11 April 2026

Bali untuk ‘Healing’, Tapi Warganya Kelelahan

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K). Foto: Angga Wijaya

DENPASAR, bicarabali.com – Bali terus dipromosikan sebagai ruang pemulihan. Di berbagai platform digital, terutama Instagram, pulau ini tampil sebagai lanskap yang menenangkan, seperti yoga di tepi pantai, meditasi saat matahari tenggelam, hingga gaya hidup slow living yang tampak nyaris tanpa beban.

Narasi itu indah. Tapi ia juga menyisakan lubang. Sebab di balik citra Bali sebagai destinasi healing, tersimpan kenyataan yang jauh lebih kompleks, bahkan paradoksal. Ketika wisatawan datang untuk mencari ketenangan, sebagian warga lokal justru hidup dalam tekanan yang terus meningkat.

Jam kerja panjang di sektor hospitality bukan lagi pengecualian, melainkan norma. Senyum menjadi bagian dari pekerjaan, bahkan ketika tubuh kelelahan. Di saat yang sama, biaya hidup terus naik, sementara pendapatan sangat bergantung pada fluktuasi pariwisata.

Ketergantungan ini bukan tanpa risiko. Bali seperti menaruh terlalu banyak harapan pada satu sektor, dan ketika sektor itu goyah, dampaknya langsung terasa hingga ke dapur rumah tangga.

Burnout pada masyarakat Bali, khususnya yang bekerja di sektor pariwisata, tidak selalu disebabkan oleh pekerjaan fisik yang berat,” kata I Gusti Rai Putra Wiguna, psikiater dari Bali Mental Health Clinic.

Menurutnya, kelelahan mental justru sering muncul dari ritme hidup yang tidak pernah berhenti. “Musim ramai, ekspektasi tinggi, dan tuntutan untuk selalu tampil ramah bisa menciptakan stres kronis. Tubuh mungkin bisa beradaptasi, tetapi pikiran tidak selalu punya ruang untuk pulih,” ujarnya.

Temuan ini sejalan dengan data Riskesdas yang menunjukkan bahwa Bali termasuk provinsi dengan prevalensi gangguan kesehatan mental berat yang tinggi di Indonesia. Data ini sering luput dari sorotan, kalah oleh narasi pariwisata yang terus dipoles.

Padahal, angka-angka itu berbicara tentang manusia, bukan sekadar statistik. Fenomena ini semakin kompleks dengan hadirnya tekanan psikologis lain: social comparison stress. Setiap hari, warga lokal tidak hanya bekerja melayani wisatawan, tetapi juga “menonton” kehidupan mereka.

Di media sosial, Bali tampak seperti surga tanpa cela. Feed dipenuhi laut biru, senja sempurna, dan orang-orang yang terlihat hidup tanpa beban. Namun seperti diingatkan banyak ahli, apa yang tampil di media sosial hanyalah highlight, bukan realitas.

“Perbandingan sosial yang terus-menerus bisa memicu rasa tidak cukup, bahkan ketika seseorang sebenarnya sudah bekerja keras,” kata dr. Rai.

Tanpa disadari, muncul pertanyaan yang sederhana, tetapi mengganggu, yakni, mengapa hidup mereka terasa lebih ringan? Pertanyaan itu mungkin tidak pernah diucapkan, tetapi ia mengendap. Ia perlahan mengikis rasa syukur dan memperbesar tekanan batin.

Di titik ini, Bali menghadapi ironi yang sulit dihindari. Pulau yang dijual sebagai tempat untuk memperlambat hidup justru memaksa sebagian warganya untuk terus berlari. Mereka bekerja agar orang lain bisa beristirahat.

Dan di sinilah kritik perlu diarahkan. Selama ini, pembangunan pariwisata Bali cenderung berorientasi pada pertumbuhan, yakni jumlah kunjungan, tingkat hunian hotel, dan investasi. Namun, aspek kesejahteraan pekerja sering kali berada di pinggiran. Tidak banyak pembicaraan serius tentang jam kerja layak, jaminan kesehatan mental, atau stabilitas pendapatan bagi pekerja pariwisata.

Bali seolah didorong untuk terus menjadi panggung, tanpa cukup memikirkan aktor-aktor di balik layar. “Bali bukan hanya destinasi wisata. Ini adalah ruang hidup. Warga lokal bukan bagian dari dekorasi pariwisata. Mereka manusia yang juga butuh istirahat, butuh keseimbangan,” tegas dr. Rai

Pernyataan ini menjadi penting, terutama ketika kata “healing” telah berubah menjadi komoditas global. Retreat dijual, paket meditasi dipasarkan, dan ketenangan menjadi produk. Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama, healing untuk siapa?

Menurut dr. Rai, jika Bali ingin benar-benar menjadi destinasi berkelanjutan, maka paradigma harus bergeser. Tidak cukup hanya menjual keindahan alam dan budaya. Pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat perlu mulai berbicara lebih serius tentang kualitas hidup warga lokal.

Diversifikasi ekonomi, perlindungan tenaga kerja, hingga akses layanan kesehatan mental harus menjadi bagian dari agenda utama, bukan sekadar wacana tambahan. “Sebab tanpa itu, Bali berisiko menjadi tempat yang indah untuk dikunjungi, tetapi melelahkan untuk ditinggali,” kata dr. Rai.

Bali memang tetap indah. Tapi keindahan itu tidak boleh membuat kita menutup mata. Di balik lanskap yang menenangkan, ada kelelahan yang nyata.

“Dan mungkin, sudah saatnya kita mengakui, bahwa healing tidak seharusnya hanya menjadi hak bagi mereka yang datang sementara. Healing juga harus menjadi hak bagi mereka yang setiap hari menjaga Bali tetap hidup,” tutup dr. Rai. (AWJ/BB)

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *