Malam musim dingin Durban yang asing Benua asal moyang manusia
Di lorong hotel orang-orang bergegas Tak ada tegur sapa Kantuk dan lelah tak berteman dengan basa-basi.
"Rambut yang indah," pujimu "Lexicon," lanjutmu Kantuk terhalau Kulihat bintang 2 musim di matamu Bibirmu bunga 3 musim Rambutmu jeram 4 musim pesona lintas benua pesona tak umum Aku suka Aku suka yang tak umum padamu.
Lexicon, tak kutemukan kata-kata dalam Lexicon umum menjelaskan keindahanmu Kata-kata hilang dari benakku.
Kenangan tak selalu dijaga waktu Bagai tulisan di atas kertas jagung hancur diterpa hujan Perempuan idaman dari benua lain menjauh dengan perahu usangnya meninggalkan dermagaku Di dermagaku perahumu kini merapat.
Saat welcome party Di sela gelak tawa, denting gelas, Lexicon tak kutemukan Peri laut Durbankah menyembunyikanmu? Atau Kaulah peri itu peri cantik tanpa tongkat sihir, memikat lelaki negeri 2 musim. Waktu merambat malas di atas kapal wisata dengan jangkar mencengkeram dasar laut serupa cengkeraman jemari saat bercumbu Aku mabuk Meski alun gelombang begitu lembut serupa ayunan Ibu, saat menina bobo bayinya Aku mabuk cahaya bintang 2 musim bunga 3 musim jeram 4 musim dan laut yang menggelegak dalam diri.
Malam-malam di kamar hotel, film triple X dialog tentang brain drain, capital flight, juga tentang Bob Marley.
Dari jendela kaca hotel, pada lantai sekian, kerlip cahaya lampu kapal, tampak indah. Tapi, tetap saja kau, Lexicon, dengan pesona tak umum, dengan kilau mata 2 musimmu, lebih memukauku.
Samar kuingat pesona perempuan benua lain yang telah menjauh serupa daun ditiup angin meninggalkan ranting musim gugur.
Jika tiba aku di negeriku, nanti Dan waktu akan menjadi kelak Mungkin kita jumpa lagi sebagai manusia baru Mungkin juga tidak Mungkin hanya kenangan Mencoba gigih bertahan Menjagamu sebagai manusia kini.
Akankah kau semakin kabur Serupa kabut pegunungan negeriku Disibak siang tak berawan? Aku tak tahu Sungguh aku tak tahu, Lexicon.
Kenangan serupa awan bisa berlalu ditiup angin bisa menetes menjadi hujan diuapkan matahari bisa menjadi awan lagi.
Pohon, Burung, Para pejalan
Malam. Hanya ada satu pohon tegak dan rimbun. Pohon-pohon lain ditinggalkan daun-daun.
Burung-burung hitam. Letih. Burung-burung diwarnai malam. Tahu kemana pulang. Menembus gelap. Menuju pohon rimbun yang tunggal. Tempat pulang yang niscaya bagi burung-burung. Terlindung hujan. Terlindung terik, jika siang. Pelepas lelah sayap-sayap.
Burung-burung hitam. Datang dari segala penjuru. Menuju satu tujuan.
Para pejalan. Berat memanggul kitab. Letih. Melintasi berbagai jalan. Dari segala penjuru. Bertengkar tentang jalan. Bertengkar arah angin. Bertengkar arah yang ditunjukkan bintang. Bertengkar dan bertengkar. Lupa tujuan. Lupa melangkah. Letih kaki. Letih mulut. Letih perasaan. Berat melangkah. Duduk berlama-lama. Berbaring berlama-lama. Malas melangkah. Nikmat bertengkar. Berdebat. Pikiran berputar lebih cepat dari roda mobil balap. Letih pikiran. Mumet. Semakin lupa dan berat melangkah. Waktu bergegas. Waktu tak mau menunggu. Waktu tak bertanya, alasan kaki malas.
Burung-burung hitam letih Para pejalan letih Burung-burung sampai di tujuan Para pejalan masih mempertengkarkan jalan. Mungkin perlu meminjam sayap. Terbang. Udara luas. Tak bersekat. Tak penuh duri, seperti jalan para pejalan.
Burung-burung tak bertengkar. Segala penjuru angin--udara bergerak, tak bersekat--. Dari penjuru mana burung-burung datang, tak melahirkan tengkar.
Burung-burung Sampai di tujuan Para pejalan Masih bertengkar.
*Diinspirasi foto yang dibagikan teman Facebook, Ida Ayu Tri Kencanawati
Tentang Penyair
Tan Lioe Ie, lahir dan tumbuh dewasa di Denpasar. Menamatkan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Menulis esei, cerpen, puisi, dan pegiat puisi-musik. Tan Lioe Ie kerap diundang ke berbagai acara sastra di Indonesia maupun luar negeri.
Buku puisinya: Kita Bersaudara, Malam Cahaya Lampion, YIN, Ekphrasis, dan Sekolah Tikus. Buku cerpennya: Tubuh yang Tak Patuh Seluruh, album puisi-musik: Kuda Putih, berisi 8 puisi Umbu Landu Paranggi dan 2 puisi Tan Lioe Ie, akustik, Tan Lioe Ie dkk. Exorcism, berisi 9 puisi Tan Lioe Ie, band Bali PuisiMusik. Kuda Putih remastered, berisi 3 puisi Umbu Landu Paranggi dan 3 puisi Tan Lioe Ie, band Bali PuisiMusik.