Apa sebenarnya yang kau rasakan?
Kesetiaan hewan melebihi manusia,
yang malu disebut binatang.
Manusia, bisa jadi malaikat sekaligus
iblis, dalam waktu bersamaan.
Terlihat religius, tapi juga jahat.
Mungkin ada baiknya kita lebih percaya
pada hewan. Seperti kekasih suka memelihara
kucing, anjing, bahkan gajah. Kebun binatang
telah pindah ke lidah orang-orang; kata-kata
terucap tanpa berpikir dulu—ibarat memakan
bangkai saudara sendiri. Gosip menikam kita.
Kucingku pergi, setelah makan dan bercengkrama
denganku. Mungkin begitu juga dengan anjing-anjingmu.
Setia menjagamu, di rumah mungil tempatmu bertapa.
Tak perlu memikirkan apakah nanti kita menikah atau tidak.
Perceraian jadi hal lumrah, sebab pernikahan hanyalah
selembar kertas tak bermakna. Cinta telah mati oleh ego.
Janji tinggallah janji—omong kosong di atas kitab.
Nanti aku ingin ngopi bersamamu. Aku berpikir soal
kata “Kediri” yang engkau sampaikan. Kembali ke diri.
Guru kita sampaikan itu. Sumur kebijaksanaan abadi.
Denpasar, 20 Februari 2026, 03:07 WITA
Angga Wijaya, penyair asal Jembrana-Bali. Buku puisi terbarunya Meditasi Telepon Genggam, diterbitkan oleh penerbit Sonar Pustaka, Yogyakarta, Juli 2025. Selain penyair, ia juga jurnalis, esais, dan cerpenis.

