Lekatkan terus matamu di layar, tulislah kata-kata menarik beserta foto rupawan. Agar semua orang tahu, engkau masih ada dan disebut sebagai manusia maju.
Tengoklah cerita dari kawan-kawanmu, sedang apa, dimana, lalu engkau bersedih karena hidupmu menyedihkan, tidak bahagia seperti orang lain tampak di layar ponsel.
Engkau mungkin tahu, media sosial tidak lebih dari sebuah etalase. Penuh tipu-daya, kepalsuan. Mereka hanya menampilkan hal-hal baik saja. Hanya penyair dan seniman berani jujur pada diri dan juga dunia. Mereka bercerita tentang diri sendiri; baik dan buruk. Kepolosan mereka begitu indah!
Keculasan tak menyukai mereka. Kejujuran dianggap berbahaya, pada masa kebohongan begitu dipuja-puja dan sangat dipercaya. Delusi menjangkiti kita semua.
Semenjak pagi hingga dini hari, ponsel pintar mengajari kita semua cara untuk hidup di zaman penuh kegilaan. Tak ada yang memujimu jika mempunyai buku baru. Mereka senang jika engkau punya ponsel baru: itu rumah bagi orang-orang modern sekarang.
2024
Angga Wijaya, penyair asal Jembrana-Bali. Buku puisi terbarunya Meditasi Telepon Genggam, diterbitkan oleh penerbit Sonar Pustaka, Yogyakarta, Juli 2025. Selain penyair, ia juga jurnalis, esais, dan cerpenis.