“Hujan sehari menghapus panas setahun. Berkhianat atas banyak hal. Kurang apa aku pada dirimu? Engkau mengecewakanku.”
Ayah pernah marah pada diriku saat remaja Dia pamanku yang mengasuhku sejak bayi. Bersama bibi, orang tua baik hati, seperti malaikat –- selamatkan aku dari kematian.
Aku tahu yang sebenarnya dari tetangga. Merundungku dengan ejekan menganggu. Aku lalu paham meskipun hati terguncang.
Hingga skizofrenia menjadi musibah diri. Usia 25. Kuliah tidak bisa aku selesaikan. Pulang ke kampung halaman, kembali ke keluarga asal —ibu dan ayah kandungku.
Adaptasi amat tidak mudah. Selalu terjaga di malam hari, tak bisa melanjutkan tidur. Obat bertahun-tahun aku minum. Takut jika tiba-tiba kekambuhan datang. Aku tak mau lagi dirawat di rumah sakit jiwa.
Ruangan berterali bersama ODGJ lainnya Saat haus, aku selalu meminum air keran. Disakiti atau menyakit, kemungkinan ada.
Bersiaga akan bahaya menghampiri. Halusinasi menghantui hari-hariku. Bahkan setelah belasan tahun berlalu Berdamai dengan bisikan-bisikan itu. Tak nyata namun terasa amat nyata.
Puisi selamatkan aku dari kegagalan Penulis muda telah terbitkan 13 buku Aku dikenal banyak orang, setidaknya itu mengembalikan kepingan berserak. Bersatu kembali dalam jiwa yang utuh.
Hujan di kota tempatku tinggal hanya sebentar. Hujan punya arti mendalam. Ia tak menghapus cuaca panas, seperti perkataan ayahku. Tiga tahun sudah aku tak pulang. –rindu ini begitu besar. Aku akan pulang, temui kenangan pada potret orang tua dan berdoa untuknya.
2024
Angga Wijaya, penyair asal Jembrana-Bali. Buku puisi terbarunya Meditasi Telepon Genggam, diterbitkan oleh penerbit Sonar Pustaka, Yogyakarta, Juli 2025. Selain penyair, ia juga jurnalis, esais, dan cerpenis.