Iman Barker dan Ervina Nurlaily, dua penyair muda Bali. (Foto: Dok. Pribadi)
Puisi Imam Barker SYA'BAN
Ya Rahman
Ya Rahim
Lahir batinku
berserah;
bahagia dengan Nur
Aku bersujud
sebelum Ramadhan tiba
dan merekah di langit-langitMu
Sya'ban
bulan seribu berkah
masih datang
untukku.
RAMADHAN
1/
jiwa ini ,
bergetar rindu
tak ada habis habisnya
do'a do'a merekah
mengalir keseluruh darah
batinku,tetap istiqomah!
malam larut
dalam lantunan ayat suci Al-Quran
beraroma bunga surgawi
semakin dalam
dzikirku kembali
padaMu
menjelma aksara
2/
Langit telah lebur
menjadi cahaya lampu-lampu neon
Di halaman musholla dan masjid
anak-anak asyik bermain
perang sarung, lempar peci
Sedang ;
anak anak lainnya sibuk tarawih dan tadarus
Iramanya tak pernah surut
ada yang menyimak, melepas syukur
Tertidur pulas
ada yang melamun, karena rindu keluarga yang jauh
Malam semakin larut
Dari sudut-sudut gubuk tua itu
Anak-anak mempersiapkan sahur
merayakan petasan dan kembang api
Berkeliling kampung
membangunkan orang-orang dengan lagu religi
Ramadhan berkah
begitu banyak cinta
di langit-langitNya
LAILATUL QADAR
Aku berpijak pada malam
yang langitnya begitu cerah
khusyu', hening dan damai
Semua makhluk merayakannya
Semua makhluk merindukannya
Malam seribu bulan ;
Cinta kasih begitu terasa
di mana-mana
ITIKAF
Di pojok pintu serambi masjid itu
Ia berserah ;
Mengetuk-ngetuk dadanya
menyebut namaMu
Dalam gelap hidup hitam jelaga
yang begitu sesak dan kusut!
TAHAJJUD
Di sepertiga malam
aku terbangun
Merelakan segala tubuh
merebahkan jiwa yang jauh
dari kasih dan rinduNya
yang utuh
Di sepertiga malam
air mataku jatuh
dari setiap sujud dan doa-doaku!
/Bali, 2026/
Puisi Ervina NurlailyNUR
Di beranda dan lorong-lorong yang bergumam
tak ada suara yang menyahut
dinding-dinding bersedih
sebab sang gadis tak pernah hidup
Sepanjang waktu ia hanya tidur
menatap langit dan menangis
meminta Tuhan mengusap pipinya
membawanya kembali pada Nur
Doa-doa melangit
Bersama tubuh dingin dan pupus
Ia hilang terang
dan mati bersama malam
RAMADHAN
Kepada Fuad aku kembali
dari yang tidak dilihat
dari yang tidak didengar
menawan satu tutur Tuhan
Al-Aziz, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir…
munajatku kepadaNya
hati tunduk bersujud
doa bernafas di ubun-ubunku
Doa
Bernafas
Di ubun-ubunku
LENTERA SURGA
Aku ingin lentera surga
penyelamat manusia dari binar dunia
yang merusak mata
penghangat jiwa-jiwa yang patuh
Aku ingin lentera surga
yang hadirnya merekah di hati
dan batinku yang hina
Aku ingin lentera surga
yang tak sebatas pinta
sebab imanku aku berdoa
memohon ampunan berkelip tanpa jeda
TUHAN
Tuhan, aku bisu
dan lumpuh tak berdaya
tak satupun kata terucap
tak satupun tubuh bergerak
tak ada satupun.
Tuhan, aku rapuh
jiwa separuh dan hati terengah
mataku tak berair mata
Lidahku?
Jemariku?
tak kuasa menengadah
Tuhan,
Aku jengah
Aku pasrah
ORANG MATI
Orang-orang mati
di bawah jembatan
di sungai
di kebun
di laut
Orang-orang mati
di ujung harapan
sebelum pagi berdoa
mengharap mukjizat
Orang-orang mati
di atas tanah sajadah
tak ada kuburan dan peti
Hanya neraka, menanti.
Jembrana, Bali /2026/Tentang PenyairImam Barker, lahir di Denpasar, Bali dan lulusan pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo, Jawa Timur. Ia menulis puisi sejak sekolah menengah dan memiliki latar belakang santri dan seorang deklamator. Hal itu terlihat dari penampilan-penampilannya yang selalu menggunakan berbagai macam emosi dan menampilkan impuls-impuls dramatik dalam gaya baca puisinya.
Puisi-puisinya dimuat di berbagai media, serta buku antologi puisi bersama, seperti Saron, Tutur Batur, Semesta Jiwa, Balur Bilur, dan Puisi untuk Palestina. Sejak setahun lalu ia menetap di Negara, Jembrana, Bali. Menginisiasi berdirinya Jembrana English Club, komunitas belajar bahasa Inggris yang banyak mendapat respon positif oleh pemuda-pemudi di Jembrana .
Ervina Nurlaily, istri dari Imam Barker. Lahir di Malang, Jawa Timur, 21 Februari 1999. Pendidikan terakhir ia tempuh di UIN Malang jurusan Arsitektur Ia menulis puisi sejak SMA dan sering mengikuti kegiatan sastra dan seni. Saat ini ia menetapl di Negara, Jembrana, Bali.