membantu saya bertahan. Bahkan, saya mampu lulus sebagai yang terbaik di bidang yang berbeda dari latar belakang SMA.

Kesempatan kerja datang, tidak lepas dari peran orang orang baik di sekitar. Namun, kesempatan itu tetap harus diiringi dengan kompetensi. Kemampuan bahasa Inggris dan akuntansi menjadi kunci. Di masa kuliah, saya berusaha mengikuti semua mata kuliah dengan sungguh sungguh, termasuk memanfaatkan waktu liburan untuk magang di hotel atas inisiatif sendiri. Semua itu memperkaya pengalaman dan memperkuat isi CV ketika melamar pekerjaan.

Dunia kerja membuka babak baru. Adaptasi kembali diuji, berhadapan dengan dinamika rekan kerja, kompetisi, dan karakter yang beragam. Keputusan keputusan besar harus diambil, termasuk berpindah ke lingkungan kerja yang sama sekali baru.

Selama lima tahun ditempa dalam situasi yang tidak mudah, termasuk dampak peristiwa besar seperti Bom Bali, semangat untuk terus berkembang tidak pernah padam. Tantangan berikutnya datang di bidang manajemen vila, lalu merambah ke human resources. Hingga akhirnya, sejak tahun 2010, saya menemukan jalan di dunia koperasi dan UMKM.

Di titik ini, saya mulai mengenal konsep pendampingan usaha dan istilah Business Development Services, BDS. Dunia yang sebelumnya tidak pernah direncanakan, justru menjadi ruang pengabdian yang paling terasa bermakna.mSemua rencana awal seolah runtuh, digantikan oleh arah yang dibentuk oleh pengalaman, keterbatasan, dan mungkin apa yang bisa disebut sebagai swadharma.

Dari perjalanan panjang ini, satu hal menjadi jelas, sistem pendidikan kita masih menyisakan celah yang besar antara proses belajar dan arah hidup. Banyak anak berjalan tanpa benar benar mengenal dirinya, lalu dihadapkan pada pilihan pilihan besar tanpa bekal yang cukup.

Karena itu, pembenahan perlu dimulai sejak dini. Anak anak, bahkan sejak usia prasekolah, seharusnya diberi ruang untuk mengenali minat dan bakatnya. Peran pemerintah bisa diperluas, misalnya melalui layanan konsultasi di posyandu yang tidak hanya fokus pada kesehatan fisik, tetapi juga perkembangan psikologis. Akademisi dan mahasiswa psikologi bisa dilibatkan, bahkan didukung dengan sistem digital yang terintegrasi.

Di tingkat sekolah dasar, pemetaan minat dan bakat perlu dilakukan secara berkala. Anak tidak hanya dijejali pelajaran, tetapi juga diberi kesempatan mengeksplorasi potensinya. Pendidikan kepemimpinan dan kewirausahaan bisa mulai diperkenalkan sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Memasuki usia remaja, arah pendidikan seharusnya semakin terfokus. Di usia sekitar 15 tahun, idealnya seseorang sudah memiliki gambaran yang lebih jelas tentang jalur yang akan ditempuh, berdasarkan minat, bakat, kemampuan, dan potensi dirinya.

Selanjutnya, pendidikan diarahkan pada penguatan profesionalisme, keterampilan, dan keahlian. Nilai nilai seperti kewirausahaan dan kepanduan tetap menjadi fondasi yang menyertai setiap jenjang.

Revolusi mental dan sistem pendidikan bukan sekadar wacana. Ia harus dimulai dari sekarang, dari kesadaran bahwa setiap anak berhak menemukan jalannya sendiri, dengan dukungan sistem yang tepat. Belajar dari pengalaman adalah cara paling jujur untuk memperbaiki masa depan. Astungkara.

Denpasar, Mei 2026

*) Penulis adalah pendiri dan pegiat salah satu BDS (Business Development Services) Koperasi dan UMKM di Bali.

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *