Perempuan-perempuan muda kulihat menutupi bagian rahasia tubuhnya. Angin nakal sekali, mencoba membuka dada dan paha mereka dengan tiupan yang membawa dingin juga keanehan semu.
Tertawa, perempuan-perempuan itu tak tahu mesti berbuat apa. Ponsel pengemudi online merekam kejadian itu. Momen itu dilihat orang-orang, berharap melihat apa yang tak boleh dilihat. “Dasar laki-laki!,” pekik ibu muda saat tahu suaminya asyik dengan hapenya, gemar menonton perempuan lain.
Ironi. Seperti grup sastra diombang-ambing idealisme dan uang, di atas kepala mereka tidak ada lagi kreativitas. Hanya proposal hasil diskusi dengan AI, berharap kucuran dana dari dalam juga luar negeri. Otak dipenuhi uang. Bukan karya bagus.
Apa kabar, seni murni? Kulihat nyala mata skizofrenia dari teman yang ingin berteman denganku di Facebook. Kuterima saja, walau aku tak kenal namanya. Mungkin dia tahu aku. Penggemar yang gemetar karena puisi, mungkin juga oleh perut yang lapar, karena lelah bekerja.
Gelas kopi masih agak penuh—kubiarkan dulu, karena aku masih menulis. Di sekelilingku air hujan menggenangi jalan kota yang dulunya sawah. Perempuan penjaga warung menghidupkan lagu pop, mungkin mengingatkannya pada kekasih lama, kini punya anak dua dari perempuan bukan dirinya.
Memori memang ciptaan semesta yang ajaib. Kita bisa ingat kejadian belasan tahun lalu—dari sebuah lagu, membuat gagu dan hati kita semakin pilu.
Pindah ke kota lain, dengan cerita baru lain.
O, kenangan! O, genangan kisah manusia! seperti pagi penuh kecemasan usai ditelepon nomor tak dikenal. Bukan orang jahat, bukan intelijen, apa lagi ibu di kampung. Hanya penagih hutang yang meminta hak-nya. Setelah memberi kebaikan.
“Kami sudah beri ada pinjaman, kini kembalikan uang perusahaan! Sebelum jam 12 siang ini!”
Kedua kakimu lemas.
Di luar hujan bertambah deras. Seperti imbauan BMKG yang dianggap angin lalu. Bencana datang.
[Badung-Denpasar, 24 Februari 2026]
Angga Wijaya, penyair kelahiran Negara, Jembrana, Bali, 14 Februari 1984. Buku kumpulan puisi terbarunya, ‘Meditasi Telepon Genggam’, diterbitkan oleh penerbit Sonar Pustaka (Yogyakarta) pada Juni 2025.

