11 April 2026

Suara dari Barat Bali Itu Bernama Pondal

Tokoh Pondal dari seniman muda asal Jembrana-Bali, I Gede Adi Pranata. (Foto: FB/Pondal DePapua)


Oleh: Redaksi bicarabali.com

Tawa biasanya datang tanpa kita pikirkan. Ia pecah, sebentar ramai, lalu hilang seperti angin lewat. Tetapi kadang, di balik tawa yang terdengar ringan, ada sesuatu yang sedang dipertahankan diam-diam. Sebuah logat. Sebuah kampung. Atau ingatan tentang asal-usul yang tidak ingin benar-benar pergi.

Di sebuah panggung bondres, seorang lelaki muncul dengan rias wajah menyerupai kebo. Geraknya canggung, sengaja dilebihkan, seperti orang yang baru belajar percaya diri. Penonton mulai tertawa bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimat pertama.

Bukan hanya karena lucu. Tetapi karena cara ia berbicara terasa dekat. Terlalu dekat bahkan. Seperti mendengar tetangga sendiri bercakap di warung kopi.

Ia dikenal dengan nama Pondal. Nama itu kini cukup akrab di berbagai panggung hiburan Bali dan media sosial. Namun di balik karakter jenaka itu, ada sosok I Gede Adi Pranata, lelaki kelahiran 15 Desember 1994 dari Jembrana, wilayah Bali Barat yang sering terasa berada di pinggir cerita besar tentang Bali.

Jembrana jarang menjadi pusat perhatian. Ia lebih sering disebut sepintas, lewat Jegog atau Mekepung, lalu dilupakan kembali oleh hiruk-pikuk Bali selatan. Mungkin karena itu, logat Negara terdengar begitu jujur ketika keluar dari mulut Pondal. Ia tidak berusaha terdengar rapi. Ia hanya terdengar seperti dirinya sendiri.

Dan justru di situlah penonton merasa dekat. Tidak banyak yang tahu bahwa ia dulu pemuda pendiam. Berbicara di depan kelas saja membuatnya gugup. Ia bukan tipe anak yang sejak kecil ingin menjadi pelawak atau seniman panggung. Dunia hiburan datang tanpa rencana, hampir seperti kebetulan yang berulang.

Pertemuannya dengan seni dimulai dari gamelan Jegog saat sekolah dasar. Bunyi bambu yang berat dan bergetar panjang itu mengajarinya sesuatu yang sederhana, bahwa suara menjadi berarti ketika dimainkan bersama orang lain. Ia belajar mendengar sebelum belajar tampil.

Bondres baru masuk dalam hidupnya ketika kuliah. Pada semester tiga, seorang sahabat sekaligus mentor, I Wayan Gede Dedi Merta, melihat potensi yang belum ia sadari sendiri. Dorongan itu tidak datang sebagai nasihat besar, hanya ajakan mencoba.

Nama Pondal lahir dari ruang ujian drama tari kampus. Ia memerankan tokoh punakawan, karakter rakyat biasa yang bebas berbicara apa saja. Nama itu melekat tanpa direncanakan, seperti identitas yang perlahan menemukan bentuknya.

Sejak saat itu, panggung menjadi ruang baru baginya. Yang menarik, Pondal tidak pernah mencoba mengubah logatnya. Ia tetap menggunakan bahasa daerah Jembrana, dengan kata awak dan iban yang terdengar akrab bagi orang Bali Barat tetapi terasa unik bagi penonton dari daerah lain.

Di era ketika banyak orang berusaha berbicara dengan bahasa yang dianggap universal, pilihan itu terasa hampir melawan arus. Bahasa daerah sering hilang bukan karena dilarang, melainkan karena perlahan dianggap tidak relevan. Anak muda menggantinya dengan bahasa yang lebih netral, lebih modern, lebih mudah diterima. Tanpa sadar, yang ikut menghilang adalah cara memandang dunia.

Pondal memilih tetap tinggal di bahasanya sendiri. Ia pernah mengatakan bahwa panggung bondres adalah caranya ngayah. Bukan dengan pidato tentang pelestarian budaya, melainkan dengan terus berbicara menggunakan bahasa ibunya. Dari satu pentas ke pentas lain, dari tawa kecil hingga panggung besar.

Sesederhana itu cara kebudayaan bertahan. Riasan wajahnya yang menyerupai sapi atau kerbau terinspirasi dari tradisi Mekepung, simbol kebanggaan masyarakat Jembrana. Humor yang ia bawakan lahir dari keseharian, dari pengalaman hidup yang dikenali penonton sebagai bagian dari diri mereka sendiri.

Di luar panggung, ia bekerja sebagai guru seni budaya. Di ruang kelas, ia tidak sedang menjadi figur viral. Ia menjadi penghubung antara masa lalu dan generasi yang tumbuh di zaman berbeda. Ia percaya budaya tidak cukup dirayakan sesekali. Budaya harus diajarkan agar tetap bernapas.

Popularitas datang pelan. Media sosial memperluas namanya, menghadirkan penonton baru yang mungkin belum pernah menyaksikan bondres sebelumnya. Namun ia tetap memegang prinsip lama Bali, Ede ngaden awak bisa , merasa diri belum mampu agar terus belajar.

Sikap itu membuat langkahnya tetap tenang. Perjalanan Pondal menunjukkan bahwa kebudayaan tidak selalu diselamatkan oleh program besar atau slogan resmi. Kadang ia bertahan karena seseorang memilih tidak meninggalkan logat kampungnya sendiri.

Seorang pemuda yang dulu takut berbicara di depan kelas kini membuat banyak orang tertawa. Tetapi mungkin yang sebenarnya ia lakukan lebih sunyi dari sekadar menghibur. Ia menjaga agar sebuah suara dari Bali Barat tetap terdengar di tengah perubahan yang bergerak cepat.

Dan setiap kali penonton tertawa, yang hidup bukan hanya lelucon. Yang ikut bertahan adalah bahasa ibu, kampung halaman, dan ingatan tentang Bali yang masih berbicara dengan suara yang sederhana.

Suara itu bernama Pondal.

Denpasar, 26 Februari 2026

[Disarikan dari artikel tentang Pondal, yang dibuat oleh redaksi Radio Singaraja FM.]

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *