BADUNG, bicarabali.com – Kunjungan lapangan yang dilakukan Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kabupaten Badung di Kecamatan Abiansemal pada Jumat (27/3/2026), menjadi gambaran bagaimana pendekatan sosial di Kabupaten Badung kini bergerak lebih dekat ke warga. Tidak hanya berhenti pada penyaluran bantuan, kegiatan ini juga menekankan pentingnya kehadiran negara di tengah situasi nyata masyarakat yang rentan.
Di beberapa titik kunjungan, suasana haru tidak dapat dihindari. Warga penerima bantuan tampak menyambut langsung rombongan yang datang ke rumah-rumah mereka. Bantuan berupa paket sembako dan satu unit kursi roda diberikan kepada warga disabilitas di Banjar Pempatan, Desa Sembung. Bantuan ini tidak hanya dimaknai sebagai bantuan fisik, tetapi juga sebagai bentuk perhatian yang memberi dorongan psikologis bagi keluarga penerima manfaat.
Setelah kunjungan awal tersebut, rombongan melanjutkan perjalanan ke sejumlah titik di Kecamatan Abiansemal, di antaranya Banjar Tegal Desa Selat, Banjar Selat Anyar Desa Selat, Banjar Jaba Jero Desa Taman, Banjar Karang Dalem I Bongkasa Pertiwi, Banjar Tegal Kuning Bongkasa Pertiwi, Banjar Kedewatan Bongkasa, dan Banjar Teguan Bongkasa. Sebaran lokasi ini memperlihatkan luasnya cakupan masalah sosial yang ditangani serta upaya pemetaan kondisi warga secara lebih menyeluruh.
Pendekatan langsung seperti ini sekaligus membuka ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat. Dalam beberapa kesempatan, warga menyampaikan kondisi sehari-hari mereka, mulai dari keterbatasan ekonomi hingga kebutuhan layanan kesehatan yang berkelanjutan. Informasi ini menjadi bagian penting dalam proses pemetaan sosial yang dilakukan di tingkat kabupaten.
Selain menyasar rumah warga rentan, kunjungan ke pelaku usaha mikro kecil menengah (UMK) juga memberi warna tersendiri dalam kegiatan ini. Rombongan mengunjungi usaha pembuatan kue di Banjar Tegal Desa Selat, usaha pembuatan tahu dan tempe di Banjar Sukajati, serta usaha madu kela di Banjar Karang Dalem II. Di lokasi-lokasi tersebut, pemerintah daerah melihat langsung bagaimana pelaku usaha bertahan di tengah keterbatasan modal dan tantangan pasar.
Dalam konteks ini, pendekatan K3S Badung memperlihatkan pergeseran paradigma dari sekadar bantuan sosial menuju pemberdayaan berbasis potensi lokal. Warga tidak hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai subjek yang memiliki potensi untuk berkembang secara ekonomi.
Rasniathi Adi Arnawa menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjangkau dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang paling membutuhkan. Selain memberikan bantuan langsung, pihaknya juga akan terus melakukan pendataan dan pemantauan untuk memastikan program kesejahteraan sosial dapat menjangkau semua lapisan masyarakat yang berhak menerimanya.
“Kami tidak hanya fokus pada bantuan materi, tetapi juga ingin membantu meningkatkan kapasitas masyarakat agar dapat mandiri secara ekonomi, salah satunya melalui dukungan terhadap UKM lokal,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa program ini akan terus dilaksanakan secara berkala di seluruh kecamatan di Kabupaten Badung, dengan penyesuaian jenis bantuan sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah dan kelompok masyarakat.
Kegiatan di Abiansemal ini juga menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat kecamatan, Dinas Sosial, relawan Badung Peduli, serta tokoh masyarakat menjadi elemen penting dalam memastikan program berjalan efektif.
“Sinergi ini memperkuat jangkauan layanan sosial hingga ke tingkat banjar. Pendekatan seperti ini mencerminkan upaya membangun solidaritas sosial di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang terus terjadi,” jelas Rasniathi.
Dengan menggabungkan bantuan langsung, kunjungan lapangan, dan dukungan terhadap UMK, kata dia, K3S Badung berusaha menjaga keseimbangan antara aspek kemanusiaan dan penguatan ekonomi masyarakat.
Di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana memastikan tidak ada warga yang tertinggal dari jangkauan perhatian dan kebijakan. (BB/Rls)

