Oleh I Made Sudiana*
Pengantar: Ketika Tubuh Meminta Perhatian Lebih
Manusia sering kali memandang keberadaan dirinya sebagai sesuatu yang stabil, mapan, dan sepenuhnya berada dalam kendali rasio serta kehendak bebas. Kita merancang masa depan, menetapkan target karier, dan berjalan di atas jalur rutinitas dengan keyakinan penuh bahwa raga akan selalu patuh pada perintah pikiran. Namun, sebuah krisis kesehatan—khususnya penyakit kronis dan mengancam jiwa—hadir sebagai bentuk disrupsi ontologis yang telak. Ia menghancurkan ilusi kendali tersebut dalam sekejap dan memaksa kita berhadapan langsung dengan kerapuhan paling mendasar dari eksistensialisme manusia.
Pengalaman personal saya ketika didiagnosis menderita kondisi sakit kronis pada tahun 2023 menjadi sebuah titik balik, sebuah panggung kontemplasi filsafat yang paling mendalam sepanjang hidup. Perjalanan ini tidak serta-merta datang begitu saja. Ia bermula dari tahun 2022, tahun ketika saya mengira telah memenangkan “kemenangan kecil” setelah sukses menjalani operasi peradangan wasir atau ambien. Rasa lega luar biasa sempat mencuat; saya mengira babak gangguan fisik telah usai dan saya bisa kembali beraktivitas dengan nyaman. Tanpa saya sadari, tubuh ini sedang menyimpan babak badai lain yang jauh lebih besar.
Awal tahun 2023, alarm-alarm kecil itu mulai berbunyi. Dimulai dari gangguan fungsi tubuh saat ke kamar mandi hingga vonis medis yang menjatuhkan mental: saya divonis mengidap kanker prostat. Kata-kata itu terdengar seperti petir di siang bolong. Dunia seakan berhenti berputar, menyisakan pertanyaan eksistensial yang menghantam batin: “Mengapa harus saya?” dan “Apa yang harus saya perbuat di tengah badai ini?”
Labirin Penolakan Menuju Titik Kritis Keberadaan
Setelah vonis itu jatuh, dunia saya runtuh seketika. Dokter menyarankan untuk segera memulai kemoterapi, tetapi ada bagian dalam diri saya yang berontak keras dan berteriak, “Saya belum siap!” Ketidaksiapan itu bukan sekadar fobia terhadap jarum suntik atau obat-obatan kimia, melainkan hantaman guncangan mental yang luar biasa.
Dalam filsafat eksistensialisme, jiwa yang terluka kerap kali menyeret fisik ikut merana. Selama hampir sebulan penuh pada tahun 2023, saya kehilangan kemandirian yang selama ini membanggakan. Saya yang biasanya aktif—menyetir mobil sendiri, mengendarai sepeda motor ke mana pun, serta aktif dalam berbagai agenda sosial dan akademis—tiba-tiba terempas dalam ketidakberdayaan total. Tubuh terasa sakit di sekujur tulang dan sendi, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kegiatan sederhana seperti duduk di kursi mobil menjadi sebuah siksaan. Saat harus kontrol ke rumah sakit, saya bahkan tidak sanggup duduk di kursi depan mendampingi sopir; saya harus berbaring di jok baris kedua sambil menahan nyeri yang menjalar.
Pada fase ini, saya mengalami apa yang disebut oleh filsuf Georg Wilhelm Friedrich Hegel sebagai tahap antitesis. Tubuh tidak lagi menjadi instrumen kebebasan, melainkan “penjara biologis” yang menyiksa. Penolakan saya terhadap kemoterapi pada masa itu adalah bentuk perlawanan epistemik yang keliru: saya memandang pengobatan medis bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai musuh asing yang menakutkan.
Epistemologi Penerimaan: Merangkul, Bukan Memusuhi
Memasuki tahun 2024, perlahan-lahan terjadi pergeseran kesadaran dalam diri saya. Melalui pencarian keseimbangan lewat terapi pendukung, refleksi, obat herbal, serta ruang kontemplasi yang sunyi, saya sampai pada sebuah pencerahan batin. Penyakit ini bukanlah musuh bebuyutan yang harus dibenci sampai mati, melainkan bagian dari realitas biologis tubuh yang sedang meminta perhatian lebih.
Pergeseran epistemik ini disokong oleh dua energi besar. Pertama, kehadiran dan dukungan komunitas. Keterbukaan saya untuk berbagi cerita kepada sahabat-sahabat dekat—seperti Wayan Juniarta, Gung Mas, Adnyana Ole, dan Sugi Lanus—berhasil meruntuhkan isolasi eksistensial yang menjerat saya. Kehadiran mereka memvalidasi bahwa saya tidak sedang berjuang sendirian di tengah lautan badai. Kedua, re-orientasi makna terhadap kemoterapi. Antara Mei hingga Oktober 2024, dengan mengesampingkan keraguan orang-orang di sekitar, saya akhirnya memutuskan untuk menjalani kemoterapi siklus pertama secara disiplin setiap 21 hari.
Persepsi saya berubah total: tetesan cairan kemoterapi yang tadinya saya anggap sebagai “racun” kini saya maknai sebagai “kawan” yang membantu membersihkan sel-sel pemberontak di dalam tubuh. Respons positif berupa penurunan angka laboratorium dan pulihnya stamina membawa saya kembali ke dunia profesional sebagai peneliti di Jakarta pada awal tahun 2025.
Kendati demikian, dialektika kehidupan terus menguji. Ketika hasil laboratorium di RS Prof. Ngoerah pada Maret 2025 menunjukkan perlunya fase kemoterapi kedua (Mei–Oktober 2025), saya tidak lagi jatuh ke dalam jurang stres seperti tahun 2023. Saya menghadapinya dengan prinsip “penerimaan tanpa perlawanan” (surrender without defeat). Beruntung pula, kebijakan penempatan kerja kembali ke daerah pada awal tahun 2026 membawa saya bertugas di Denpasar, sehingga saya bisa bekerja sambil tetap rutin mengontrol kesehatan di Bali.
Transendensi Akademik: Menyalakan Kembali Kehendak Berkarya
Sintesis tertinggi dari perjalanan dialektis ini mewujud pada sebuah keputusan besar: mendaftar dan diterima sebagai mahasiswa program doktor (S-3) di Denpasar, yang dimulai pada bulan Agustus 2026.
Bagi sebagian orang, melanjutkan studi S-3 di tengah riwayat penyakit kronis mungkin dianggap sebagai beban tambahan yang nekat. Saya terngiang dengan selentingan orang, sakit kok kuliah. Namun, dari kacamata ontologis, keputusan ini adalah bentuk transendensi diri. Saya menolak dipinggirkan oleh keadaan menjadi sekadar “pasien kanker”. Sebaliknya, saya merebut kembali kedaulatan identitas saya sebagai seorang pembelajar, peneliti, dan ilmuwan.
Tentu saja, dinamika kuliah di jenjang doktoral ini menghadirkan tantangan fisik yang nyata. Ketika tubuh tidak lagi sebugar dulu, saat rasa lemas atau kesemutan menyerang kaki setelah duduk terlalu lama di ruang kuliah—hingga terkadang saya harus menggunakan tongkat bantu jalan—di situlah ketahanan batin diuji. Istri tercinta dengan setia mengantar jemput saya ke kerja dan kampus karena saya tidak lagi berani mengendarai sepeda motor. Di samping itu, kehangatan dan kepedulian luar biasa dari 17 rekan seangkatan program doktor serta para dosen pengampu berhasil meruntuhkan sekat-sekat keterbatasan fisik tersebut.
Dengan semangat baja untuk sembuh dan menyelesaikan studi tepat waktu, seluruh rasa sakit itu saya ajak berdamai. Pengalaman kesakitan (illness experience) ini tidak melemahkan daya nalar saya; justru ia bertransformasi menjadi bahan bakar intelektual, memperkaya empati kemanusiaan, serta mempertajam analisis budaya dan bahasa yang saya tekuni.
Penutup: Sakit sebagai Guru Kehidupan
Meninjau kembali perjalanan hidup ini melalui kerangka Filsafat Ilmu—baik dari dimensi ontologi, epistemologi, maupun aksiologi—kita dapat menarik tiga simpulan esensial: (1) hakikat tubuh dan sakit secara ontologis: sakit bukanlah bentuk negasi atau kehancuran atas eksistensi manusia, melainkan sebuah modulasi atau cara baru bagi manusia untuk “mengada di dunia” (being-in-the-world). Tubuh yang rentan harus dirangkul dalam seluruh keterbatasannya, bukan diperangi secara membabi buta; (2) penerimaan radikal sebagai katalis resiliensi: pergeseran mental dari fase penolakan menuju penerimaan tanpa perlawanan terbukti menjadi obat penawar jiwa yang membebaskan diri dari penderitaan psikologis yang tidak perlu. Kepatuhan pada kearifan medis adalah wujud nyata cinta kasih terhadap raga sendiri; (3) transendensi akademik dan kehendak bermakna: keputusan melangkah ke jenjang pendidikan doktor adalah wujud dari will to meaning (kehendak mencari makna) ala Viktor Frankl. Penderitaan fisik tidak pernah berhak mereduksi semangat akademis; sebaliknya, ia memperdalam dimensi aksiologis ilmu pengetahuan bahwa riset, pendidikan, dan peradaban selalu berakar dari ketangguhan jiwa manusia menghadapi ujian hidup.
Sakit mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, merenung, dan menyadari bahwa di balik kerapuhan raga, tersimpan kekuatan jiwa yang tak terbatas untuk terus mencipta, merawat harapan, dan berkontribusi bagi semesta. ***
Tentang Penulis
*) I Made Sudiana, Peneliti bahasa di Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan mahasiswa Program Doktor Linguistik Universitas Udayana.
