1 November 2026

Benarkah Orang Bali Skizoid?

Antropolog Margaret Mead membaur dengan masyarakat setempat saat melakukan penelitian lapangan di Bali, Indonesia, pada 1957. (Foto: AP Photo)

Oleh Angga Wijaya *

ADA sesuatu yang menarik sekaligus mengganggu ketika membaca penelitian antropologi tentang Bali. Orang Bali tidak hanya menjadi masyarakat yang diteliti, tetapi juga manusia yang karakternya ditafsirkan, dijelaskan, lalu diberi nama melalui konsep-konsep yang datang dari luar kebudayaannya.

Pada titik tertentu, penelitian semacam itu membantu kita memahami kehidupan masyarakat. Namun, pada titik yang lain, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting. Sejauh mana peneliti memahami manusia yang sedang mereka amati? Apakah perilaku yang terlihat di permukaan cukup untuk menjelaskan kehidupan batin seseorang?

Dan siapa yang berhak menentukan karakter suatu masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengemuka ketika membaca kembali penelitian antropolog Margaret Mead dan Gregory Bateson tentang Bali pada 1930-an. Melalui pengamatan, foto, dan dokumentasi kehidupan sehari-hari, keduanya berusaha memahami hubungan antara kebudayaan dan pembentukan kepribadian orang Bali.

Dalam penelitian itu, muncul istilah schizoid untuk menggambarkan corak kepribadian yang mereka tafsirkan dari perilaku masyarakat Bali. Istilah tersebut kemudian menjadi bagian dari perdebatan panjang mengenai hubungan antara kebudayaan, emosi, dan kepribadian.

Namun, benarkah orang Bali dapat dipahami melalui label tersebut?

Ketika Orang Bali Menjadi Objek Penelitian

Margaret Mead dan Gregory Bateson melakukan penelitian lapangan di Bali pada 1936-1938. Hasil penelitian mereka kemudian diterbitkan dalam buku Balinese Character: A Photographic Analysis pada 1942. Buku tersebut menggunakan ratusan foto untuk memperlihatkan hubungan antara perilaku sehari-hari dan pembentukan karakter dalam kehidupan masyarakat Bali.

Penelitian itu lahir dari tradisi antropologi yang menaruh perhatian pada hubungan antara kebudayaan dan kepribadian. Kebudayaan tidak sekadar dipahami sebagai kumpulan adat istiadat, upacara, atau kepercayaan, tetapi juga sebagai sesuatu yang ikut membentuk cara manusia merasakan, bertindak, dan berhubungan dengan orang lain.

Pendekatan tersebut membuka kemungkinan baru dalam memahami manusia. Perilaku seseorang tidak dilihat sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan lingkungan sosial tempat ia tumbuh.

Akan tetapi, persoalan muncul ketika pengamatan terhadap perilaku tertentu digunakan untuk menyusun gambaran umum mengenai kepribadian suatu masyarakat.

Foto dapat merekam gerak tubuh, ekspresi wajah, dan interaksi manusia pada suatu momen. Namun, foto tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh pengalaman batin orang yang berada di dalamnya.

Senyum seorang anak, misalnya, belum tentu memperlihatkan perasaannya secara utuh. Sikap tenang seseorang juga tidak otomatis berarti ia sedang menahan emosi atau mengalami keterputusan emosional.

Di antara apa yang terlihat dan apa yang sesungguhnya dialami manusia, selalu terdapat ruang penafsiran.

Ruang itulah yang perlu diperhatikan ketika membaca penelitian Mead dan Bateson. Keduanya menawarkan cara pandang yang berpengaruh terhadap hubungan antara kebudayaan dan kepribadian. Namun, sebagaimana penelitian ilmiah lainnya, kesimpulan mereka juga perlu diperiksa, diuji, dan dibandingkan dengan penjelasan lain.

Ketika Kesimpulan Mead dan Bateson Dipersoalkan

Penafsiran Mead dan Bateson kemudian ditinjau kembali oleh psikiater Bali, Luh Ketut Suryani, bersama Gordon D. Jensen. Melalui buku The Balinese People: A Reinvestigation of Character yang terbit pada 1992, keduanya meneliti ulang sejumlah kesimpulan mengenai karakter orang Bali.

Penelitian ulang tersebut tidak mendukung sebagian besar penafsiran dan kesimpulan Mead dan Bateson. Persoalannya bukan semata-mata apakah pengamatan terdahulu benar atau salah, melainkan apakah perilaku yang diamati telah ditempatkan dalam konteks kebudayaan yang memadai.

Salah satu persoalan yang diperdebatkan ialah penafsiran terhadap hubungan ibu dan anak. Dalam pembacaan Mead dan Bateson, perilaku seorang ibu yang menggoda atau membuat anak frustrasi dapat ditafsirkan sebagai bagian dari proses pembentukan kepribadian tertentu.

Suryani dan Jensen menawarkan penjelasan lain dengan mempertimbangkan kemungkinan bahwa perilaku tersebut juga berkaitan dengan cara anak belajar menghadapi perubahan perhatian ibu, terutama ketika keluarga menyambut kelahiran anak berikutnya.

Perbedaan penafsiran ini memperlihatkan bahwa satu perilaku dapat memiliki lebih dari satu makna. Tanpa memahami konteks hubungan keluarga dan kehidupan sosialnya, peneliti berisiko memberi arti psikologis yang terlalu jauh terhadap tindakan yang diamati.

Perbedaan penafsiran juga muncul dalam pembacaan simbol-simbol Bali, termasuk Rangda dan Barong. Simbol yang dipahami melalui kerangka tertentu belum tentu memiliki makna yang sesederhana penjelasan peneliti.

Dalam kehidupan masyarakat, simbol dapat memiliki lapisan makna yang berkaitan dengan ritual, pengalaman kolektif, keyakinan, dan konteks penggunaannya.

Kritik tersebut tidak berarti seluruh pengamatan Mead dan Bateson harus dibuang. Penelitian mereka tetap penting dalam sejarah antropologi visual dan kajian hubungan kebudayaan dengan kepribadian.

Namun, pengaruh sebuah penelitian tidak membuat kesimpulannya kebal terhadap pemeriksaan ulang.

Justru di situlah ilmu pengetahuan bekerja. Temuan terdahulu tidak harus diterima sebagai kebenaran terakhir. Ia dapat dibaca kembali ketika muncul data, pengalaman, atau sudut pandang yang memperluas pemahaman.

Mencari Jembatan dalam Antropologi Psikologi

Perdebatan mengenai karakter orang Bali dapat dibaca melalui antropologi psikologi, bidang kajian yang mempertemukan perhatian antropologi terhadap kebudayaan dengan perhatian psikologi terhadap proses mental, emosi, dan perilaku manusia.

Melalui pendekatan ini, kebudayaan dan kepribadian tidak harus dipertentangkan. Kebudayaan dapat memengaruhi cara seseorang mengekspresikan emosi, memahami hubungan sosial, atau menghadapi konflik.

Namun, pengaruh tersebut tidak berarti semua orang yang tumbuh dalam kebudayaan yang sama akan memiliki kepribadian seragam.

Orang Bali tumbuh dalam lingkungan sosial yang beragam. Pengalaman keluarga, pendidikan, pekerjaan, kelas sosial, generasi, agama, dan perjumpaan dengan dunia di luar Bali turut membentuk kehidupan mereka.

Bahkan, orang-orang yang tinggal dalam satu desa dapat memiliki pengalaman dan cara memahami dunia yang berbeda.

Karena itu, kebudayaan sebaiknya dipahami sebagai konteks yang membentuk kemungkinan, bukan cetakan yang menghasilkan manusia dengan karakter identik.

Antropologi psikologi dapat menjadi jembatan untuk membaca perbedaan penafsiran antara Mead dan Bateson dengan Suryani dan Jensen. Pendekatan ini memungkinkan kita memeriksa bagaimana perilaku diamati, bagaimana makna diberikan, dan sejauh mana kesimpulan tentang individu dapat digunakan untuk menjelaskan masyarakat yang lebih luas.

Pertanyaannya bukan sekadar siapa yang benar. Kita juga perlu memeriksa bagaimana masing-masing peneliti membangun kesimpulan, pengetahuan apa yang mereka gunakan, serta aspek kehidupan masyarakat yang mungkin luput dari pengamatan mereka.

Dengan cara itu, perdebatan tentang orang Bali tidak berhenti sebagai pertentangan antara peneliti asing dan peneliti lokal. Perdebatan tersebut menjadi kesempatan untuk menguji cara ilmu pengetahuan memahami manusia.

Benarkah Ketenangan Berarti Keterputusan Emosional?

Salah satu persoalan mendasar dalam membaca karakter orang Bali adalah kecenderungan untuk menyimpulkan kehidupan batin dari perilaku yang terlihat.

Dalam kehidupan sosial Bali, ketenangan, pengendalian diri, dan kemampuan menjaga hubungan dengan orang lain dapat memperoleh tempat penting. Dalam situasi tertentu, seseorang mungkin memilih tidak memperlihatkan kemarahan secara terbuka.

Ia bisa menahan diri untuk menghindari pertengkaran, menjaga hubungan keluarga, atau mempertimbangkan kedudukannya dalam lingkungan sosial.

Namun, apakah sikap semacam itu berarti orang tersebut tidak memiliki emosi yang kuat?

Belum tentu. Seseorang dapat merasa marah tanpa menunjukkannya secara terbuka. Ia dapat mengalami kesedihan tanpa menangis di hadapan orang lain. Ia juga dapat menjaga sikap tenang sambil mengalami pergulatan batin yang tidak diketahui orang di sekitarnya.

Perilaku yang tampak tenang tidak otomatis menunjukkan ketiadaan emosi. Begitu pula ekspresi yang terbatas tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang terputus dari pengalaman emosionalnya.

Dalam konteks inilah penafsiran terhadap orang Bali perlu dilakukan secara hati-hati. Cara mengekspresikan emosi tidak selalu sama dengan cara mengalaminya.

Kebudayaan mungkin membentuk aturan tentang kapan, di mana, dan kepada siapa emosi dapat diperlihatkan, tetapi aturan tersebut tidak menghapus keragaman pengalaman manusia.

Kehidupan masyarakat Bali sendiri memperlihatkan kenyataan yang lebih rumit daripada gambaran tentang ketenangan dan harmoni. Konflik keluarga, persaingan sosial, persoalan ekonomi, ketegangan antarkelompok, serta perubahan akibat pariwisata dan modernisasi menjadi bagian dari pengalaman masyarakat.

Semua itu menunjukkan bahwa orang Bali tidak hidup dalam satu keadaan psikologis yang seragam.

Mereka dapat menjaga harmoni sekaligus mengalami konflik. Mereka dapat mematuhi norma sosial sekaligus mempertanyakannya. Mereka dapat terlihat tenang sekaligus menyimpan kegelisahan.

Manusia tidak selalu memperlihatkan seluruh isi batinnya kepada dunia.

Skizoid Bukan Skizofrenia

Istilah schizoid perlu dijelaskan secara hati-hati karena kerap disalahpahami sebagai sesuatu yang sama dengan skizofrenia.

Keduanya bukan istilah yang dapat dipertukarkan. Dalam penggunaan psikologi dan psikiatri, schizoid berkaitan dengan pola kepribadian tertentu, sedangkan skizofrenia merupakan gangguan mental yang berbeda, dengan gejala dan kriteria klinisnya sendiri.

Dalam pembahasan mengenai Mead dan Bateson, istilah schizoid digunakan dalam kerangka pemikiran tentang kebudayaan dan kepribadian pada zamannya. Istilah tersebut merupakan bagian dari upaya mereka menjelaskan pola perilaku yang mereka amati dalam masyarakat Bali.

Karena itu, penggunaan istilah tersebut tidak dapat dibaca sebagai diagnosis klinis terhadap seluruh orang Bali. Menyimpulkan bahwa orang Bali mengalami skizofrenia hanya karena pernah ada penelitian yang menggunakan istilah schizoid merupakan kekeliruan konseptual.

Persoalan lainnya adalah apakah istilah tersebut memang memadai untuk menjelaskan keragaman karakter orang Bali. Sebuah istilah psikologis dapat membantu menguraikan fenomena tertentu, tetapi juga dapat menyederhanakan kenyataan apabila diterapkan terlalu luas.

Masyarakat tidak dapat diperlakukan seolah-olah memiliki satu kepribadian kolektif yang berlaku bagi setiap anggotanya. Perbedaan pengalaman, lingkungan, dan perjalanan hidup membuat manusia tidak mungkin dijelaskan hanya melalui satu label.

Oleh sebab itu, kritik terhadap penelitian Mead dan Bateson sebaiknya tidak berhenti pada persoalan istilah. Yang perlu diperiksa juga ialah proses penalaran yang membuat pengamatan terhadap sejumlah orang berkembang menjadi kesimpulan tentang karakter sebuah masyarakat.

Siapa yang Berhak Mendefinisikan Karakter Orang Bali?

Pertanyaan mengenai siapa yang berhak mendefinisikan karakter orang Bali tidak dapat dijawab hanya dengan menunjuk asal-usul penelitinya.

Peneliti asing tidak otomatis keliru karena datang dari luar kebudayaan yang diteliti. Sebaliknya, peneliti lokal juga tidak otomatis benar hanya karena berasal dari masyarakat tersebut.

Kedekatan dengan kebudayaan dapat memberikan pemahaman mengenai bahasa, simbol, kebiasaan, dan pengalaman sosial yang mungkin tidak segera terlihat oleh orang luar.

Namun, kedekatan itu juga tidak menjamin bahwa seseorang mampu menjelaskan seluruh keragaman masyarakatnya. Setiap peneliti tetap membawa asumsi, pengalaman, dan keterbatasan pengetahuan.

Hal yang sama berlaku bagi penelitian Suryani dan Jensen. Penelitian ulang mereka penting karena menawarkan koreksi terhadap sejumlah penafsiran sebelumnya.

Akan tetapi, temuan mereka pun tetap perlu dibaca sebagai karya ilmiah yang dapat diperiksa dan didiskusikan, bukan sebagai jawaban yang menutup seluruh perdebatan.

Bagi saya, perkara ini lebih penting daripada sekadar membela nama baik orang Bali. Yang perlu dipertanyakan ialah cara sebuah masyarakat ditempatkan sebagai objek pengetahuan, sementara pengalaman dan penafsirannya sendiri mungkin tidak memperoleh ruang yang memadai.

Orang Bali bukan sekadar kumpulan perilaku yang menunggu penjelasan dari peneliti. Mereka adalah manusia yang memiliki ingatan, pengalaman, pengetahuan, konflik, dan cara sendiri dalam memahami kehidupan.

Penelitian yang baik semestinya berusaha mendengarkan keragaman itu, bukan hanya mencari bukti untuk menguatkan kerangka teori yang sudah dibawa sejak awal.

Mendengarkan bukan berarti menerima setiap penjelasan tanpa pemeriksaan. Sebaliknya, mendengarkan memberi kesempatan kepada pengetahuan untuk berkembang melalui perjumpaan antara pengamatan, pengalaman, dan kritik.

Memahami Manusia di Luar Label

Perdebatan tentang apakah orang Bali bersifat schizoid memperlihatkan bahwa penelitian mengenai kebudayaan tidak pernah sepenuhnya terpisah dari cara peneliti memahami manusia.

Teori yang digunakan, perilaku yang dipilih untuk diamati, dan makna yang diberikan kepada suatu tindakan turut menentukan gambaran yang akhirnya terbentuk.

Margaret Mead dan Gregory Bateson telah meninggalkan dokumentasi penting tentang kehidupan masyarakat Bali. Luh Ketut Suryani dan Gordon D. Jensen kemudian menunjukkan bahwa sejumlah penafsiran dalam penelitian tersebut perlu ditinjau kembali.

Perbedaan keduanya mengingatkan kita bahwa pengetahuan tentang manusia selalu terbuka terhadap pemeriksaan.

Kita tidak perlu menolak seluruh penelitian Mead dan Bateson untuk mengakui keterbatasannya. Kita juga tidak perlu menerima semua kesimpulan Suryani dan Jensen tanpa pertanyaan.

Sikap kritis justru berarti bersedia membaca keduanya, memahami konteksnya, dan menilai argumen berdasarkan bukti yang tersedia.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang orang Bali yang schizoid membawa kita kepada persoalan yang lebih luas. Bagaimana kita memahami manusia tanpa mereduksi kehidupannya menjadi satu karakter?

Bagaimana kebudayaan dapat menjelaskan perilaku tanpa dianggap menentukan seluruh kepribadian? Dan bagaimana ilmu pengetahuan menjaga kerendahan hati ketika berhadapan dengan keragaman pengalaman manusia?

Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena orang Bali bukan hanya objek yang dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Mereka juga manusia yang menjalani kehidupan dengan segala kerumitan yang tidak selalu tertangkap oleh teori.

Kebudayaan memang ikut membentuk cara manusia hidup dan merasakan dunia. Namun, manusia tidak pernah sepenuhnya dapat diringkas oleh kebudayaannya, apalagi oleh satu label psikologis.

Ilmu pengetahuan seharusnya membantu kita membuka pemahaman, bukan menutupnya. Sebuah penelitian menjadi berarti bukan karena berhasil memberi nama kepada suatu masyarakat, melainkan karena bersedia menguji batas-batas pengetahuannya sendiri. ***

Tentang Penulis

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penyair, penulis, dan jurnalis asal Jembrana, Bali, yang telah lama tinggal di Denpasar. Pernah menempuh studi di Prodi Antropologi Budaya, Fakultas Sastra Universitas Udayana, walau tidak menyelesaikan pendidikan sarjana. Menulis sejak 2001, ia telah menulis dan menerbitkan 21 buku; puisi, esai, dan karya lainnya.

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *