Oleh: Redaksi Bicarabali.com
DENPASAR, bicarabali.com – Hujan baru turun sekitar tiga puluh menit ketika jalan di Denpasar mulai berubah wajah. Motor melambat. Pengendara mengangkat kaki sedikit lebih tinggi dari biasanya. Air mengalir pelan di tepi jalan, lalu perlahan naik menutup garis marka yang tadi masih terlihat jelas.
Tak ada yang benar-benar terkejut. Warga seolah sudah hafal alurnya. Jika hujan deras turun cukup lama, beberapa ruas kota hampir pasti tergenang.
Di warung kopi, percakapan pun berulang. “Denpasar banjir lagi”. Kalimat itu terdengar biasa, nyaris tanpa nada panik. Seolah genangan telah menjadi bagian dari musim. Namun pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab adalah ini. Mengapa Denpasar begitu mudah tergenang?
Denpasar hari ini bukan Denpasar dua puluh tahun lalu. Kota ini tumbuh mengikuti denyut pariwisata Bali selatan. Rumah-rumah berubah menjadi kos, lahan kosong menjadi ruko, sawah perlahan hilang diapit tembok beton. Pertumbuhan itu membawa kehidupan ekonomi, tetapi juga konsekuensi yang jarang disadari. Tanah kehilangan ruang untuk bernapas.
Air hujan yang dulu meresap ke tanah kini jatuh di atas beton, aspal, dan atap bangunan. Ia tidak tinggal. Ia langsung berlari. Masalahnya, semua air berlari ke tempat yang sama dalam waktu bersamaan, yakni saluran drainase kota. Banyak saluran air di Denpasar dibangun ketika kota masih lebih lengang. Kapasitasnya dirancang untuk volume air masa lalu, bukan untuk kota yang kini jauh lebih padat.
Ketika hujan deras datang, got-got itu seperti pipa kecil yang dipaksa menelan arus besar sekaligus. Air meluap, mencari ruang baru, dan jalan raya menjadi penampung darurat. Genangan bukan muncul tiba-tiba. Ia adalah tanda bahwa kota telah melampaui kemampuan infrastrukturnya sendiri.
Di beberapa titik, persoalannya bahkan lebih sederhana. Saluran tersumbat plastik, daun, dan lumpur. Petugas kebersihan kerap menemukan penyumbatan yang sebenarnya sepele, tetapi dampaknya besar saat hujan turun. Air tidak bisa mengalir, lalu meluap hanya dalam hitungan menit.
Ironinya, genangan sering kali bukan akibat hujan ekstrem, melainkan kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. Kota bukan hanya dibangun oleh pemerintah, tetapi juga oleh perilaku warganya.
Secara geografis, Denpasar berdiri di dataran rendah pesisir. Kemiringan tanahnya kecil sehingga air tidak mengalir cepat menuju laut. Ketika hujan deras bertepatan dengan air laut pasang, aliran dari kota seperti tertahan dari dua arah. Air datang dari langit, tetapi pintu keluarnya menyempit di hilir. Akibatnya, genangan bertahan lebih lama daripada yang dibayangkan.
Menurut peringatan dari BMKG, pola hujan beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan. Hujan kini sering turun lebih deras dalam waktu singkat. Dulu hujan mungkin berlangsung lama namun stabil. Kini air turun sekaligus, seperti ditumpahkan. Sistem kota yang dirancang untuk pola lama pun kewalahan menghadapi karakter hujan baru.
Denpasar memiliki sungai-sungai kecil yang dahulu menjadi jalur alami air menuju laut. Namun tekanan pembangunan membuat banyak bantaran menyempit. Ketika hujan besar datang, sungai tidak lagi mampu menampung debit air. Air kembali ke jalan dan permukiman, seolah kota sedang mengingatkan bahwa ruang airnya telah diambil terlalu banyak.
Mungkin masalahnya bukan pada hujan. Hujan hanya memperlihatkan apa yang selama ini tersembunyi.
Genangan adalah cermin kota yang tumbuh cepat, ruang hijau yang berkurang, drainase yang menua, dan hubungan manusia dengan lingkungannya yang berubah. Denpasar bukan satu-satunya kota yang mengalami ini. Banyak kota pesisir di dunia menghadapi persoalan serupa ketika pembangunan bergerak lebih cepat daripada perencanaan airnya.
Setiap hujan lebat sebenarnya membawa pesan sederhana. Air selalu menemukan jalannya. Pertanyaannya bukan apakah hujan bisa dihentikan, melainkan apakah kota bersedia memberi ruang bagi air untuk lewat tanpa harus mengganggu kehidupan warganya.
Mungkin solusi tidak selalu besar dan mahal. Sumur resapan di halaman rumah, ruang terbuka hijau yang dipertahankan, sungai yang dijaga jaraknya, hingga kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan bisa menjadi awal.
Sebab pada akhirnya, genangan di Denpasar bukan sekadar cerita tentang air yang meluap. Ia adalah cerita tentang kota yang sedang belajar memahami dirinya sendiri. (BB)

