ADA satu keputusan kecil yang sering berdampak besar, yang mengubah seluruh arah hidup seseorang, yaitu, PERGI. Pergi dari lingkungan lama, pergi dari cara hidup yang itu-itu saja, pergi dari cara berpikir yang diwariskan sejak kecil. Mereka mengubah cara melihat dunia. Bahkan sampai mengubah domisili.
Banyak orang lahir dalam keterbatasan. Bukan hanya keterbatasan uang, tapi juga keterbatasan kemungkinan. Lingkungan yang sama setiap hari. Cerita hidup yang selalu berulang.
Standar yang tidak pernah berubah. Di titik itu jika ada orang-orang yang mulai gelisah, bukan karena mereka tidak bersyukur, tapi karena mereka mulai melihat bahwa “hidup seharusnya bisa lebih dari ini.” Itulah tanda seorang perintis lahir.
Perintis tidak selalu punya modal besar. Justru merka tidak punya apa-apa, terjerat dalam kemiskinan. Bahkan lebih dalam keyakinan yang sulit dijelaskan, bahwa hidup tidak bisa diubah. Kemiskinan sudah menjadi garis tangan.
Mereka mulai mengambil jarak. Dari lingkungan yang membatasi, pergaulan yang stagnan, bahkan dari pola pikir keluarganya sendiri. Ini bukan keputusan yang mudah. Karena setiap jarak yang diciptakan, selalu ada harga yang harus dibayar, rasa kesepian.
Pada fase awal, perubahan belum dilihat. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pengakuan. Yang ada hanya kerja yang belum menghasilkan, keputusan yang belum terbukti benar, dan keraguan terhadap kapasitasnya.
Sementara lingkungan lama, kehidupan lama tetap berjalan seperti biasa. Teman-teman lama masih di tempat yang sama, obrolan masih itu-itu saja, cara berpikir yang tidak banyak berubah. Dan perlahan, jarak itu bukan lagi soal fisik Tapi soal frekuensi hidup.
Perintis mulai fokus. Apa yang dulu terasa penting, mulai ditinggalkan. Apa yang dulu ramai, mulai disaring. Lingkaran pertemanan mengecil. Waktu menjadi lebih berharga. Energi tidak lagi dibagi ke semua arah.
Bukan karena sombong. Bukan karena merasa lebih baik. Tapi karena mereka sadar, bahwa “Aku tidak punya kemewahan untuk hidup berleha-leha”. Di titik ini, banyak yang salah paham. Perintis sering terlihat lebih diam, lebih sibuk, dan seakan menjaga jarak.
Padahal yang terjadi bukan menjauh. Mereka tidak menjauhkan diri, tapi mereka berusaha mendekat pada tujuan. Mereka menjauh untuk menjaga api tetap menyala.
Namun, tetap ada sisi yang jarang dibicarakan. Kadang mereka rindu obrolan ringan tanpa beban. Rindu masa di mana hidup tidak sekompleks sekarang. Tapi mereka juga tahu, mereka tidak bisa kembali sepenuhnya ke sana.
Karena begitu seseorang mengubah cara berpikirnya, ia tidak bisa lagi “tidak peduli”. Ia sudah melihat kemungkinan lain. Dan itu mengubah segalanya.
Perintis hidup di dua dunia. Satu kaki masih terhubung dengan masa lalu, satu kaki lagi melangkah ke masa depan yang belum pasti. Di tengah-tengah itu, mereka belajar satu hal penting, yakni, “tidak semua orang akan mengerti perjalanan ini”.
Dan itu tidak apa-apa. Karena pada akhirnya, perintis bukan sedang mencari pengakuan. Mereka sedang membangun sesuatu. Sesuatu yang mungkin belum bisa dinikmati hari ini, tapi akan berarti besar di masa depan. Untuk dirinya, keluarganya, dan untuk generasi setelahnya.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika hasilnya mulai terlihat, orang-orang akan berkata, “Beruntung sekali hidupnya.” Padahal mereka tidak melihat bagian terpentingnya, yakni keberanian untuk berubah.
Memang perintis tidak selalu harus kesepian, Tapi mereka hampir selalu berjalan lebih dahulu. Dan dalam dunia yang penuh keraguan, berani berjalan sendiri sudah merupakan bentuk keberanian yang langka. ***
*) Penulis adalah pengusaha asal Jembrana yang telah lama bermukim di Kuta Selatan, Badung, Bali. Alumnus Program Studi Sosiologi Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka.

