Ilmu yang Disucikan di Hari Saraswati

Patung Dewi Saraswati di sebuah SMA di Badung, Bali. (Foto: Angga Wijaya)


Di Bali, ilmu pengetahuan tidak hanya dipandang sebagai alat untuk memahami dunia, tetapi juga sebagai sesuatu yang sakral. Ada hari khusus ketika pengetahuan diperlakukan seperti tamu suci yang datang ke rumah manusia: Hari Raya Saraswati.

Hari ini diperingati oleh umat Hindu setiap 210 hari sekali dalam siklus kalender Pawukon, tepatnya pada Saniscara Umanis Watugunung. Pada hari itu, orang-orang Bali memberi penghormatan kepada ilmu, buku, lontar, dan seluruh perangkat yang menjadi jalan pengetahuan. Di balik ritual yang tampak sederhana, tersembunyi sebuah pandangan hidup yang dalam: bahwa pengetahuan bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan sesuatu yang harus dijaga kesuciannya.

Dalam tradisi Hindu, hari ini dikaitkan dengan turunnya anugerah ilmu dari Dewi Saraswati, sosok yang melambangkan kebijaksanaan, seni, sastra, dan intelektualitas. Namun di Bali, pemaknaan terhadapnya tidak berhenti pada figur simbolik. Ia hadir dalam praktik sehari-hari: dalam cara orang memperlakukan buku, dalam cara guru mengajar, bahkan dalam cara seseorang menghormati kata-kata.

Menjelang Hari Saraswati, suasana di banyak rumah dan sekolah di Bali biasanya berubah. Buku-buku ditata rapi, tidak diletakkan sembarangan di lantai. Lontar-lontar kuno dibersihkan, komputer dan alat tulis kadang ikut “diheningkan” sejenak dari aktivitas kerja. Di beberapa tempat, orang-orang menaruh sesajen kecil di atas buku sebagai bentuk penghormatan.

Ada keheningan yang berbeda pada hari itu. Seperti dunia sedang menarik napas, memberi ruang bagi pengetahuan untuk “beristirahat” dari kegaduhan penggunaan sehari-hari.

Esok harinya, perayaan dilanjutkan dengan Banyu Pinaruh, yaitu ritual pembersihan diri di laut, sungai, atau sumber air. Jika Saraswati adalah penghormatan terhadap ilmu, maka Banyu Pinaruh adalah simbol penyucian diri agar manusia siap menerima ilmu itu kembali dengan hati yang bersih.

Di balik seluruh rangkaian ini, tersimpan gagasan penting: ilmu tidak netral jika tidak disertai kesadaran moral. Pengetahuan bisa menjadi cahaya, tetapi juga bisa menjadi kabut jika digunakan tanpa kebijaksanaan. Karena itu, dalam pandangan tradisional Bali, ilmu tidak boleh dipisahkan dari etika.

Di era digital seperti sekarang, makna Hari Saraswati terasa semakin relevan, meski bentuknya berubah. Kita hidup dalam banjir informasi. Setiap detik, layar ponsel kita memproduksi pengetahuan baru—atau setidaknya sesuatu yang tampak seperti pengetahuan. Namun tidak semua informasi membawa kebijaksanaan. Tidak semua data membentuk pemahaman.

Di tengah situasi itu, Hari Saraswati seperti mengingatkan kembali bahwa yang perlu disucikan bukan hanya buku, tetapi juga cara kita berpikir. Bukan hanya alat belajar, tetapi juga niat untuk memahami.

Di banyak sekolah di Bali, Hari Saraswati sering dirayakan dengan upacara sederhana. Guru dan siswa datang dengan pakaian adat, membawa sesajen, dan memanjatkan doa. Tidak ada kemeriahan berlebihan. Yang ada justru suasana reflektif. Seolah-olah sekolah berubah menjadi ruang kontemplasi, bukan sekadar tempat transfer pengetahuan.

Di rumah-rumah, orang tua mengajarkan anak-anak untuk tidak sembarangan meletakkan buku. Ada pesan halus yang diwariskan: bahwa ilmu harus dihormati sebelum ia dipahami. Ini mungkin terdengar simbolik, tetapi simbol sering kali bekerja lebih dalam daripada penjelasan panjang.

Menariknya, dalam masyarakat modern yang serba cepat, praktik semacam ini memberi jeda. Ia memaksa manusia untuk berhenti sejenak dari konsumsi informasi yang tak henti. Sehari tanpa “mengganggu” buku atau alat belajar menjadi semacam latihan kesadaran: bahwa tidak semua hal harus selalu digunakan, dikonsumsi, atau diproduksi.

Di titik ini, Hari Saraswati bukan hanya ritual agama, tetapi juga kritik halus terhadap cara hidup modern. Sebuah pengingat bahwa manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga penghormatan terhadap pengetahuan itu sendiri.

Lebih jauh lagi, perayaan ini juga menyentuh aspek identitas budaya Bali. Di tengah arus globalisasi, tradisi seperti Saraswati menjadi jangkar yang menjaga keseimbangan antara modernitas dan spiritualitas. Bali tidak menolak ilmu modern, tetapi menempatkannya dalam kerangka yang lebih luas: kerangka etika, kesucian, dan harmoni.

Karena itu, Hari Saraswati tidak pernah kehilangan relevansinya. Ia terus hidup, bukan hanya sebagai kalender upacara, tetapi sebagai cara pandang. Cara memandang bahwa ilmu adalah cahaya yang harus dijaga agar tidak berubah menjadi api yang membakar tanpa kendali.

Pada akhirnya, Hari Saraswati mengajarkan satu hal sederhana namun dalam: bahwa belajar bukan hanya soal menambah pengetahuan, tetapi juga soal membersihkan diri agar mampu menerima kebijaksanaan. Dan mungkin, dalam dunia yang semakin bising oleh informasi, pelajaran ini justru menjadi semakin penting untuk diingat. (BB/AI)

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *