Ketika Soekarno Ingin Memiliki Bom Atom

OKTOBER 1964 dunia terguncang. Sebuah ledakan di gurun terpencil di Xinjiang menandai lahirnya kekuatan baru, China resmi menjadi negara nuklir. Bukan sekadar bom atom, tapi ini adalah sebuah deklarasi. Dunia Ketiga bisa setara secara kemampuan dengan dunia Barat.

Di Jakarta, gema ledakan itu tidak berhenti sebagai berita luar negeri. Ia menjelma menjadi sebuah imajinasi.

Di kepala Soekarno, bom atom bukan hanya senjata, tapi sebuah simbol. Sebuah bahasa kekuasaan yang selama ini hanya dimiliki oleh negara superpower. Dan Sukarno, seperti biasa, tidak pernah puas hanya menjadi penonton perubahan sejarah. 

Imajinasi itu masuk akal. Sebelum china sukses uji coba bom atom, Indonesia sebenarnya sudah melangkah lebih dulu, tapi dengan wajah yang berbeda.

Tahun 1950-an hingga awal 1960-an, Indonesia aktif dalam program “Atoms for Peace” yang dipelopori presiden Amerika Serikat, Dwight D. Eisenhower. Reaktor riset TRIGA di Bandung dibangun, ilmuwan dilatih, dan nuklir diposisikan sebagai alat pembangunan. 

Badan Tenaga Atom Nasional, disingkat BATAN. dibentuk tahun 1964. Tetapi sesungguhnya kegiatan yang berhubungan dengan tenaga atom di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1954. Ketika itu, pemerintah RI membentuk panitia negara untuk menyelidiki radioaktivitas. Pada tahun 1958, panitia negara itu ditingkatkan menjadi Lembaga Tenaga Atom (LTA). Lembaga inilah yang diubah menjadi Badan Atom Nasional.

Namun sejarah tidak selalu bergerak lurus. Tiba-tiba hubungan Indonesia dengan Barat memburuk, terutama setelah konfrontasi Malaysia dan retorika anti-imperialisme mengeras, nuklir pun berubah makna, dari pembangunan menuju ideologi. 

Ketika China berhasil menguji bom atom pada 1964, itu bukan hanya pencapaian teknologi. Itu adalah kemenangan psikologis bangsa China.  Dalam pikiran Soekarno, “Jika China bisa, mengapa Indonesia tidak?”

Puncak dari mimpi itu diutarakan oleh Presiden Soekarno pada 24 juli 1965. Ia mengumumkan bahwa Indonesia akan memproduksi dan memiliki bom atom sendiri. “Sudah kehendak Tuhan, Indonesia akan segera memproduksi bom atomnya sendiri,” ujarnya. 

Pernyataan itu tidak detail, tidak teknis, tapi menggetarkan dan cukup membuat Amerika Serikat meradang. Beberapa laporan akademik Barat, misalnya studi Robert M. Cornejo, menyebutkan kemungkinan adanya pembicaraan tidak resmi antara Jakarta dan Beijing.

Konon, ada spekulasi bahwa China bisa membantu Indonesia memproduksi bom atom, bahkan uji coba bisa dilakukan “atas nama Indonesia”. Lebih jauh desas-desus mengatakan Direktur LTA saat itu, Siwabessy, kabarnya diminta Sukarno untuk menjajaki kemungkinan itu, dengan kode sandi Project 200.

Apakah ini nyata atau hanya imajinasi? Di sinilah sejarah mulai berbaur dengan spekulasi.  Tidak ada dokumen resmi yang membuktikan bahwa Indonesia benar-benar memiliki kesepakatan kerja sama pengembangan bom atom dengan China. Tidak ada fasilitas pengayaan uranium. Tidak ada desain senjata, dantidak ada ilmuwan yang mengaku mengerjakannya.

Namun justru di situlah keanehannya. Mengapa Soekarno berbicara seolah mimpi itu nyata? Sebagian analis Barat melihat ini sebagai imajinasi yang masih prematur. Tapi ada tafsir lain yang lebih tersembunyi dan lebih menarik. Perkataan soekarno itu bagian dari perang psikologis atau psychological warfare (psywar)?

Dalam konteks Perang Dingin saat itu, Amerika Serikat khawatir dominasi Asia Tenggara akan jatuh ke tangan komunisme dan Indonesia berada di tengah pusara itu Pernyataan tentang pembuatan bom atom oleh Soekarno bisa dibaca sebagai sinyal ke negara-negara Barat, bahwa jangan remehkan Indonesia. Dan ke dalam negeri Soekarno seakan berkata bahwa revolusi masih berjalan. Revolusi belum selesai. Soekarno belum “habis”.

1965 bukan tahun yang stabil saat itu bagi pemerintahan Presiden soekarno. Ekonomi Indonesia diambang keruntuhan, inflasi meroket dan kelangkaan barang terjadi. ketegangan politik meningkat, karena tarik menarik kekuatan antara militer, Partai Komunis Indonesia, dan kalangan nasionalis.

Dalam situasi seperti ini, retorika nuklir menjadi semacam “pelarian atau bahkan sebuah pengalihan”. Semacam retorika politik di tengah rapuhnya fondasi bangsa.  Dan mungkin, ini yang sering luput dari pembacaan, Soekarno tidak sedang membangun bom atom. Ia sedang membangun kepercayaan kepada publik, bahwa Indonesia besar, kuat, dan tak bisa ditundukkan.

Lalu sejarah berbelok tajam. Peristiwa Gerakan 30 September 1965 mengguncang seluruh struktur kekuasaan. Soekarno melemah. Militer naik. Arah negara berubah drastis. Ambisi nuklir, jika memang pernah lebih dari sekadar retorika, menghilang tanpa jejak. Indonesia pasca 1965 memilih jalan lain, yaitu, stabilitas, pembangunan ekonomi, dan integrasi dengan sistem global.

Di sinilah pertanyaan besar mengusik, “Andai Indonesia benar-benar memiliki bom atom saat itu, apakah Indonesia menjadi negara maju saat ini?

Sejarah ternyata memberi jawaban yang tidak nyaman. Lihatlah India dan Pakistan, keduanya memiliki nuklir, tapi masih bergulat dengan masalah struktural. Bandingkan dengan Jepang atau Singapura, tanpa nuklir, tapi mereka menjadi pusat ekonomi dunia.

Kemungkinan jika Indonesia punya bom atom saat itu, kawasan Asia Tenggara tidak akan damai, tidak stabil, dan kecurigaan dominan dalam hubungan ASEAN. Bom atom bisa membuat negara ditakuti. Tapi tidak otomatis membuat rakyat sejahtera.

Pada akhirnya, yang paling menarik dari kisah ini adalah Indonesia sampai saat ini tidak memiliki bom atom. Tapi Indonesia pernah berani membayangkan dirinya sebagai kekuatan dunia dan berhasrat memiliki bom atom. 

Dan dalam sejarah bangsa-bangsa, imajinasi seringkali datang lebih dulu daripada realitas. Walau mimpi soekarno itu tidak terwujud, namun mimpinya bisa diteruskan oleh generasi-generasi setelahnya. Seperti gema sebuah ledakan. ***


*) Penulis adalah pengusaha asal Jembrana yang telah lama bermukim di Kuta Selatan, Badung, Bali. Alumnus Program Studi Sosiologi Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka.

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *