Oleh Cok Widya*
Ada Masanya, Ada Saatnya. Semua Akan Berbuah pada Masanya.
BEGITULAH hukum siklus kehidupan. Dalam kearifan leluhur Bali, perjalanan waktu tidak sekadar dihitung melalui pergantian hari dan bulan, tetapi juga melalui satu putaran kalender Pawukon selama 210 hari. Sebuah siklus yang mengajarkan manusia tentang permulaan, perjalanan, penyelesaian, dan kesempatan untuk memulai kembali.
Pawukon terdiri atas 30 wuku. Setiap wuku berlangsung selama tujuh hari dengan pertemuan berbagai wewaran, terutama Saptawara dan Pancawara. Siklus ini dimulai dari Wuku Sinta dan berakhir di Wuku Watugunung. Setelah itu, perhitungan kembali ke awal.
Sehari sebelum memasuki Wuku Sinta, umat Hindu merayakan Hari Suci Saraswati, yang jatuh pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Hari tersebut menjadi penutup satu putaran Pawukon sekaligus momentum pemujaan terhadap Dewi Saraswati, manifestasi Tuhan sebagai sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
Saraswati bukan sekadar perayaan pengetahuan melalui penghormatan terhadap buku, lontar, dan berbagai sarana pembelajaran. Lebih jauh, hari suci ini mengajak manusia melakukan perenungan. Apa yang telah dipelajari selama 210 hari terakhir? Pengalaman apa yang membuat kita menjadi lebih bijaksana? Kesalahan apa yang seharusnya tidak kembali diulangi?
Pengetahuan semestinya tidak berhenti sebagai sesuatu yang dibaca, dihafalkan, atau dibicarakan. Ia harus tumbuh menjadi kebijaksanaan yang membimbing pikiran, perkataan, dan perbuatan. Karena itu, Saraswati dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan hidup.
Apa yang baik patut diteladani dan diteruskan. Sebaliknya, hal-hal yang tidak baik seharusnya ditinggalkan. Di sanalah manusia belajar mengakui kesalahan, saling memaafkan, meminta maaf, dan bersyukur karena masih diberikan kesempatan memperbaiki diri.
Keesokan harinya, Minggu Paing Wuku Sinta, umat Hindu merayakan Banyu Pinaruh. Inilah hari pertama dalam putaran Pawukon yang baru. Secara etimologis, banyu berarti air, sedangkan pinaruh berkaitan dengan pangeweruh atau pengetahuan. Banyu Pinaruh dengan demikian mengandung makna air pengetahuan, sebuah simbol penyucian diri melalui pengetahuan suci.
Pada hari ini, umat Hindu biasanya mendatangi pantai, sungai, pancuran, maupun sumber mata air untuk melaksanakan asuci laksana. Sebagian masyarakat bahkan sudah berangkat sejak dini hari. Pantai-pantai di Bali mulai ramai sebelum matahari terbit. Mereka mandi dan keramas menggunakan air laut atau air yang telah dicampur bunga-bungaan, yang dikenal sebagai air kumkuman.
Kebiasaan tersebut bukan tanpa makna. Dalam penjelasan Parisada Hindu Dharma Indonesia, Banyu Pinaruh merupakan momentum membersihkan badan sekaligus memohon penyucian pikiran. Bahkan, pelaksanaannya tidak harus selalu di pantai atau tempat tertentu. Pembersihan diri dapat dilakukan di rumah apabila tidak memungkinkan mendatangi sumber air.
Pemaknaan tersebut sejalan dengan ajaran dalam Bhagavad Gita IV.36 yang menjelaskan bahwa pengetahuan dapat menjadi sarana bagi manusia untuk menyeberangi lautan dosa. Pengetahuan bukan sekadar bekal memahami dunia, melainkan juga jalan untuk mengatasi kebodohan dan kegelapan batin.
Hal serupa dapat ditemukan dalam Manawa Dharmasastra V.109. Sloka tersebut mengajarkan bahwa tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan melalui kebenaran, sedangkan kebijaksanaan dibangun melalui pengetahuan. Pesannya sangat relevan dengan Banyu Pinaruh. Membersihkan tubuh saja tidak cukup apabila manusia masih memelihara pikiran, perkataan, dan perbuatan yang tidak baik.
Sementara itu, Lontar Sundarigama menjadi salah satu rujukan penting dalam pelaksanaan Hari Suci Saraswati pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Di dalamnya terdapat tuntunan mengenai pemujaan terhadap Sang Hyang Saraswati dan penghormatan terhadap pustaka sebagai lambang pengetahuan. Rangkaian ini memperlihatkan hubungan erat antara penghormatan terhadap ilmu pengetahuan dan penyucian diri dalam tradisi Hindu Bali.
Alam pun memberikan gambaran tentang siklus kehidupan. Ketika satu masa telah berlalu, musim berganti dan hujan mulai turun. Tanah menjadi basah, menyimpan kembali kesuburan, dan membuka kesempatan bagi benih-benih baru untuk tumbuh. Alam tidak pernah berhenti bergerak. Ia mengajarkan bahwa setiap akhir sesungguhnya menyimpan kemungkinan untuk memulai kembali.
Demikian pula kehidupan manusia. Setelah memperoleh pengetahuan dan melakukan perenungan pada Hari Saraswati, Banyu Pinaruh menjadi momentum membersihkan diri sebelum melanjutkan perjalanan. Air membersihkan tubuh, sementara pengetahuan suci diharapkan membersihkan pikiran dari awidya atau ketidaktahuan.
Dari sinilah kita memulai kembali menanam karma baik. Bukan hanya melalui upacara dan simbol-simbol keagamaan, melainkan melalui kesungguhan memperbaiki niat, menjaga pikiran, mengucapkan perkataan yang baik, serta melakukan perbuatan yang benar sesuai ajaran Dharma.
Sebab, setiap karma memiliki konsekuensi. Apa yang kita tanam hari ini akan menjadi bagian dari buah kehidupan pada masa mendatang. Tidak semua hasil datang seketika. Sebagaimana alam membutuhkan waktu untuk menumbuhkan benih menjadi buah, manusia pun membutuhkan proses untuk menjadi lebih baik.
Banyu Pinaruh mengingatkan kita bahwa kesempatan memperbaiki diri selalu terbuka. Siklus 210 hari kembali dimulai, membawa harapan dan kesempatan baru untuk menjalankan swadharma di jalan Dharma.
Selamat Hari Suci Banyu Pinaruh. Semoga pengetahuan menerangi pikiran, kebenaran menuntun perkataan, dan kebajikan menjadi dasar setiap perbuatan. ***
Puri Gede Penebel, Tabanan, 1 November 2026
Tentang Penulis
Cok Widya merupakan penulis yang memiliki perhatian terhadap nilai-nilai budaya, tradisi, dan filosofi Hindu Bali. Melalui tulisan-tulisannya, ia mengajak pembaca memahami makna tradisi dan kearifan leluhur dalam kehidupan sehari-hari.
