11 April 2026

Dini Hari Untuk Jengki | Sajak Angga Wijaya

Apa sebenarnya yang kau rasakan? 

Kesetiaan hewan melebihi manusia,

 yang malu disebut binatang.

Manusia, bisa jadi malaikat sekaligus

iblis, dalam waktu bersamaan.

Terlihat religius, tapi juga jahat.

Mungkin ada baiknya kita lebih percaya

pada hewan. Seperti kekasih suka memelihara

kucing, anjing, bahkan gajah. Kebun binatang

telah pindah ke lidah orang-orang; kata-kata

terucap tanpa berpikir dulu—ibarat memakan

bangkai saudara sendiri. Gosip menikam kita.

Kucingku pergi, setelah makan dan bercengkrama

denganku. Mungkin begitu juga dengan anjing-anjingmu.

Setia menjagamu, di rumah mungil tempatmu bertapa. 

Tak perlu memikirkan apakah nanti kita menikah atau tidak.

Perceraian jadi hal lumrah, sebab pernikahan hanyalah

selembar kertas tak bermakna. Cinta telah mati oleh ego.

Janji tinggallah janji—omong kosong di atas kitab. 

Nanti aku ingin ngopi bersamamu. Aku berpikir soal

kata “Kediri” yang engkau sampaikan. Kembali ke diri.

Guru kita sampaikan itu. Sumur kebijaksanaan abadi. 

Denpasar, 20 Februari 2026, 03:07 WITA 

Angga Wijaya, penyair asal Jembrana-Bali. Buku puisi terbarunya Meditasi Telepon Genggam, diterbitkan oleh penerbit Sonar Pustaka, Yogyakarta, Juli 2025. Selain penyair, ia juga jurnalis, esais, dan cerpenis.

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *