Tragedi Bantargebang, Gunung Sampah Runtuh Saat Hujan Deras

Pencarian korban longsor di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat oleh tim gabungan. (Foto: IST)

BEKASI, bicarabali.com – Longsor besar terjadi di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (8/3/2026). Runtuhan “gunung sampah” tersebut menewaskan sedikitnya enam orang dan sempat membuat sejumlah orang lainnya dilaporkan hilang.

Peristiwa ini terjadi di salah satu zona pembuangan di kawasan tempat pengolahan sampah yang menampung limbah dari Jakarta tersebut. Longsoran sampah terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah itu dalam beberapa hari terakhir, membuat tumpukan sampah yang sangat tinggi menjadi labil dan akhirnya runtuh.

Saat kejadian, beberapa truk sampah sedang melakukan aktivitas pembuangan. Di sekitar lokasi juga terdapat sejumlah pemulung serta warung milik warga yang biasa melayani para pekerja di area TPA. Akibat longsoran tersebut, sejumlah orang tertimbun material sampah.

Tim gabungan dari berbagai unsur segera dikerahkan untuk melakukan proses pencarian dan evakuasi korban. Personel yang terlibat berasal dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, TNI, Polri, serta relawan.

Proses evakuasi berlangsung cukup sulit karena korban tertimbun lapisan sampah yang tebal. Petugas menggunakan alat berat seperti ekskavator untuk memindahkan tumpukan sampah yang runtuh.

Selain itu, tim juga menurunkan anjing pelacak guna membantu menemukan korban yang kemungkinan masih tertimbun. Hingga proses evakuasi berlangsung, enam orang dilaporkan meninggal dunia. Di antara korban terdapat sopir truk sampah serta pemilik warung yang berada di sekitar lokasi saat kejadian.

Beberapa identitas korban yang sempat dilaporkan antara lain Enda Widayanti (25) dan Sumine (60), yang diketahui merupakan pemilik warung di area tersebut. Selain itu, terdapat pula korban yang berprofesi sebagai sopir truk pengangkut sampah.

Tragedi ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban. Sejumlah keluarga korban bahkan terlihat menangis saat menunggu proses evakuasi di sekitar lokasi kejadian.

Untuk memudahkan proses penyelamatan, pengiriman sampah ke TPST Bantargebang sempat dihentikan sementara. Langkah ini diambil agar alat berat dan tim pencarian dapat bekerja lebih leluasa tanpa terganggu aktivitas truk pengangkut sampah.

TPST Bantargebang sendiri dikenal sebagai tempat pengolahan sampah terbesar yang menampung limbah dari wilayah ibu kota. Lokasi ini setiap hari menerima ribuan ton sampah dari Jakarta.

Kapasitas yang terus meningkat selama bertahun-tahun membuat gunungan sampah di tempat ini menjulang sangat tinggi, menyerupai bukit atau gunung.

Kondisi tersebut kerap memunculkan kekhawatiran terkait risiko longsor, terutama saat musim hujan. Tumpukan sampah yang terus bertambah, ditambah curah hujan tinggi, dapat memicu pergeseran material sampah yang kemudian runtuh.

Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan serius pengelolaan sampah di wilayah metropolitan. Ketergantungan pada satu lokasi pembuangan dalam jangka panjang dinilai meningkatkan risiko bencana seperti yang terjadi di Bantargebang.

Tragedi longsor ini juga mengingatkan pada peristiwa serupa yang pernah terjadi dalam sejarah pengelolaan sampah di Indonesia, yakni tragedi di Leuwigajah pada 2005 silam, yang menewaskan lebih dari seratus orang akibat runtuhnya gunung sampah setelah hujan lebat.

Hingga kini, petugas masih terus melakukan pemantauan di area longsoran untuk memastikan tidak ada lagi korban yang tertimbun. Pemerintah daerah dan otoritas terkait juga melakukan evaluasi terhadap kondisi keamanan di lokasi TPST Bantargebang. (AWJ/BB)

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *