11 April 2026

Putri Koster Soroti Kesenjangan Seni Teater Bali

Peringatan HUT ke-14 Teater Selem Putih pimpinan seniman asal Buleleng, Putu Satria Kusuma, Jumat di Jaya Sabha, Denpasar. (Foto: Biro Humas Setda Provinsi Bali)

DENPASAR, balibicara.com – Peringatan Hari Teater Sedunia yang jatuh pada 27 Maret 2026 tidak sekadar menjadi seremoni tahunan di Bali. Momentum ini justru menjadi ruang refleksi bagi masa depan seni pertunjukan, khususnya teater modern dan kontemporer yang dinilai masih belum berkembang sepesat seni tradisional.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan ramah tamah antara Ibu Putri Koster dengan para pelaku teater Bali yang digelar di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Jumat (27/3/2026). Acara ini juga dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-14 Teater Selem Putih yang dipimpin oleh sastrawan dan filmmaker Bali, Putu Satria Kusuma.

Dalam kesempatan tersebut, Putri Koster menegaskan pentingnya keberanian para seniman untuk lebih ekspresif dalam menghadirkan karya teater modern dan kontemporer. Ia menilai, perkembangan seni di Bali tidak boleh hanya bertumpu pada tradisi, tetapi juga harus memberi ruang yang setara bagi bentuk-bentuk seni baru.

“Kedepannya kita harus tahu selera masyarakat Bali. Tawarkan cerita-cerita yang menarik yang melekat dengan keseharian masyarakat lalu ditampilkan dalam frame kesenian modern,” ungkapnya.

Pernyataan ini menjadi penekanan bahwa seni teater tidak bisa berdiri di ruang yang terpisah dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurutnya, kekuatan teater justru lahir dari kedekatannya dengan realitas sosial, lalu diolah dalam bentuk artistik yang segar dan relevan.

Lebih jauh, ia menyoroti adanya ketidakseimbangan antara perkembangan seni tradisional dan seni modern atau kontemporer di Bali. Seni tradisional, menurutnya, telah memiliki panggung yang kuat, bahkan mampu menembus kancah internasional. Sementara itu, seni modern dan kontemporer masih membutuhkan ruang tumbuh yang lebih luas dan dukungan yang lebih sistematis.

“Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi Bali berupaya memberikan wadah yang seimbang antara seni tradisional dan seni modern/kontemporer melalui pelaksanaan Festival Seni Bali Jani sebagai ruang bagi para pelaku kesenian modern dan kontemporer di Bali,” jelasnya.

Festival tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan bahwa ekosistem seni di Bali tidak berat sebelah. Dengan adanya ruang seperti Festival Seni Bali Jani, para seniman muda diharapkan memiliki panggung yang jelas untuk berekspresi, bereksperimen, sekaligus memperkenalkan karya mereka ke masyarakat luas.

Putri Koster juga menekankan pentingnya kesinambungan festival tersebut agar tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata. Ia berharap Festival Seni Bali Jani dapat terus berlanjut setiap tahun dan semakin dicintai oleh masyarakat Bali, terutama generasi muda.

Selain itu, ia menaruh perhatian besar pada keterlibatan generasi muda dalam pelestarian seni modern dan kontemporer. Menurutnya, keberlanjutan seni tidak hanya bergantung pada institusi, tetapi juga pada keberanian generasi muda untuk terlibat aktif dalam proses kreatif.

Bahkan, ia menyampaikan rencana untuk membangkitkan kembali Lomba Drama Modern sebagai wadah ekspresi anak muda di Bali. Program tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan antara kreativitas generasi muda dengan perkembangan seni pertunjukan yang lebih luas, sekaligus memperkuat identitas seni modern Bali di tengah arus globalisasi.

Dengan berbagai dorongan tersebut, peringatan Hari Teater Sedunia di Bali tahun ini menjadi penanda penting bahwa teater modern tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan bagian integral dari perkembangan seni Bali secara keseluruhan. Momentum ini juga mempertegas arah kebijakan dan visi kebudayaan yang ingin membangun keseimbangan antara tradisi dan modernitas dalam satu ekosistem seni yang sehat. (BB/Rls)

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *