Bangga Kiriman Uang, Lupa Kesehatan Mental Anak Kapal

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K). Foto: Angga Wijaya

DENPASAR, bicarabali.com – Kebanggaan banyak keluarga di Bali memiliki anak yang bekerja di kapal pesiar atau di luar negeri sering kali berfokus pada satu hal, yakni kiriman uang. Setiap bulan transfer masuk, setiap tahun pulang membawa oleh-oleh, dan status sosial keluarga pun dianggap naik kelas. Namun di balik kebanggaan itu, ada tekanan mental yang kerap tak terlihat.

Melalui unggahan edukasi di media sosialnya, dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K), psikiater Bali Mental Health Clinic, mengingatkan tentang sisi lain kehidupan para pekerja kapal dan pekerja migran asal Bali. Dalam salah satu materi visualnya bertajuk Generasi Sandwich Versi Global, ia menulis:

“Bangga punya anak kerja di kapal. Tapi siapa yang menjaga kesehatan mentalnya?”

Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa di luar Bali, mereka bekerja 10-12 jam. Namun di dalam kepala, mereka membawa beban yang tidak ringan, seperti biaya sekolah adik, cicilan rumah orang tua, kewajiban adat, hingga ekspektasi keluarga besar.

“Mereka bukan hanya anak. Mereka tulang punggung. Dan tulang punggung jarang boleh mengeluh,” tulis dr. Gusti Rai.

Fenomena ini disebut sebagai generasi sandwich versi global. Jika biasanya istilah generasi sandwich merujuk pada individu yang menanggung orang tua dan anak dalam satu waktu, maka dalam konteks pekerja kapal dan luar negeri, beban itu diperluas oleh jarak, budaya berbeda, serta tuntutan finansial lintas negara.

Dalam unggahan lain, dr. Gusti Rai mengangkat tema Tekanan yang Tak Terlihat. Ia menuliskan bahwa tekanan finansial kronis bisa memicu kecemasan, gangguan tidur, mudah tersulut emosi, burnout, hingga depresi tersembunyi.

Semua itu, menurutnya, sering berawal dari satu kalimat yang terus berputar di kepala: “Aku tidak boleh gagal.”

Kalimat sederhana itu, jika diulang tanpa jeda, bisa menjadi tekanan psikologis yang berat. Terlebih ketika seseorang merasa seluruh keluarga menggantungkan harapan kepadanya. Keberhasilan menjadi kewajiban, kegagalan terasa seperti aib.

Padahal, sebagaimana ditekankan dalam materi edukasinya, tidak semua yang terlihat kuat benar-benar baik-baik saja. “Jarang yang lihat tekanannya. Karena tidak semua yang terlihat kuat benar-benar baik-baik saja,” tulisnya.

Selain tekanan finansial, faktor isolasi emosional juga menjadi sorotan. Dalam unggahan bertema Isolasi Emosional, dr. Gusti Rai menyebut bahwa bekerja di kapal atau luar negeri berarti menghadapi budaya berbeda, dukungan sosial yang minim, serta tidak bisa pulang saat ada masalah di rumah.

Kondisi ini membuat banyak pekerja berada dalam situasi serba sulit; jauh dari keluarga, tetapi memikul tanggung jawab besar terhadap keluarga. Mandiri, tetapi sebetulnya membutuhkan dukungan emosional.

“Kuat bukan berarti kebal. Mandiri bukan berarti tidak butuh dukungan,” tulis dr. Gusti Rai.

Pesan ini relevan dengan realitas sosial di Bali, di mana bekerja di kapal pesiar atau ke luar negeri masih menjadi salah satu jalur mobilitas ekonomi yang populer. Di banyak desa, kisah sukses pekerja kapal menjadi inspirasi generasi muda. Namun diskusi tentang kesehatan mental mereka masih jarang muncul di ruang publik.

Edukasi yang dibagikan dr. Gusti Rai menjadi pengingat bahwa kesejahteraan finansial tidak selalu berjalan seiring dengan kesejahteraan psikologis. Kebanggaan keluarga seharusnya juga dibarengi dengan perhatian terhadap kondisi mental anak-anak yang bekerja jauh dari rumah.

Sebab di balik setiap kiriman uang dari tengah laut, ada manusia yang lelah, cemas, dan berusaha tetap tegar demi orang-orang yang dicintainya. (AWJ/BB)

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *