Doktor Difabel Cum Laude di UNAIR, Kisah Dr Rozi Jadi Sorotan

Dr. Rozi, S.Pi., M.Biotech, dosen Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (Foto: Istimewa)

SURABAYA, bicarabali.com – Perjalanan hidup Dr Rozi SPi MBiotech menjadi perhatian dalam Wisuda ke-261 Universitas Airlangga. Dosen Departemen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR itu berhasil meraih gelar doktor dengan predikat cum laude dan IPK sempurna 4.00 di Program Studi S3 Sains Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR.

Rozi menuntaskan studi doktoralnya dalam waktu 3 tahun 11 bulan. Di tengah proses tersebut, ia tetap aktif menjalankan tridharma perguruan tinggi sebagai dosen, mulai dari mengajar, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga publikasi ilmiah internasional.

Selama menempuh pendidikan doktoral, Rozi juga mencatat produktivitas akademik yang tinggi. Ia menerbitkan dua artikel internasional bereputasi Scopus Q1 dan tiga artikel Scopus lainnya. Selain itu, ia aktif menjadi editor jurnal internasional bereputasi Scopus.

Namun capaian akademik itu bukan satu-satunya hal yang membuat kisahnya menarik perhatian. Rozi adalah penyandang disabilitas daksa dengan amputasi kedua kaki.

“Pendidikan adalah hak semua orang. Keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti belajar dan bertumbuh,” ungkap Rozi.

Rozi lahir dan besar di Desa Markanding, Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara, putra pasangan Musli dan Mastinah.

Keluarganya hidup sederhana dengan menggantungkan penghasilan dari berjualan ikan secara eceran. Dari lingkungan itulah Rozi mengaku belajar tentang kerja keras dan ketekunan.

“Ayah saya mungkin tidak memahami apa itu jurnal internasional atau disertasi doktoral, tetapi beliau mengajarkan kerja keras, ketulusan, dan semangat untuk tidak menyerah,” tuturnya.

Perjalanan menempuh pendidikan doktoral tidak selalu mudah bagi Rozi. Ia mengaku sempat mengalami fase berat ketika harus menerima perubahan besar dalam hidupnya sebagai penyandang disabilitas.

Meski demikian, ia perlahan belajar menerima keadaan dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk terus berkembang.

“Saya belajar bahwa manusia tidak selalu diuji untuk dijatuhkan, tetapi kadang diuji untuk menemukan versi terkuat dari dirinya,” ujarnya.

Menurut Rozi, keluarga menjadi salah satu sumber kekuatan terbesar selama menjalani studi. Ia mengaku kerap mengingat doa sang ibu ketika menghadapi rasa lelah.

“Kadang ketika saya merasa lelah, saya ingat bahwa mungkin ada doa ibu yang tidak pernah putus menyebut nama saya,” katanya.

Selain dukungan keluarga, Rozi juga merasakan lingkungan akademik yang suportif selama kuliah di FKH UNAIR. Ia mengaku mendapatkan dukungan dari pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, hingga rekan-rekan kampus.

“Yang paling saya rasakan bukan hanya fasilitas fisiknya, tetapi bagaimana saya diterima sebagai bagian dari lingkungan akademik secara setara,” jelasnya.

Menurut Rozi, kampus inklusif tidak hanya berbicara tentang fasilitas seperti ramp, lift ramah kursi roda, atau akses gedung yang mudah dijangkau. Lebih dari itu, inklusivitas juga menyangkut empati dan penerimaan sosial terhadap penyandang disabilitas.

“Kadang akses paling mahal bagi penyandang disabilitas bukan lift atau ramp, tetapi rasa diterima sebagai manusia yang setara,” katanya.

Dalam momentum Wisuda ke-261, Rozi berharap program Airlangga Inclusive Learning (AIL) terus berkembang menjadi pusat layanan disabilitas yang adaptif dan kolaboratif.

Ia juga berharap semakin banyak penyandang disabilitas memiliki keberanian melanjutkan pendidikan tinggi.

“Saya percaya setiap orang punya kesempatan untuk tumbuh dan berprestasi. Kadang yang dibutuhkan hanya ruang yang menerima mereka untuk berkembang,” pungkasnya. (WIJ/BB)

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *