11 April 2026

Satu Abad Pariwisata Bali

Tak banyak yang menyadari, pada tahun 2028 nanti, Bali akan genap seratus tahun memasuki era pariwisata modern. Penanda yang layak disebut dalam sejarah pariwisata bali adalah berdirinya Bali Hotel pada 1928 (kini bernama Inna Bali Heritage Hotel, Denpasar) bersamaan dengan kedatangan wisatawan yang dibawa oleh kapal milik perusahaan pelayaran kolonial Belanda, Koninklijke Paketvaart-Maatschappi atau KPM.

Jika dikupas lebih dalam sejarah pariwisata Bali memiliki pola yang menarik, bahwa, pariwisata bali memiliki beberapa lapisan sejarah, yang mana ia bangkit justru setelah masa-masa kelam dan krisis.

Awal kemunculan pariwisata Bali tidak bisa dilepaskan dari penaklukan kolonial Belanda terhadap Bali pada awal abad ke-20. Dua peristiwa berdarah menjadi titik balik sejarah Bali, yakni, Puputan Badung tahun 1906 dan Puputan klungkung tahun 1908.

Peristiwa ini mengguncang opini publik Eropa. Laporan tentang bunuh diri massal para bangsawan dan rakyat Bali memicu kritik internasional terhadap pemerintah kolonial Belanda. Untuk meredakan tekanan dan kritik tersebut, pemerintah kolonial mengambil langkah restrukturisasi, mereka mengambil kebijakan melindungi Bali sebagai pulau budaya.

Modernisasi industri tidak didorong secara agresif seperti di Jawa. Sebaliknya, adat, ritual, dan seni Bali justru dipertahankan dan dilestarikan. Kebijakan ini dikenal sebagai kebijakan “Baliseering”, sebuah program yang menjadikan Bali sebagai “museum hidup” kebudayaan atau Balinisasi bali.

Dari sinilah fondasi pariwisata Bali mulai terbentuk. Setelah itu, pada dekade 1920–1930-an, Bali mulai dipromosikan secara aktif ke dunia Barat. Seniman dan peneliti asing ikut memperkenalkan pulau ini kepada dunia, semisal Walter Spies dan Miguel Covarrubias, untuk menyebut beberapa tokoh yang terkenal.

Melalui buku, lukisan, dan fotografi, Bali digambarkan sebagai pulau yang penuh seni, ritual, dan kehidupan desa yang harmonis. Citra ini menyebar luas dan membentuk mitos Bali sebagai “The Last Paradise.”

Lapisan sejarah kedua adalah pasca kemerdekaan Indonesia. Pariwisata Bali sempat mengalami stagnasi panjang. Situasi berubah drastis setelah tragedi politik nasional pada tahun 1965–1966, yakni peristiwa politik yang menelam banyak korban, dan episentrum peristiwa ini salah satunya terbesar di Pulau Dewata.

Peristiwa ini meninggalkan luka sosial yang mendalam di berbagai daerah, termasuk Bali. Namun seperti pada awal abad ke-20, Bali kembali bangkit setelah masa kelam itu. Pada dekade 1970-an pemerintah Orde Baru mulai membangun pariwisata Bali secara besar-besaran.

Tonggak penting pembangunan tersebut antara lain: pembangunan Ngurah Rai International Airport dan Nusa Dua Tourism Development Complex. Proyek-proyek ini menjadi fondasi gelombang kedua pariwisata Bali. Kebangkitan pariwisata Bali pada era 1970-an ini tidak hanya berkaitan dengan kebijakan nasional Indonesia, namun juga terjadi dalam konteks geopolitik global.

Asia Tenggara pada masa itu baru saja keluar dari konflik besar seperti Perang Vietnam. Banyak negara Barat mulai melihat kawasan ini bukan lagi sebagai wilayah konflik, tetapi sebagai wilayah pertumbuhan ekonomi dan destinasi wisata baru.

