AKU menemukannya di kafe tengah kota pada suatu pagi yang terlalu terang untuk bulan Januari. Kafe itu tidak besar, tapi selalu penuh oleh orang-orang yang pura-pura sibuk. Mahasiswa dengan laptop dan es kopi literan. Pegawai yang menunggu jam masuk kantor. Sepasang kekasih yang lebih banyak menatap layar masing-masing daripada wajah satu sama lain.
Dan seorang lelaki tua yang duduk sendirian di sudut dekat jendela.
Ia selalu di sana.
Aku mengenalnya pertama kali bukan dari dunia nyata, melainkan dari media sosial. Ia kerap mengomentari puisi-puisiku dengan kalimat yang tidak pernah klise. Tidak pernah sekadar “bagus” atau “keren.” Ia menuliskan catatan kecil, menyebut nama penyair yang bahkan tak pernah kudengar, mengirim foto buku-buku tua yang sampulnya telah menguning.
Namanya Hans. Setidaknya itu nama yang ia gunakan.
“Kalau mau bertemu, saya hampir setiap pagi di Kafe Merah itu,” tulisnya suatu hari di pesan pribadi.
Aku datang dengan jantung sedikit berdebar. Entah kenapa, setiap pertemuan dengan orang yang membaca puisiku selalu membuatku merasa telanjang.
Ia sudah duduk ketika aku tiba. Kemeja putihnya disetrika rapi. Rambutnya tipis, disisir ke belakang. Di hadapannya ada laptop tua dan buku catatan yang dipenuhi tulisan tangan.
“Kamu Angga?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Kami berjabat tangan.
Tangannya hangat dan kering.
“Puisi-puisimu mengingatkanku pada Georg Trakl,” katanya setelah pelayan meletakkan dua cangkir kopi di meja kami. “Penyair Austria. Mati muda. Bunuh diri.”
Ia mengucapkannya seperti sedang menyebut nama teman lama.
“Aku tahu dia. Dari buku puisi terjemahan,” jawabku, mencoba terdengar tenang.
Padahal dadaku berdesir.
Aku mengenal Trakl bukan hanya dari puisinya, tapi dari riwayat hidupnya yang gelap. Luka masa kecil. Relasi yang retak. Perang. Depresi. Dan akhirnya overdosis kokain di usia dua puluh tujuh.
Aku selalu merasa ada yang terlalu dekat antara aku dan penyair itu.
Hans menyeruput kopinya perlahan.
“Puisimu punya ciri khas,” katanya. “Ada luka yang tidak selesai. Tapi kamu tidak tenggelam di dalamnya.”
Aku tersenyum samar.
Ia belum tahu, pikirku. Kami punya duka dan luka yang sama. Aku dan penyair yang ia sebut.
Bahkan kejadian kelam masa kecil itu, yang tak pernah benar-benar bisa kuceritakan dengan utuh, pernah kualami.
Bedanya, aku masih duduk di sini.
Aku pernah hampir mati oleh pikiranku sendiri.
Itu terjadi bertahun-tahun lalu, ketika dunia terasa seperti ruangan sempit tanpa jendela. Suara-suara dalam kepalaku berbicara lebih keras daripada orang-orang di luar. Kecurigaan tumbuh seperti lumut di dinding hati. Aku merasa diawasi, dibicarakan, ditertawakan.
Aku didiagnosis skizofrenia paranoid pada usia yang masih terlalu muda untuk mengerti arti kata itu.
Rumah sakit jiwa menjadi alamat yang harus kuhafal. Bau obat-obatan. Lorong putih. Pintu yang terkunci dari luar. Tatapan iba yang lebih menyakitkan daripada amarah.
Aku bolak-balik ke psikiater. Minum obat bertahun-tahun. Tubuhku gemetar. Berat badanku naik turun. Ada hari-hari ketika aku tak bisa membedakan mimpi dan kenyataan.
Dan di tengah semua itu, aku menulis.
Awalnya hanya coretan tak jelas. Kata-kata yang muncul seperti serpihan kaca. Tapi perlahan, serpihan itu menjadi larik.
Puisi menyelamatkanku dari kegilaan.
Bukan karena puisi membuatku sembuh. Tapi karena puisi memberiku jarak dari suara-suara itu. Ia memberiku bentuk. Memberiku ruang untuk menaruh rasa sakit di luar tubuh.
Aku belajar bahwa luka bisa dijadikan bahasa.
Hans mendengarkan ketika akhirnya, pada pertemuan ketiga kami, aku menceritakan sebagian dari itu.
Tidak semuanya. Hanya cukup agar ia tahu bahwa aku bukan sekadar anak muda yang gemar bermain metafora.
Ia tidak tampak terkejut.
“Banyak penyair besar lahir dari retakan,” katanya pelan. “Tapi tidak semua retakan harus berakhir tragis.”
Ia menatapku lama.
“Kamu memilih hidup.”
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, terdengar seperti pengakuan.
Sejak itu, kami rutin bertemu. Hampir setiap minggu. Ia selalu datang dari pagi hingga tengah hari. Katanya, rumah terlalu sepi.
“Anak-anak sudah punya hidup masing-masing,” ujarnya suatu ketika. “Istriku meninggal lima tahun lalu. Di rumah hanya ada televisi dan jam dinding.”
“Kenapa tidak menulis di rumah saja?” tanyaku.
Ia tersenyum.
“Di sini aku merasa menjadi bagian dari sesuatu. Mendengar orang tertawa, gelas beradu, pintu dibuka-tutup. Hidup berdenyut.”
Aku mengangguk. Aku mengerti perasaan itu. Setelah bertahun-tahun merasa terasing dalam pikiranku sendiri, aku pun merindukan keramaian yang sederhana.
Suatu pagi, aku datang lebih awal dari biasanya. Hans belum tiba. Aku memilih duduk di kursinya. Dari sana, kota tampak seperti panggung kecil.
Aku membayangkan diriku di masa depan.
Apakah aku akan menjadi lelaki tua yang menulis di kafe? Rambut memutih. Tangan sedikit gemetar. Tapi tetap setia pada aksara?
Aku mulai dikenal banyak orang beberapa tahun terakhir. Buku puisiku dicetak ulang. Namaku diundang ke diskusi sastra. Ada pembaca yang mengirim pesan, mengatakan bahwa puisiku membuat mereka merasa tidak sendirian.
Pengakuan itu, sekecil apa pun, membuat keberadaanku terasa sah.
Dulu, ketika dirawat di rumah sakit jiwa, aku merasa seperti kesalahan. Seperti noda yang harus disembunyikan keluarga. Kini, namaku dicetak di sampul buku.
Kelam jiwa berganti terang.
Matahari kurasakan berbeda; cahayanya kini tidak menyakitkan.
Aku masih minum obat. Masih rutin kontrol. Tapi aku tidak lagi malu menyebut penyakitku. Ia bagian dari sejarah tubuhku.
Seperti bekas luka di lutut yang tak pernah benar-benar hilang.
Hans datang terlambat hari itu.
Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku.
Ia mengangguk, meski gerakannya lambat.
“Hanya kurang tidur.”
Kami berbicara tentang puisi Rusia, tentang penyair-penyair Bali yang jarang dibaca generasi muda, tentang esai yang sedang kutulis. Tapi perhatianku terpecah oleh napasnya yang terdengar berat.
“Kau harus periksa ke dokter,” kataku.
Ia tersenyum tipis.
“Tubuh ini sudah terlalu sering diperiksa. Kadang aku lelah menjadi pasien.”
Kalimat itu menamparku pelan.
Aku teringat diriku sendiri bertahun-tahun lalu, duduk di ruang tunggu psikiater, merasa seperti objek penelitian. Nomor antrean. Riwayat medis. Dosis yang dinaikkan dan diturunkan.
Menjadi pasien memang melelahkan.
Dua minggu kemudian, Hans tidak muncul lagi.
Aku menunggu sampai tengah hari. Kursinya kosong.
Aku mengirim pesan. Tidak dibalas.
Keesokan harinya, aku datang lagi. Tetap kosong.
Baru pada hari ketiga, seorang barista yang sudah hafal wajah kami mendekatiku.
“Bapak yang biasa duduk sama Mas itu?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Katanya masuk rumah sakit. Anaknya yang bilang. Jantung.”
Kata itu menggantung di udara.
Jantung.
Aku tidak tahu harus merasa apa. Kami tidak pernah benar-benar membicarakan usia. Tapi aku selalu sadar bahwa waktu bagi Hans mungkin lebih sempit daripada waktu bagiku.
Aku pulang dengan langkah pelan.
Malam itu, aku membuka kembali pesan-pesan lama kami. Catatan-catatan kecilnya tentang puisiku. Rekomendasi buku. Kutipan penyair yang tak kukenal.
Aku membaca ulang kalimatnya: Kamu memilih hidup.
Tiba-tiba aku menangis.
Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar dari nomor tak dikenal. Anak perempuannya.
Ayah meninggal pagi tadi, tulisnya. Beliau sering cerita tentang kamu. Katanya, kamu mengingatkannya pada dirinya sendiri waktu muda.
Aku terdiam lama.
Kafe itu terasa berbeda setelahnya. Kursi di sudut dekat jendela tetap ada. Meja kayu yang sama. Tapi tak ada lagi laptop tua dan buku catatan dengan tulisan tangan rapat.
Aku duduk di sana sendirian.
Membuka laptop.
Mengetik.
Aku membayangkan Hans sedang menyeruput kopi di depanku, menyebut nama penyair Eropa Timur dengan logat yang hati-hati.
“Kamu harus terus menulis,” seolah-olah ia berkata.
Aku sadar, mungkin inilah warisan yang paling jujur dari seorang penulis tua: bukan buku, bukan reputasi, melainkan keberanian untuk tetap hidup dan menulis meski dunia berulang kali terasa runtuh.
Aku memikirkan Georg Trakl.
Penyair dengan luka pada puisi-puisinya.
Aku memikirkan diriku.
Aku pernah berdiri di tepi yang sama. Pernah membayangkan dunia tanpa kehadiranku. Pernah merasa menjadi beban bagi keluarga, bagi semesta.
Tapi aku tidak melompat.
Aku tinggal.
Dan menulis.
Menulis luka dan menulis suka, itu yang kulakukan sekarang.
Di kafe tengah kota, di kursi yang dulu diduduki lelaki tua yang mencintai aksara, aku berjanji pada diriku sendiri:
Jika diberi umur panjang, aku akan terus menulis hingga tua.
Bukan untuk terkenal. Bukan untuk diakui.
Tapi untuk menjaga jarak antara diriku dan kegelapan yang pernah hampir menelanku.
Di luar jendela, matahari siang menyinari trotoar. Orang-orang berlalu-lalang. Hidup berjalan tanpa tahu siapa yang baru saja pergi.
Aku menyeruput kopi yang mulai dingin.
Untuk pertama kalinya, aku tidak takut menjadi tua.
Karena aku tahu, selama masih ada kata-kata, aku tidak benar-benar sendirian.
Denpasar, Februari 2026

