6 Oktober 2026

Dua Penulis Bali Bertemu di Lumintang

Desak Mettarini. (Foto: Koleksi Pribadi)

Oleh Angga Wijaya*

“Angga, ya?”

Saya menoleh. Seorang perempuan berdiri beberapa langkah dari saya di pelataran Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar. Suaranya terasa akrab, tetapi wajahnya membutuhkan beberapa detik untuk saya kenali.

“Hai, Mbok Desak Mettarini, ini?”

Kami tertawa lalu berjabat tangan. Pertemuan itu terasa istimewa karena perempuan yang berdiri di hadapan saya bukan orang lain. Ia adalah bagian dari keluarga saya, sekaligus seorang penulis Bali dari generasi yang lebih tua.

Mbok Desak adalah keponakan saya. Ayah saya memiliki seorang kakak laki-laki yang merupakan paman saya. Paman saya itu memiliki seorang putri. Putri paman saya tersebut adalah ibu Mbok Desak. Jadi, ibu Mbok Desak adalah sepupu saya, sedangkan Mbok Desak adalah keponakan saya.

Hubungan keluarga itu sebenarnya sudah kami ketahui sejak lama. Kami juga telah berteman di Facebook selama bertahun-tahun. Namun, kedekatan di media sosial tidak selalu berarti sering bertemu secara langsung. Karena itu, sapaan singkat di Lumintang terasa seperti membuka kembali sebuah hubungan keluarga yang lama berada di kejauhan.

Sabtu, 3 Oktober 2026, kami datang ke Dharma Negara Alaya untuk urusan yang berbeda. Mbok Desak menghadiri seminar tentang spiritualisme Hindu, sementara saya menghadiri peluncuran buku kumpulan cerpen berbahasa Bali yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Denpasar.

Tidak ada janji untuk bertemu. Tidak ada pesan sebelumnya. Kami hanya kebetulan berada di tempat yang sama. Ia datang dari satu acara, saya datang dari acara lain, lalu sebuah pertemuan terjadi begitu saja.

Dharma Negara Alaya sering menjadi tempat berbagai perjumpaan. Anak-anak muda mengerjakan tugas, berlatih musik dan teater, membaca serta menulis puisi. Para pelukis berpameran. Para pegiat kebudayaan bertemu, berbincang dan bertukar gagasan.

Di ruang semacam itu, saya bertemu kembali dengan seorang keponakan yang memiliki perjalanan panjang sebagai penulis. Pertemuan keluarga itu kemudian membawa percakapan kami pada sesuatu yang lebih jauh, yaitu sastra dan ingatan.

Jauh sebelum media sosial menjadi tempat orang mempublikasikan tulisan, Mbok Desak telah menulis puisi dan prosa. Ia mulai menulis sejak SMA. Namanya tercatat dalam Inventarisasi Karya Sastra Indonesia Modern di Bali yang terbit pada 1999.

Pada masa mudanya, karya-karyanya kerap hadir di halaman sastra Bali Post. Pada masa itu, halaman sastra Bali Post Minggu menjadi salah satu ruang penting bagi penulis muda Bali, dengan mendiang Umbu Landu Paranggi sebagai sosok yang berpengaruh di dalamnya.

Saya tidak tahu lagi berapa banyak puisi dan prosa Mbok Desak yang pernah dimuat di sana. Kliping-klipingnya masih perlu dicari. Mungkin sebagian masih tersimpan di rumah. Mungkin sebagian lainnya telah hilang bersama waktu.

Koran mempunyai umur yang pendek. Setelah dibaca, ia bisa dilipat, ditumpuk, dibuang atau terlupakan. Kertas dapat menguning. Tulisan yang pernah dibaca banyak orang pun dapat perlahan menghilang dari ingatan.

Karena itu, keinginan Mbok Desak untuk mengumpulkan kembali puisi-puisinya terasa penting bagi saya. Ini bukan hanya soal menerbitkan buku. Ada bagian dari perjalanan seorang penulis yang sedang dicoba untuk diselamatkan.

Mbok Desak ternyata masih menulis. Beberapa tahun terakhir, puisinya kembali muncul di Tatkala.co. Ada “Aku Mencumbu Waktu”, “Rinduku Bergayut, Ke Mana Kubawa Lari”, “Jika Aku, Jika Kau, Menjadi Diri”, “Sebentar Lagi Gelap Gulita”, dan “Seperti Mimpimu Memeluk Langit”.

Saya membaca beberapa puisinya. Saya menemukan suara yang banyak berbicara tentang waktu, ingatan, Tuhan, kehidupan dan keheningan. Ada sesuatu yang tenang dalam puisi-puisi itu, seperti seseorang yang telah berjalan cukup jauh lalu menoleh untuk melihat kembali jalan yang pernah dilewatinya.

Mungkin karena itu, kumpulan puisinya kelak tidak hanya menjadi buku sastra. Ia juga bisa menjadi catatan perjalanan hidup. Puisi-puisi lama akan berhadapan dengan puisi-puisi baru, dan pembaca dapat melihat perubahan seorang penulis bersama perubahan hidup yang dijalaninya.

Selain menulis, Mbok Desak kini menjalani aktivitas sebagai freelance lawyer. Ia juga tetap bersentuhan dengan dunia seni dan menari. Hidupnya bergerak di beberapa ruang, tetapi sastra rupanya tetap menjadi salah satu tempat ia kembali.

Angga Wijaya (kiri) dan Desak Mettarini.

Dari percakapan kami di Lumintang, saya mengetahui satu keinginan yang sederhana. Mbok Desak ingin mengumpulkan puisi-puisinya sejak masa lalu hingga karya-karya yang ditulisnya sekarang, lalu menerbitkannya menjadi sebuah buku.

Saya langsung mengatakan bahwa saya siap membantu. Saya mengatakan itu sebagai seorang penulis yang lebih muda, tetapi juga sebagai anggota keluarga. Ada sesuatu yang terasa dekat ketika seorang kerabat bercerita tentang keinginannya menerbitkan buku setelah bertahun-tahun menulis.

Saya tahu pekerjaan itu tidak mudah. Tulisan lama perlu dicari. Kliping perlu dibuka kembali. Beberapa puisi mungkin hanya tersimpan dalam ingatan. Ada pula karya yang mungkin sudah tidak diketahui lagi keberadaannya.

Tetapi mungkin justru di situlah menariknya. Kami tidak sekadar mengumpulkan puisi. Kami sedang membuka kembali sebuah bagian dari perjalanan seorang penulis Bali yang kebetulan juga merupakan bagian dari keluarga saya.

Saya membayangkan suatu hari nanti sebuah buku berada di tangan saya. Di dalamnya ada puisi yang ditulis Mbok Desak ketika masih muda, berdampingan dengan puisi yang lahir setelah ia melewati puluhan tahun kehidupan.

Di antara puisi-puisi itu mungkin ada perubahan cara memandang cinta, keluarga, Tuhan, waktu dan kematian. Mungkin juga ada hal-hal yang tidak berubah. Dan justru perubahan itulah yang membuat kumpulan puisi menjadi catatan perjalanan seorang manusia.

Bagi saya, buku itu nantinya adalah rumah bagi tulisan-tulisan yang selama ini tersebar. Puisi yang pernah hidup di halaman koran, tersimpan dalam kliping, muncul kembali di media daring, lalu akhirnya bertemu dalam satu buku.

Saya merasa mendapat kesempatan untuk ikut merawat sebuah jejak. Sebagai penulis yang datang kemudian, saya tahu bahwa setiap generasi memiliki cara sendiri dalam meninggalkan catatan. Ada yang meninggalkannya di koran, ada yang di buku, ada yang di laman internet. Semuanya tetap merupakan bagian dari ingatan sastra.

Saya tidak tahu kapan buku itu akan selesai. Masih ada kliping yang perlu dicari, puisi yang perlu dikumpulkan, dan mungkin beberapa kenangan yang perlu ditelusuri kembali. Tetapi sebuah niat sudah diucapkan di pelataran Dharma Negara Alaya pada sebuah Sabtu siang.

Pertemuan itu membuat saya menyadari bahwa hubungan keluarga tidak selalu tumbuh melalui perjumpaan yang sering. Ada keluarga yang jarang bertemu, tetapi hubungan darah tetap membawa seseorang kembali kepada yang lain.

Siang itu kami datang dengan urusan masing-masing. Ia menghadiri seminar spiritualisme Hindu. Saya menghadiri peluncuran buku cerpen berbahasa Bali. Kami tidak merencanakan pertemuan, tetapi sebuah kebetulan mempertemukan kami di tempat yang sama.

Mungkin begitulah sastra bekerja. Ia mempertemukan manusia dengan manusia, masa lalu dengan masa kini, dan kata-kata yang pernah ditulis dengan orang-orang yang masih ingin membacanya.

Bagi saya, pertemuan dengan Mbok Desak bukan hanya pertemuan dua penulis Bali dari generasi berbeda. Ia juga sebuah pengingat bahwa dalam keluarga, seperti halnya dalam sastra, selalu ada cerita yang belum selesai dituliskan.

Matur Suksma, terima kasih, Mbok Desak. Semoga puisi-puisi itu segera menemukan rumahnya. ***

Tentang Penulis

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis yang tinggal di Denpasar, Bali. Ia pernah menempuh pendidikan Antropologi Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Menulis sejak 2001, ia telah menerbitkan 21 buku, terdiri atas kumpulan puisi, esai, dan karya nonfiksi. Tulisannya terbit di sejumlah media di Indonesia. Ia banyak menulis tentang Bali, kebudayaan, masyarakat, sastra, seni, dan pengalaman sehari-hari.

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *