JIKA dilihat dari peta dunia, Pulau Bali sering digambarkan menyerupai seekor ayam betina, dengan Nusa Penida sebagai telurnya. Tak heran metafora geografis ini kemudian berkembang menjadi metafora ekonomi, yakni, Bali sebagai “ayam betina yang bertelur emas.”
Ungkapan ini sangat populer di awal era 1990-an, ketika pulau ini belum penuh, belum padat, dan belum terlalu disadari nilainya, bahkan oleh penghuninya sendiri.
Pada masa itu Bali adalah permata yang belum sepenuhnya dipoles. Pariwisata mulai tumbuh, tapi belum masif. Hotel besar masih terbatas, vila-vila masih sederhana (ketika itu disebut bungalow), dan banyak penginapan juga home stay dikelola keluarga lokal.
Saat itu harga tanah masih murah, kompetitor hampir tidak ada, wisatawan mulai banyak berdatangan dari Eropa, Australia, dan Amerika, infrastruktur juga masih sederhana, tapi daya tarik budaya dan alam Bali sangat kuat.
Yang menarik, justru di fase ini orang Bali belum sepenuhnya sadar nilai tanahnya. Tanah dijual murah, atau yang lebih cerdas disewakan walau tetap tergolong dengan harga murah. Di masa itulah tanah bali banyak lepas tanpa visi jangka panjang.
Sementara itu, investor luar mulai melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh banyak orang Bali saat itu; permintaan lebih besar dari penawaran. Ketidakseimbangan antara harga sebenarnya dengan harga yang ditawarkan. Dari sinilah anekdot “ayam bertelur emas” muncul.
Masuk ke fase selanjutnya, pariwisata mengalami booming. Resort internasional masuk, vila menjadi simbol gaya hidup baru. ROI (Return on Investment) tinggi menjadi kenyataan, bukan sekadar janji sehingga banyak properti di Bali menghasilkan two-digit return.
Angka yang sangat fantastis dan membuat banyak investor tertarik. Di masa itu, cukup punya tanah plus membangun bangunan sederhana, uang sudah bisa mengalir. Pada momen tertentu, seperti liburan atau tahun baru, jauh-jauh hari akomodasi sudah dipastikan full booking. Apalagi yang berada di kawasan strategis.
Bali benar-benar seperti ayam yang bertelur emas tanpa perlu dipaksa bertelur. Namun, waktu mengubah segalanya. Hari ini, Bali bukan lagi ladang kosong. Jumlah vila meningkat sangat cepat, supply mulai melampaui demand, harga tanah melonjak tinggi, kompetitor banyak. Regulasi ketat dan kompetisi semakin kompleks, ROI masih ada, tapi tidak lagi otomatis diraih. Rata-rata angka realistis 7-12% per tahun. Hanya proyek dengan keunggulan lokasi dan konsep menarik yang bisa tembus 15-20%
Syukurnya hari ini “ayam bertelur emas” itu sepertinya belum hilang, walau tidak lagi mudah ditemukan. “Ayam” itu sekarang harus dicari, diolah, dirawat dan dikelola dengan strategi. Jika dulu orang ngidem (merem) mendapat emas, sekarang permainannya harus dengan skill atau skill-based game.
Saya punya beberapa kenalan orang asing yang bolak balik Bali-Dubai, lalu saya berusaha mengorek perbandingan antara Bali dan Dubai. Hasilnya menarik. Katanya, Bali itu ibarat ayam liar, ROI tinggi (potensi besar). Tapi fluktuatif, tergantung manajemen dan SDM yang kita dapat, sensitif terhadap isu dan regulasi sering berubah-ubah. Menurut mereka, Bali termasuk high risk dan high return ecosystem.
Sedangkan di Dubai bisa diibaratkan sebagai ayam broiler, yakni ROI lebih stabil (5-10%). Infrastruktur kuat, regulasi jelas, kepemilikan asing aman dan dijamin.
Fenomena orang asing yang bolak-balik Bali-Dubai, atau Bali-Singapura bukan kebetulan. Ternyata mereka bermain di dua sisi, Bali untuk “menghasilkan telur”, dan Dubai atau Singapura untuk “menyimpan telur emasnya”. Jadi “telur emas” yang dihasilkan di Bali, tidak semuanya diam di Bali. Ini masalah yang harus dicarikan solusinya.
Di tengah semua ini, muncul pertanyaan menggelitik, yakni, siapa sebenarnya yang punya “ayam bertelur emas” di Bali?
Hari ini sepertinya banyak “ayam” di Bali tidak dimiliki oleh orang Bali. Sebagian orang Bali masih ada yang hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Gambaran ini cukup ironis, padahal tanah di Bali adalah salah satu aset paling kuat di dunia.
Tentu tidak semua orang Bali harus punya “ayam besar “, tapi setidaknya mereka punya posisi dalam ekosistem ini, seperti laundry, maintenance, supplyer, hingga berperan sebagai operator, seperti pengelola dan manajemen vila atau home stay.
Karena jika tidak, Bali akan tetap bertelur emas, tapi emasnya akan mengalir ke luar. Metafora lama Bali sebagai “ayam bertelur emas”, masih relevan dan masih ada, tapi konteksnya harus diperbarui. Bali bukan lagi ayam yang otomatis bertelur emas. Ayam itu akan bertelur emas jika kita tahu merawatnya. Tahu cara mainnya, tahu game-nya. Bali juga bukan ayam yang tak pernah habis bertelur emas. Pulau ini ada batasnya, sehingga pulau ini perlu dijaga, dirawat, dan dipelihara bersama.
Dan harapan ke depan sederhana, tapi penting. Agar semakin banyak orang Bali tidak sekedar menjadi passive player tapi bisa menjadi active player dalam ekosistem ini. Pada akhirnya pertanyaan terakhir bukan berapa “ayam itu bertelur emas”, tapi siapakah yang menikmati telur itu, dan kemana dibawa telur itu?
Kesejahteraan sejati bukan ketika Bali ramai, hotel penuh, dan vila tersewa. Kesejahteraan sejati adalah ketika orang Bali tidak terpinggirkan di tanahnya sendiri, memiliki kendali atas lingkungannya. Tidak hanya menyuplai resources, tenaga, dan budaya, tapi bisa terlibat langsung dan membawa arah ekosistem yang lebih baik. (*)
*) Penulis adalah pengusaha asal Jembrana yang telah lama bermukim di Kuta Selatan, Badung, Bali. Alumnus Program Studi Sosiologi Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka.