Indonesia, yang pada masa pemerintahan Suharto mulai membuka diri terhadap investasi internasional, menjadikan Bali sebagai pintu masuk bagi pariwisata global. Lembaga internasional seperti World Bank bahkan terlibat dalam perencanaan dan pemberian bantuan utang kepada pembangunan kawasan wisata Nusa Dua sebagai proyek percontohan pengembangan pariwisata modern.

Dengan kata lain, kebangkitan pariwisata Bali pada 1970-an juga merupakan bagian dari restrukturisasi ekonomi global setelah era konflik Perang Dingin.

Sekarang memasuki abad ke-21, pariwisata Bali memasuki fase baru yang menjadi lapisan ketiga. Globalisasi, teknologi digital, dan mobilitas internasional membuat Bali semakin terhubung dengan dunia.

Platform digital, seperti transportasi dan travel agent online, penerbangan murah, dan budaya kerja jarak jauh atau digital nomaden, menjadikan Bali tidak hanya sebagai destinasi liburan, tetapi juga sebagai tempat tinggal sementara bagi pekerja global, kreator, dan komunitas internasional.

Fase ini membawa tantangan baru berupa tekanan terhadap lingkungan, kemacetan, dan perubahan sosial yang cepat.

Satu Abad Berkah atau Beban?

Seratus tahun dari 1928, Bali telah menjadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di dunia. Pariwisata membawa dampak ekonomi yang besar. Ia membuka peluang usaha, memperluas akses pendidikan, dan menghubungkan Bali dengan jaringan global.

Namun keberhasilan itu juga membawa tantangan yang semakin nyata. Air tanah menurun di berbagai wilayah. Sampah menjadi persoalan serius. Kemacetan lalu lintas  semakin terasa.

Budaya yang dulu hidup secara organik kini sering hadir sebagai pertunjukan yang harus berlangsung setiap hari demi memenuhi permintaan pasar wisata. Karena itu, memasuki abad kedua pariwisata Bali, arah masa depan harus semakin jelas.

Pariwisata tidak cukup hanya mendatangkan wisatawan. Ia harus memberikan kesejahteraan nyata bagi masyarakat Bali dan alam Bali.  Pariwisata Bali harus menjadi pariwisata yang berpihak kepada masyarakat lokal dan alamnya; menciptakan peluang usaha, memperkuat ekonomi desa, dan memberi ruang bagi generasi muda untuk menjadi pelaku utama. Dengan kata lain, pariwisata Bali harus untuk orang Bali.

Di saat yang sama, masyarakat Bali juga tidak bisa berhenti pada romantisme masa lalu. Dunia sedang berubah dengan cepat; teknologi digital, mobilitas global, ekonomi kreatif, dan gaya hidup baru terus berkembang. Generasi muda Bali memiliki peluang besar untuk beradaptasi dengan perubahan ini.

Jika melihat sejarahnya, pariwisata Bali beberapa kali bangkit justru setelah masa-masa paling sulit dalam sejarahnya, Dari tragedi penaklukan kolonial pada awal abad ke-20., Dari luka sosial pasca 1965, dan sekarang tantangan teknologi dan digitalisasi. Setiap kali Bali menghadapi krisis, pulau ini menemukan cara untuk bangkit kembali.

Itulah sebabnya perayaan satu abad pariwisata Bali pada 2028 seharusnya tidak hanya menjadi peringatan sejarah. Ia juga menjadi refleksi sekaligus momentum optimisme, bahwa Bali akan terus maju, pariwisata Bali akan tetap menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat dan kelestarian alam bali.  Bahwa orang Bali akan tetap terbuka serta adaptif menghadapi perubahan dunia.

Jika 1928 adalah tahun Bali membuka pintunya kepada dunia, maka abad kedua pariwisatanya harus menjadi masa ketika Bali melangkah lebih percaya diri dengan satu keyakinan sederhana, bahwa masa depan pariwisata Bali harus tetap berada di tangan orang Bali sendiri. (*)

*) Penulis adalah pengusaha asal Jembrana yang telah lama bermukim di Kuta Selatan, Badung, Bali. Alumnus Program Studi Sosiologi Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka.

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *