Lautan Manusia di Catur Muka, Ogoh-ogoh Denpasar Jadi Magnet Turis dan Warga

Ribuan warga dan wisatwan memadati kawasan Catur Muka, Denpasar pada malam Pengerupukan, untuk menyaksikan ogoh-ogoh. (Foto: Tangkapan layar Instagram @irwanfrmnsyah)

DENPASAR, bicarabali.com – Kawasan Catur Muka, Denpasar-Bali, berubah menjadi lautan manusia pada Rabu malam, 18 Maret 2026. Ribuan warga lokal hingga wisatawan mancanegara memadati jantung Kota Denpasar untuk menyaksikan parade ogoh-ogoh yang digelar pada malam pengerupukan, sehari sebelum Hari Raya Nyepi.

Sejak sore hari, arus manusia mulai mengalir menuju kawasan ikonik tersebut. Jalan-jalan utama di pusat kota nyaris lumpuh, sementara aparat dan pecalang berjaga mengatur pergerakan massa yang terus bertambah hingga malam.

Parade ogoh-ogoh tahun ini kembali menunjukkan daya tariknya sebagai salah satu atraksi budaya paling dinanti di Bali. Puluhan ogoh-ogoh dari berbagai banjar di Denpasar diarak bergantian, diiringi tabuhan baleganjur yang menghentak, menciptakan suasana magis sekaligus semarak.

Sejumlah wisatawan asing tampak tak menyembunyikan kekagumannya. Mereka berbaur dengan warga, mengabadikan momen lewat kamera ponsel, bahkan mengikuti arak-arakan dari dekat.

Ogoh-ogoh yang ditampilkan memiliki beragam bentuk, mulai dari figur raksasa menyeramkan hingga karakter kontemporer yang sarat kritik sosial. Kreativitas generasi muda Bali terlihat menonjol dalam detail ukiran, pewarnaan, hingga mekanisme gerak ogoh-ogoh yang semakin kompleks.

Tradisi ini merupakan bagian dari rangkaian ritual menjelang Nyepi, yang dikenal sebagai pengerupukan. Ogoh-ogoh melambangkan bhuta kala atau energi negatif yang harus dinetralisir sebelum memasuki Tahun Baru Saka.

Di akhir arak-arakan, sebagian ogoh-ogoh dimusnahkan sebagai simbol pembersihan alam dan diri manusia dari sifat-sifat buruk.

Meski berlangsung meriah, pelaksanaan parade tahun ini tetap diatur ketat. Pemerintah Kota Denpasar membatasi waktu pawai hingga pukul 00.00 Wita, guna menjaga ketertiban dan mengantisipasi potensi gangguan keamanan.

Selain itu, tidak semua banjar diperbolehkan tampil di titik Catur Muka. Dari total lebih dari seratus banjar di Denpasar, hanya puluhan yang mendapat giliran tampil di pusat kota. Kebijakan ini diambil untuk mengurai kepadatan yang setiap tahun selalu memuncak di lokasi tersebut.

Dinas Perhubungan bersama aparat kepolisian juga menerapkan rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas jalan menuju pusat kota. Penutupan jalan dilakukan secara bertahap sejak sore hari untuk memberi ruang bagi jalannya parade.

Meski demikian, kepadatan tetap tak terhindarkan. Warga rela berdesakan demi mendapatkan posisi terbaik untuk menyaksikan ogoh-ogoh melintas.

Bagi masyarakat Bali, malam pengerupukan bukan sekadar tontonan. Ia adalah bagian penting dari siklus spiritual yang menandai peralihan menuju hari hening. Setelah hiruk-pikuk ogoh-ogoh, seluruh aktivitas di Bali akan berhenti total saat Nyepi.

Bandara tutup, jalanan kosong, dan lampu-lampu dipadamkan. Kontras yang tajam dengan kemeriahan malam sebelumnya justru menjadi makna terdalam dari tradisi ini.

Di tengah gemerlap pariwisata Bali, parade ogoh-ogoh di Catur Muka tetap menjadi ruang di mana tradisi, kreativitas, dan spiritualitas bertemu. Sebuah pengingat bahwa di balik keramaian, Bali selalu punya cara untuk kembali hening. (AWJ/BB)


Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *