DENPASAR, bicarabali.com – Rasa tidak percaya diri adalah pengalaman yang hampir pernah dialami setiap orang. Ia bisa muncul diam-diam, tumbuh perlahan, lalu tanpa disadari menghambat banyak aspek kehidupan. Mulai dari hubungan sosial, pekerjaan, hingga cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Menurut Psikiater Bali Mental Health Clinic, dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K), langkah pertama yang paling penting untuk mengatasi rasa tidak percaya diri adalah mengenali sumbernya. Tanpa memahami akar masalah, upaya membangun kepercayaan diri sering kali hanya bersifat sementara.
“Banyak orang ingin langsung percaya diri, tapi lupa bertanya dari mana rasa tidak percaya diri itu berasal,” ujarnya saat ditemui pada Rabu (25/3/2026) di Denpasar.
Luka Lama Membentuk Cara Pandang Diri
Rasa tidak percaya diri tidak muncul begitu saja. Dalam banyak kasus, ia terbentuk sejak awal kehidupan, terutama dari lingkungan terdekat seperti keluarga. Kritik yang terus-menerus, komentar negatif, atau ekspektasi yang terlalu tinggi dapat membentuk keyakinan bahwa diri tidak cukup baik.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini bisa membawa “suara kritik” itu hingga dewasa. Setiap kesalahan kecil terasa seperti kegagalan besar. Setiap perbandingan dengan orang lain memperkuat keyakinan bahwa dirinya selalu tertinggal.
“Kalau sejak kecil kita sering dikritik, kita jadi terbiasa melihat diri sebagai orang yang salah atau kurang,” jelasnya.
Namun, sumber rasa tidak percaya diri tidak selalu berasal dari masa kecil. Ia juga bisa muncul dari pengalaman tertentu dalam hidup yang meninggalkan jejak emosional yang kuat.
Misalnya, seseorang yang pernah mengalami kecelakaan bisa kehilangan kepercayaan diri untuk mengemudi. Atau seseorang yang pernah gagal dalam pekerjaan bisa merasa tidak mampu mengulang kesuksesan.
Pengalaman-pengalaman seperti ini sering disebut sebagai trauma. Tidak selalu dalam bentuk besar, tetapi cukup kuat untuk mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Belajar Kembali Percaya Diri
Kabar baiknya, rasa percaya diri bukan sesuatu yang statis. Ia bisa dipelajari kembali. Sama seperti rasa tidak percaya diri yang terbentuk melalui proses, kepercayaan diri juga bisa dibangun melalui proses yang sama.
Menurut dr. Rai Wiguna, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mulai membangun kembali kepercayaan diri.
Langkah pertama adalah menciptakan lingkungan yang mendukung. Lingkungan sosial memiliki peran besar dalam membentuk cara seseorang melihat dirinya. Teman-teman yang memahami, tidak menghakimi, dan memberikan dukungan positif dapat membantu memperbaiki citra diri.
“Pilih orang-orang yang bisa memberi kita energi positif, bukan yang justru memperkuat rasa tidak percaya diri,” katanya.
Lingkungan yang sehat tidak selalu berarti harus sempurna. Yang terpenting adalah adanya ruang untuk diterima, didengar, dan dihargai.
Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Salah satu kebiasaan yang paling sering merusak kepercayaan diri adalah membandingkan diri dengan orang lain. Di era media sosial, kebiasaan ini semakin sulit dihindari. Orang cenderung melihat pencapaian orang lain dan merasa dirinya tertinggal.
Padahal, perbandingan seperti ini sering kali tidak adil. Setiap orang memiliki latar belakang, perjalanan, dan tantangan yang berbeda.
Daripada membandingkan diri dengan orang lain, dr. Rai Wiguna menyarankan untuk mulai membandingkan diri dengan versi diri sendiri di masa lalu.
“Fokus pada perkembangan diri sendiri. Hari ini lebih baik dari kemarin, itu sudah cukup,” ujarnya.
Perubahan kecil yang konsisten jauh lebih bermakna daripada pencapaian besar yang instan. Dengan cara ini, seseorang bisa melihat kemajuan yang nyata tanpa terbebani oleh standar orang lain.
Selain perbandingan sosial, fokus yang terlalu besar pada hasil juga dapat memicu rasa tidak percaya diri. Ketika seseorang hanya menilai dirinya dari hasil akhir, kegagalan kecil bisa terasa sangat menyakitkan.
Sebaliknya, jika fokus diarahkan pada proses, setiap langkah memiliki nilai. Setiap usaha menjadi bagian dari pembelajaran.
“Kalau kita hanya melihat hasil, kita mudah kecewa. Tapi kalau kita fokus pada proses, kita belajar menghargai usaha kita sendiri,” jelasnya.
Pendekatan ini membantu seseorang membangun hubungan yang lebih sehat dengan dirinya sendiri. Ia tidak lagi hanya melihat sukses atau gagal, tetapi juga melihat perjalanan yang telah dilalui.
Meski berbagai upaya sudah dilakukan, ada kalanya rasa tidak percaya diri tetap sulit diatasi. Dalam kondisi seperti ini, mencari bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah yang bijak.
Psikiater, psikolog klinis, atau perawat jiwa dapat membantu menggali lebih dalam akar masalah, sekaligus memberikan strategi yang lebih terarah.
“Kalau sudah mengganggu fungsi sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional,” kata dr. Rai Wiguna.
Bantuan profesional tidak selalu berarti terapi jangka panjang. Dalam banyak kasus, beberapa sesi konsultasi sudah cukup untuk membantu seseorang memahami dirinya dan menemukan cara yang tepat untuk bangkit.
Membangun Hubungan yang Lebih Sehat dengan Diri Sendiri
Pada akhirnya, kepercayaan diri bukan hanya tentang bagaimana seseorang tampil di depan orang lain. Ia lebih dalam dari itu. Ia adalah tentang bagaimana seseorang berbicara pada dirinya sendiri, bagaimana ia menerima kekurangan, dan bagaimana ia menghargai proses hidupnya.
Rasa tidak percaya diri sering kali membuat seseorang terlalu keras pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa setiap orang memiliki kelemahan. Ia lupa bahwa kegagalan adalah bagian dari kehidupan.
Dengan mengenali sumber rasa tidak percaya diri, seseorang bisa mulai memahami bahwa apa yang ia rasakan bukanlah sesuatu yang muncul tanpa sebab. Ada proses yang membentuknya, dan karena itu, ada juga proses untuk mengubahnya.
Perjalanan membangun kepercayaan diri memang tidak instan. Ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar. Namun, setiap langkah kecil tetap berarti.
Seperti yang diingatkan oleh dr. Rai Wiguna, kepercayaan diri bukan sesuatu yang harus sempurna. Ia cukup tumbuh sedikit demi sedikit, seiring dengan keberanian untuk mengenali diri sendiri dan menerima bahwa menjadi manusia berarti terus berproses.
Dengan cara itu, rasa tidak percaya diri tidak lagi menjadi penghalang, melainkan titik awal untuk mengenal diri lebih dalam dan membangun kehidupan yang lebih sehat secara mental. (AWJ/BB)

