Bali Banjir, Tapi Mengapa Dada Kita Ikut Sesak?

Oleh: Angga Wijaya*

DULU, hujan di Bali punya bunyi yang menenangkan. Ia jatuh pelan di atas genteng, membawa aroma tanah basah yang membuat orang ingin duduk lebih lama di rumah.
Anak-anak menunggu genangan untuk bermain. Orang dewasa membuat kopi. Hujan adalah jeda dari kesibukan. Sekarang, hujan sering datang bersama rasa waswas.

Belum lama ini, linimasa media sosial dipenuhi video banjir. Jalan berubah menjadi sungai cokelat. Motor terseret arus. Mobil hanyut perlahan seperti mainan yang dilepas anak kecil. Bahkan seekor ular terlihat berenang di tengah jalan. Video itu muncul berulang-ulang di layar ponsel, seolah tidak memberi kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat.

Kita menontonnya sambil duduk di ruang yang aman. Tubuh kering. Rumah baik-baik saja.Tetapi entah mengapa dada terasa berat. Ada kecemasan yang sulit dijelaskan. Belakangan, perasaan itu memiliki nama, yakni, climate anxiety.

Kecemasan iklim. Sebuah istilah modern untuk kegelisahan yang muncul ketika manusia menyadari bahwa alam tidak lagi berjalan seperti yang dulu ia kenal.

Di Bali, perubahan itu terasa pelan namun nyata. Panas terasa lebih panjang. Hujan turun sekaligus deras. Angin datang di luar kebiasaan musim. Jalan yang dulu jarang tergenang kini mudah berubah menjadi genangan air.

Orang-orang mulai sering berkata, “Cuacanya aneh sekarang.” Kalimat sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan kegelisahan kolektif.
Alam seperti kehilangan ritmenya. Dan ketika ritme alam berubah, ritme batin manusia ikut terganggu.

Seorang psikiater di Denpasar-Bali, dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K) dalam unggahan edukasinya menjelaskan bahwa cuaca ekstrem bukan hanya peristiwa fisik, melainkan juga peristiwa psikologis. Otak manusia tidak sepenuhnya mampu membedakan ancaman nyata dengan ancaman yang terus-menerus hadir melalui layar ponsel.

Ketika kita menonton banjir berkali-kali, tubuh tetap bereaksi seolah bahaya itu sedang mendekat. Detak jantung meningkat. Napas terasa lebih pendek. Pikiran menjadi gelisah tanpa alasan yang jelas. Kita tidak sedang tenggelam, tetapi tubuh merasa terancam.

Penelitian global yang dipublikasikan jurnal The Lancet menunjukkan semakin banyak anak muda di dunia mengalami kecemasan terkait perubahan iklim. Mereka bukan korban langsung bencana, tetapi hidup dalam bayang-bayangnya setiap hari. Masa depan terasa tidak pasti bahkan sebelum benar-benar tiba.

Media sosial mempercepat pengalaman itu. Dahulu, kabar bencana berhenti di koran pagi atau berita malam. Kini bencana hadir setiap menit, setiap guliran layar, setiap notifikasi. Dunia terasa terus-menerus berada dalam keadaan darurat.

Otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk menghadapi ancaman global tanpa jeda.
Akibatnya muncul kelelahan emosional yang aneh. Kita tidak kehilangan apa pun, tetapi merasa lelah. Tidak terkena bencana, tetapi merasa cemas. Tidak tahu harus berbuat apa, tetapi merasa bersalah.

Barangkali karena kita mulai sadar bahwa manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari alam. Di Bali, keseimbangan antara manusia dan lingkungan sejak lama diajarkan sebagai nilai hidup. Namun modernitas sering membuat keseimbangan itu tinggal simbol. Sawah berubah menjadi bangunan. Sungai kehilangan ruang. Tanah semakin sulit menyerap air.

Lalu ketika banjir datang, kita terkejut. Padahal mungkin alam hanya sedang mengingatkan bahwa ia juga memiliki batas.

Climate anxiety bukan sekadar ketakutan terhadap cuaca. Ia adalah kesedihan diam-diam melihat dunia berubah terlalu cepat. Ia adalah nostalgia terhadap alam yang masih kita ingat, tetapi perlahan menghilang dari pengalaman sehari-hari.

Dan mungkin, rasa sesak di dada itu bukan tanda kelemahan. Ia adalah bentuk duka.
Duka karena kita mulai menyadari bahwa tempat yang kita cintai tidak lagi sekuat yang kita bayangkan.

Namun di balik kecemasan itu masih ada harapan kecil. Para psikolog mengatakan kecemasan menjadi berbahaya hanya ketika ia membuat manusia berhenti peduli. Selama kecemasan masih mendorong kita untuk merawat dan menjaga, ia justru tanda kesehatan batin.

Kita mungkin tidak bisa menghentikan hujan. Tidak bisa mengendalikan iklim dunia. Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana hidup di dalamnya.

Merawat hal kecil. Mengurangi yang berlebihan. Menjaga yang tersisa. Karena pada akhirnya, yang sedang berubah bukan hanya cuaca. Kita sedang belajar kembali menjadi manusia yang sadar bahwa bumi bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian dari diri kita sendiri.

Dan mungkin suatu hari nanti, ketika hujan kembali turun di Bali, kita tidak lagi hanya bertanya apakah jalan akan banjir. Kita akan bertanya apakah kita sudah cukup menjaga rumah yang sebenarnya sedang kita tinggali bersama. (AWJ/BB)

*) Pemimpin Redaksi Bicarabali.com yang juga dikenal sebagai jurnalis, penulis, esais, dan penyair.

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *