Tidak Semua Internet Mati Saat Nyepi di Bali

Ilustrasi pemaknaan Hari Raya Nyepi. (Gambar dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan/AI)

Oleh: Redaksi Bicarabali.com

DALAM imajinasi banyak orang, Hari Raya Nyepi adalah hari ketika Bali benar-benar berhenti. Jalanan kosong, bandara tutup, lampu dipadamkan, dan dalam beberapa tahun terakhir, internet pun disebut-sebut ikut dimatikan. Narasi ini berulang setiap tahun, diperkuat oleh media sosial dan pemberitaan yang cenderung menyederhanakan realitas.

Namun, benarkah semua internet mati saat Nyepi di Bali? Faktanya tidak sesederhana itu. Yang dimatikan adalah internet seluler, sementara jaringan Wi-Fi tetap hidup. Ini bukan sekadar detail teknis, melainkan kunci untuk memahami bagaimana Bali mengelola perjumpaan antara tradisi dan modernitas.

Selama Nyepi, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia meminta operator seluler untuk menonaktifkan layanan data. Operator seperti Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XL Axiata menjalankan instruksi ini selama 24 jam. Akibatnya, akses internet melalui kartu SIM tidak dapat digunakan.

Di titik inilah banyak orang berhenti memahami. Internet dianggap padam sepenuhnya, seolah Bali benar-benar terputus dari dunia digital. Padahal, di balik itu, jaringan Wi-Fi di rumah, hotel, kantor, bahkan kafe, tetap berjalan seperti biasa.

Lalu mengapa tidak dimatikan sekalian? Jawaban pertama tentu bersifat teknis. Internet seluler berada dalam kendali terpusat operator, sehingga bisa dimatikan secara serentak di satu wilayah. Sementara Wi-Fi tersebar dalam jutaan titik, dikelola oleh berbagai penyedia layanan dan individu. Mematikan semuanya bukan hanya rumit, tetapi juga berisiko mengganggu sistem vital seperti rumah sakit, perbankan, hingga layanan darurat.

Namun, jika hanya berhenti pada alasan teknis, kita akan kehilangan lapisan makna yang lebih penting.

Nyepi bukanlah proyek pemadaman total, melainkan praktik pengendalian diri. Ia tidak bertujuan menciptakan ketiadaan absolut, tetapi menghadirkan kesadaran kolektif. Dalam konteks ini, mematikan internet seluler sudah cukup untuk meredam keramaian digital di ruang publik.

Internet seluler adalah ruang bersama. Di sanalah percakapan massal terjadi, informasi menyebar dengan cepat, dan hiruk-pikuk digital mencapai puncaknya. Media sosial, video viral, perdebatan publik, semuanya bergantung pada konektivitas yang instan dan luas.

Ketika jaringan ini dimatikan, yang berhenti bukan hanya akses, tetapi juga denyut keramaian kolektif.

Sebaliknya, Wi-Fi lebih bersifat privat. Ia tidak menciptakan kegaduhan publik dalam skala yang sama. Mengakses internet dari dalam rumah tidak otomatis melahirkan riuh sosial. Ia lebih personal, lebih terbatas, dan dalam banyak kasus, tidak terlihat.

Di sinilah kebijakan ini menemukan keseimbangannya. Bali tidak memilih pendekatan ekstrem dengan mematikan seluruh jaringan. Sebaliknya, Bali memilih langkah yang cukup untuk menciptakan efek sosial tanpa merusak sistem yang lebih besar. Ini menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus bertabrakan dengan teknologi. Keduanya bisa saling menyesuaikan.

Kita sering melihat modernitas sebagai kekuatan yang menggerus tradisi. Namun dalam praktik Nyepi, yang terjadi justru sebaliknya. Tradisi mampu mengarahkan cara teknologi digunakan, bahkan menentukan kapan ia harus berhenti sejenak.

Tentu, keputusan untuk tetap menyalakan Wi-Fi juga membuka ruang perdebatan. Apakah ini bentuk kompromi yang melemahkan makna Nyepi? Ataukah justru bentuk kebijaksanaan yang realistis?

Jawabannya mungkin tidak tunggal. Bagi sebagian orang, kehadiran Wi-Fi bisa dianggap celah. Ia memungkinkan orang tetap terhubung, tetap mengakses hiburan, bahkan tetap aktif di dunia digital, meski dalam skala terbatas. Dalam pandangan ini, keheningan menjadi tidak sepenuhnya utuh.

Namun bagi yang lain, justru di situlah nilai Nyepi diuji. Ketika akses masih ada, tetapi tidak digunakan, keheningan menjadi pilihan, bukan paksaan. Ia lahir dari kesadaran, bukan dari keterbatasan teknis.

Di tengah dunia yang semakin terkoneksi, pilihan seperti ini menjadi semakin langka. Kita hidup dalam sistem yang mendorong keterhubungan tanpa henti. Notifikasi datang tanpa jeda, informasi mengalir tanpa saring, dan perhatian kita terus diperebutkan. Dalam kondisi seperti itu, mematikan internet seluler selama sehari adalah langkah kecil yang memiliki makna besar.

Ia mengingatkan bahwa konektivitas bukanlah takdir, melainkan pilihan. Editorial ini tidak hendak memperdebatkan apakah Wi-Fi seharusnya ikut dimatikan atau tidak. Yang lebih penting adalah memahami bahwa Nyepi bukan tentang teknologi itu sendiri, melainkan tentang bagaimana manusia memposisikan dirinya terhadap teknologi.

Tidak semua internet mati saat Nyepi di Bali. Tetapi mungkin, yang lebih penting adalah apakah kita mampu mematikan dorongan untuk selalu terhubung. Sebab pada akhirnya, keheningan tidak diciptakan oleh jaringan yang dimatikan, melainkan oleh kesadaran yang dihidupkan. (BB)

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *