MINGGU SASTRA | Puisi Tan Lioe Ie – Lexicon | Pohon, Burung, Para Pejalan

Tan Lioe Ie. (Foto: Phalayasa Sukmakarsa)


LEXICON

Malam musim dingin
Durban yang asing
Benua asal moyang manusia

Di lorong hotel
orang-orang bergegas
Tak ada tegur sapa
Kantuk dan lelah
tak berteman dengan basa-basi.

"Rambut yang indah," pujimu
"Lexicon," lanjutmu
Kantuk terhalau
Kulihat bintang 2 musim
di matamu
Bibirmu bunga 3 musim
Rambutmu jeram 4 musim
pesona lintas benua
pesona tak umum
Aku suka
Aku suka
yang tak umum padamu.

Lexicon, tak kutemukan
kata-kata
dalam Lexicon umum
menjelaskan keindahanmu
Kata-kata hilang dari benakku.

Kenangan tak selalu dijaga waktu
Bagai tulisan di atas kertas jagung
hancur diterpa hujan
Perempuan idaman dari benua lain
menjauh dengan perahu
usangnya
meninggalkan dermagaku
Di dermagaku perahumu kini merapat.

Saat welcome party
Di sela gelak tawa,
denting gelas,
Lexicon tak kutemukan
Peri laut Durbankah
menyembunyikanmu? Atau
Kaulah peri itu
peri cantik tanpa tongkat
sihir,
memikat lelaki negeri 2 musim.
Waktu merambat malas
di atas kapal wisata
dengan jangkar mencengkeram dasar laut
serupa cengkeraman jemari saat bercumbu
Aku mabuk
Meski alun gelombang begitu lembut
serupa ayunan Ibu,
saat menina bobo bayinya
Aku mabuk
cahaya bintang 2 musim
bunga 3 musim
jeram 4 musim
dan laut yang menggelegak dalam diri.

Malam-malam di kamar hotel,
film triple X
dialog tentang brain drain, capital flight,
juga tentang Bob Marley.

Dari jendela kaca hotel,
pada lantai sekian,
kerlip cahaya lampu kapal,
tampak indah.
Tapi, tetap saja kau,
Lexicon,
dengan pesona tak umum,
dengan kilau mata 2 musimmu,
lebih memukauku.

Samar kuingat pesona perempuan benua lain
yang telah menjauh
serupa daun ditiup angin
meninggalkan ranting musim gugur.

Jika tiba aku di negeriku, nanti
Dan waktu akan menjadi kelak
Mungkin kita jumpa lagi
sebagai manusia baru
Mungkin juga tidak
Mungkin hanya kenangan
Mencoba gigih bertahan
Menjagamu sebagai manusia kini.

Akankah kau semakin kabur
Serupa kabut pegunungan negeriku
Disibak siang tak berawan?
Aku tak tahu
Sungguh aku tak tahu, Lexicon.

Kenangan
serupa awan
bisa berlalu ditiup angin
bisa menetes menjadi hujan
diuapkan matahari
bisa menjadi awan lagi.


Pohon, Burung, Para pejalan


Malam. Hanya ada satu pohon tegak dan rimbun. Pohon-pohon lain ditinggalkan daun-daun.

Burung-burung hitam. Letih. Burung-burung diwarnai malam. Tahu kemana pulang. Menembus gelap. Menuju pohon rimbun yang tunggal. Tempat pulang yang niscaya bagi burung-burung. Terlindung hujan. Terlindung terik, jika siang. Pelepas lelah sayap-sayap.

Burung-burung hitam. Datang dari segala penjuru. Menuju satu tujuan.

Para pejalan. Berat memanggul kitab. Letih. Melintasi berbagai jalan. Dari segala penjuru. Bertengkar tentang jalan. Bertengkar arah angin. Bertengkar arah yang ditunjukkan bintang. Bertengkar dan bertengkar. Lupa tujuan. Lupa melangkah. Letih kaki. Letih mulut. Letih perasaan. Berat melangkah. Duduk berlama-lama. Berbaring berlama-lama. Malas melangkah. Nikmat bertengkar. Berdebat. Pikiran berputar lebih cepat dari roda mobil balap. Letih pikiran. Mumet. Semakin lupa dan berat melangkah. Waktu bergegas. Waktu tak mau menunggu. Waktu tak bertanya, alasan kaki malas.

Burung-burung hitam letih
Para pejalan letih
Burung-burung sampai di tujuan
Para pejalan masih mempertengkarkan jalan. Mungkin perlu meminjam sayap. Terbang. Udara luas. Tak bersekat. Tak penuh duri, seperti jalan para pejalan.

Burung-burung tak bertengkar. Segala penjuru angin--udara bergerak, tak bersekat--. Dari penjuru mana burung-burung datang, tak melahirkan tengkar.

Burung-burung
Sampai di tujuan
Para pejalan
Masih bertengkar.

*Diinspirasi foto yang dibagikan teman Facebook, Ida Ayu Tri Kencanawati


Tentang Penyair

Tan Lioe Ie, lahir dan tumbuh dewasa di Denpasar. Menamatkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Menulis esei, cerpen, puisi, dan pegiat puisi-musik. Tan Lioe Ie kerap diundang ke berbagai acara sastra di Indonesia maupun luar negeri.

Buku puisinya: Kita Bersaudara, Malam Cahaya Lampion, YIN, Ekphrasis, dan Sekolah Tikus. Buku cerpennya: Tubuh yang Tak Patuh Seluruh, album puisi-musik: Kuda Putih, berisi 8 puisi Umbu Landu Paranggi dan 2 puisi Tan Lioe Ie, akustik, Tan Lioe Ie dkk. Exorcism, berisi 9 puisi Tan Lioe Ie, band Bali PuisiMusik. Kuda Putih remastered, berisi 3 puisi Umbu Landu Paranggi dan 3 puisi Tan Lioe Ie, band Bali PuisiMusik.

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *