Oleh: Redaksi Bicarabali.com
Ada slogan yang lahir dari sejarah tetapi menolak menjadi masa lalu. “Make Love Not War” adalah salah satunya. Kalimat sederhana ini bukan sekadar jargon budaya pop era 1960-an melainkan jeritan moral sebuah generasi yang lelah melihat dunia dipenuhi perang ketakutan nuklir dan kekerasan politik. Hari ini ketika konflik global kembali meningkat dan manusia semakin mudah saling membenci di ruang digital slogan itu terasa seperti gema lama yang kembali relevan.
Slogan “Make Love Not War” muncul pada puncak pergolakan sosial di Amerika Serikat dan Eropa Barat pada dekade 1960-an. Dunia saat itu berada dalam bayang-bayang Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Ancaman perang nuklir terasa nyata sementara Perang Vietnam menjadi simbol paling konkret dari kekerasan geopolitik modern. Ribuan anak muda dikirim ke medan perang yang bahkan tidak sepenuhnya mereka pahami.
Di tengah situasi tersebut lahirlah gerakan kontra budaya atau counterculture. Kaum muda menolak nilai konservatif generasi sebelumnya yang dianggap gagal menjaga perdamaian dunia. Mereka memilih jalur berbeda melalui musik seni kebebasan berekspresi solidaritas dan cinta sebagai bentuk perlawanan politik.
Slogan “Make Love Not War” pertama kali populer dalam demonstrasi anti perang di Amerika Serikat sekitar tahun 1965. Kalimat ini bukan ajakan romantis semata. “Love” di sini adalah simbol empati solidaritas manusia dan penolakan terhadap kekerasan sebagai cara menyelesaikan konflik. Ia menjadi bahasa universal perlawanan tanpa senjata.
Figur yang paling melekat dengan semangat ini tentu saja John Lennon. Bersama Yoko Ono Lennon mengubah aktivisme menjadi pertunjukan seni publik. Aksi Bed In for Peace pada 1969 di mana keduanya berdiam di tempat tidur hotel sambil berbicara tentang perdamaian kepada media dunia mungkin tampak absurd bagi sebagian orang. Namun justru di situlah kekuatannya. Mereka melawan perang bukan dengan kemarahan melainkan dengan simbol cinta dan humor.
Lagu “All You Need Is Love” dan kemudian “Give Peace a Chance” menjadi semacam himne global bagi gerakan anti perang. Musik berubah menjadi alat diplomasi kultural. Generasi muda menemukan identitas baru bahwa menjadi politis tidak harus identik dengan kekerasan.
Namun slogan ini juga tidak lepas dari kritik. Sebagian kalangan menilai gerakan hippie terlalu naif utopis bahkan melarikan diri dari realitas politik yang kompleks. Dunia tetap dipenuhi perang setelah era 1960-an berakhir. Vietnam tetap berdarah konflik Timur Tengah terus berlangsung dan perlombaan senjata nuklir tidak benar benar berhenti.
Tetapi mungkin kekuatan “Make Love Not War” memang bukan pada kemampuannya menghentikan perang secara langsung. Nilainya terletak pada perubahan cara berpikir manusia tentang konflik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern jutaan anak muda secara kolektif menolak perang bukan karena takut mati melainkan karena percaya bahwa perang itu sendiri tidak bermoral.
Slogan itu menandai pergeseran penting dari patriotisme militer menuju humanisme global.Kini lebih dari setengah abad kemudian dunia tampak kembali berada dalam siklus kecemasan yang mirip. Perang regional terus muncul polarisasi politik meningkat dan media sosial mempercepat penyebaran kebencian. Jika dahulu propaganda perang disebarkan negara melalui televisi hari ini kebencian dapat diproduksi oleh siapa saja melalui layar ponsel.
Ironisnya teknologi yang seharusnya mendekatkan manusia justru sering memperlebar jarak emosional. Kita hidup di era komunikasi tanpa empati. Orang lebih mudah menyerang daripada memahami. Dalam konteks ini “Make Love Not War” menemukan relevansi barunya.
Makna “love” hari ini tidak lagi harus dipahami secara romantik atau hippie dalam arti sempit. Ia bisa berarti kemampuan mendengar sebelum menghakimi berdialog sebelum memusuhi dan merawat kemanusiaan di tengah perbedaan identitas agama maupun pilihan politik.
Dunia modern mungkin tidak lagi dipenuhi demonstran berambut panjang dengan gitar akustik di jalanan seperti era John Lennon. Tetapi kebutuhan akan pesan perdamaian justru semakin mendesak. Kita menyaksikan bagaimana konflik global berdampak langsung pada krisis ekonomi migrasi hingga kecemasan kolektif masyarakat dunia.
Generasi Lennon percaya bahwa budaya dapat melawan kekerasan. Bahwa lagu puisi dan seni mampu menjadi bahasa universal yang melampaui batas negara. Hari ini pesan itu tetap berlaku. Bahkan mungkin lebih penting karena peperangan tidak selalu hadir dalam bentuk senjata. Ia juga hidup dalam ujaran kebencian disinformasi dan permusuhan sosial sehari hari.
Editorial ini bukan nostalgia terhadap masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa sejarah pernah memberi alternatif cara hidup memilih cinta sebagai sikap politik.
“Make Love Not War” bukan solusi instan bagi konflik dunia. Namun ia adalah kompas moral yang mengingatkan manusia pada pertanyaan paling sederhana sekaligus paling sulit apakah kita ingin terus menang dengan saling menghancurkan atau belajar bertahan dengan saling memahami.
Di tengah dunia yang kembali gaduh mungkin pesan generasi John Lennon masih layak kita dengarkan ulang bukan sebagai slogan lama melainkan sebagai tugas yang belum selesai. (BB)

