Denpasar, bicarabali.com – Perayaan Hari Raya Nyepi 2026 memang telah berlalu. Jalanan kembali ramai, aktivitas berangsur normal. Namun, satu hal tampaknya belum benar-benar usai. Pesona ogoh-ogoh “Sapa Warang” dari Banjar Gemeh, di Jalan Mayjen Sutoyo, Denpasar Barat.
Pada Jumat (20/3/2026), suasana di kawasan tersebut masih dipadati warga. Mereka datang bukan untuk ritual, melainkan untuk satu tujuan sederhana, melihat dari dekat ogoh-ogoh yang viral saat malam Pengerupukan lalu.
Di bawah panggung bertuliskan “Br. Gemeh”, sosok raksasa itu berdiri diam, membeku dalam pose yang ganjil sekaligus memikat. Tubuhnya condong ke depan, dengan ekspresi wajah yang setengah meringis, setengah kosong. Detail pahatan dan pewarnaannya tampak semakin mencolok di bawah cahaya pagi.

Tak sedikit pengunjung yang mengangkat ponsel, mengabadikan setiap sudut. Ada yang berfoto bersama, ada pula yang sekadar merekam video pendek untuk dibagikan ke media sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa “Sapa Warang” tidak berhenti menjadi tontonan hanya pada malam Pengerupukan, melainkan terus hidup sebagai magnet publik bahkan setelah Nyepi usai.
“Saya kemarin tidak sempat lihat langsung, hanya dari video. Ternyata aslinya jauh lebih bagus,” ujar salah satu pengunjung yang datang bersama keluarganya.
Ogoh-ogoh karya Putu Marmar Herayukti ini sebelumnya memang telah mencuri perhatian saat parade di kawasan Catur Muka, Denpasar. Kemunculannya yang ditunggu hingga larut malam sempat mengundang sorak-sorai, sebelum akhirnya suasana berubah hening karena kekaguman penonton.
Kini, daya tarik itu seolah berlanjut dalam bentuk yang berbeda. Jika pada malam Pengerupukan ia hadir sebagai bagian dari arak-arakan ritual, maka setelah Nyepi, ia berubah menjadi objek apresiasi publik, sebuah karya seni yang dinikmati secara lebih dekat dan personal.
Secara tradisi, ogoh-ogoh merupakan representasi Bhuta Kala, energi negatif yang diarak untuk kemudian dinetralisir menjelang Nyepi. Namun dalam praktik kontemporer, ogoh-ogoh juga berkembang menjadi ruang ekspresi kreatif bagi generasi muda banjar.
Hal itu tampak jelas pada “Sapa Warang”. Karya ini tidak hanya menonjolkan unsur menyeramkan, tetapi juga menghadirkan pendekatan artistik yang detail dan konseptual. Postur tubuh yang tidak lazim, tekstur kulit yang kompleks, hingga ekspresi wajah yang ambigu, menjadikannya berbeda dari ogoh-ogoh pada umumnya.
Fenomena ramainya kunjungan pasca Nyepi ini juga menegaskan satu hal. Ogoh-ogoh kini tidak lagi sekadar bagian dari ritual sesaat. Ia telah bertransformasi menjadi bagian dari budaya visual yang hidup lebih lama, bahkan melampaui momen sakralnya.
Di tengah kerumunan, terlihat anak-anak, remaja, hingga orang tua berbaur. Sebagian berdiri cukup lama, memperhatikan detail demi detail. Seolah, mereka tidak hanya melihat ogoh-ogoh, tetapi juga mencoba memahami sesuatu yang lebih dalam dari sekadar bentuk. “Sapa Warang” pun seperti menjawab rasa penasaran itu, diam, namun tetap “berbicara”.
Fenomena ini menjadi penanda menarik dalam dinamika budaya Bali hari ini. Di satu sisi, tradisi tetap dijalankan dengan khidmat. Di sisi lain, karya-karya seperti ini menunjukkan bagaimana kreativitas lokal mampu menciptakan resonansi yang luas, bahkan hingga viral di media sosial.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya. Bahwa setelah sunyi Hari Raya Nyepi berakhir, ada sesuatu yang justru terus bersuara, melalui bentuk, melalui imajinasi, dan melalui tatapan orang-orang yang masih setia datang untuk melihatnya. (AWJ/RSB/BB)

