Oleh: Angga Wijaya*
SETIAP tahun, menjelang Hari Raya Nyepi, Bali memasuki masa yang penuh gairah kreativitas. Di banjar-banjar, para pemuda bekerja siang-malam membuat ogoh-ogoh. Patung raksasa yang menggambarkan bhuta kala ini merupakan simbol energi negatif yang harus dinetralkan sebelum memasuki Nyepi. Selama ini ogoh-ogoh dipahami terutama sebagai bagian dari ritual budaya. Ia dipandang sebagai ekspresi seni tradisi sekaligus ruang kreativitas anak-anak muda Bali. Namun jarang disadari, di balik ogoh-ogoh sebenarnya tersembunyi sebuah potensi besar, yaitu potensi ekonomi kreatif.
Diskusi tentang ogoh-ogoh selama ini sering berada pada dua kutub. Ada yang melihatnya sebagai warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Ada pula yang mengkritik biaya pembuatannya yang dianggap terlalu mahal. Tetapi jarang ada yang melihat ogoh-ogoh dari sudut pandang ekonomi. Padahal jika dicermati, ogoh-ogoh sebenarnya membentuk sebuah ekosistem ekonomi kecil yang hidup setiap tahun di hampir seluruh desa di Bali.
Proses pembuatan ogoh-ogoh sendiri melibatkan banyak pihak. Ia tidak pernah lahir dari satu orang saja. Ogoh-ogoh adalah hasil kerja kolektif. Ada perancang konsep, pemahat, tukang bambu, pembuat rangka, pelukis, hingga tim yang mengerjakan mekanisme gerak jika ogoh-ogoh tersebut dibuat dinamis. Setiap tahap membutuhkan tenaga, keterampilan, dan tentu saja biaya.
Bahan-bahan yang digunakan juga tidak sedikit. Bambu untuk rangka, styrofoam untuk membentuk tubuh, kain, cat, resin, hingga sistem mekanik dan listrik jika ogoh-ogoh dibuat bergerak. Semua itu dibeli dari pasar-pasar lokal. Dengan kata lain, sejak tahap produksi saja sudah terjadi perputaran ekonomi di tingkat masyarakat.
Di beberapa daerah di Bali, biaya pembuatan satu ogoh-ogoh bisa mencapai belasan bahkan puluhan juta rupiah. Pemerintah daerah juga mulai memberikan dukungan dana kreativitas bagi sekaa teruna agar tradisi ini tetap hidup. Dukungan ini bukan hanya untuk menjaga budaya, tetapi juga secara tidak langsung menggerakkan aktivitas ekonomi di tingkat lokal.
Dampak ekonomi ogoh-ogoh semakin terlihat ketika festival atau lomba ogoh-ogoh digelar. Ribuan orang datang menonton. Pedagang makanan bermunculan di sekitar lokasi acara. Penjual minuman, mainan anak-anak, hingga pedagang aksesori ikut meramaikan suasana. Jasa parkir juga ikut hidup. Dalam beberapa festival ogoh-ogoh yang digelar pemerintah daerah, perputaran uang bahkan bisa mencapai miliaran rupiah hanya dalam beberapa hari.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ogoh-ogoh tidak hanya menjadi karya seni yang diarak lalu dibakar setelah prosesi selesai. Ia juga menjadi magnet keramaian yang memicu aktivitas ekonomi masyarakat. Dalam skala yang lebih luas, ogoh-ogoh bahkan memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata.
Bagi wisatawan mancanegara, parade ogoh-ogoh adalah tontonan yang sangat unik. Patung-patung raksasa yang diarak di malam hari, diiringi dentuman gamelan baleganjur, menciptakan suasana dramatis yang sulit ditemukan di tempat lain di dunia. Tidak sedikit wisatawan yang sengaja datang ke Bali menjelang Nyepi hanya untuk menyaksikan arak-arakan ogoh-ogoh.
Sayangnya potensi ini belum sepenuhnya digarap secara serius. Parade ogoh-ogoh masih lebih banyak dipandang sebagai perayaan lokal, bukan sebagai festival budaya yang dipromosikan secara global. Padahal jika dikelola dengan baik, ogoh-ogoh bisa menjadi agenda wisata internasional seperti karnaval di berbagai negara.
Kita bisa membayangkan festival ogoh-ogoh berskala besar yang dikurasi secara profesional. Karya-karya terbaik dari berbagai desa ditampilkan dalam satu panggung budaya. Festival ini dilengkapi dengan pameran seni, pertunjukan musik tradisional, serta bazar UMKM. Tradisi tetap berjalan, tetapi nilai ekonominya juga tumbuh.
Selain itu, ogoh-ogoh sebenarnya memiliki potensi ekonomi turunan yang belum banyak digarap. Karakter ogoh-ogoh sangat kaya secara visual. Wajah-wajah raksasa dengan ekspresi dramatis itu dapat dikembangkan menjadi desain merchandise, miniatur suvenir, ilustrasi buku anak-anak, bahkan karakter animasi.
Jika negara lain mampu mengangkat makhluk mitologi mereka menjadi bagian dari industri budaya populer, Bali sebenarnya memiliki peluang yang sama melalui ogoh-ogoh. Kreativitas para seniman muda Bali telah membuktikan bahwa ogoh-ogoh terus berkembang, baik dari segi bentuk, teknik, maupun imajinasi visualnya.
Namun tentu saja ada tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara nilai ritual dan potensi ekonominya. Ogoh-ogoh lahir dari konteks spiritual dalam rangkaian upacara Tawur Kesanga. Ia bukan sekadar tontonan. Jika terlalu didorong menjadi komoditas pariwisata, ada kekhawatiran nilai sakralnya akan memudar.
Karena itu, pengembangan ogoh-ogoh sebagai potensi ekonomi harus dilakukan dengan bijaksana. Prinsipnya bukan mengkomersialkan ritual, tetapi mengembangkan kreativitas yang lahir dari tradisi. Pendekatan seperti festival seni budaya, pameran ogoh-ogoh, atau kompetisi kreatif dapat menjadi jalan tengah yang sehat.
Pada akhirnya, ogoh-ogoh mengajarkan satu hal penting tentang Bali. Tradisi bukanlah sesuatu yang beku. Ia hidup, bergerak, dan terus menemukan bentuk-bentuk baru. Di tangan generasi muda, ogoh-ogoh tidak hanya menjadi simbol perlawanan terhadap energi negatif, tetapi juga ruang ekspresi seni dan kreativitas.
Dan jika kita melihatnya dengan lebih jernih, di balik patung-patung raksasa yang diarak menjelang malam Nyepi itu sebenarnya ada sebuah ekonomi yang bekerja diam-diam. Sebuah ekonomi berbasis budaya, gotong royong, dan kreativitas. Ekonomi yang selama ini ada di depan mata, tetapi baru belakangan mulai disadari. (BB)
*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi bicarabali.com

