Tidur jam berapa semalam? Apakah
tidurmu nyenyak, apakah bermimpi buruk
sehingga engkau terbangun tengah malam?
Lalu terjaga hingga suara ayam berkokok
tanda pagi hari menjelang?”
Tak ada yang bertanya itu, kecuali dokter
yang setia menemaniku. Orang-orang sibuk
dengan dirinya sendiri; menatap layar ponsel
pintar, tersenyum dan tertawa sendiri bagai
orang sakit jiwa. Mereka tidak menyadari.
Hidup di kamar sempit bersama ego
yang kian besar. Kenyang sendiri,
tak peduli tetangga belum makan,
menahan lapar karena upah habis
jauh sebelum waktu gajian.
Terpaksa berutang lagi dan lagi.
Kita dididik menjadi egois sejak kecil.
Televisi terus mengajarkan kemunafikan,
mimpi-mimpi besar penuhi otak kita,
menjadi halusinasi yang membuat
kita bertemu di ruang tunggu klinik ini.
Tak ada percakapan, tentu saja.
Sibuk sendiri dengan ponsel di
genggaman tangan yang lelah.
Kota kian sesak, jalanan macet,
tekanan hidup semakin berat,
sementara politisi melupakan
janji-janji saat kampanye dulu.
Di headline media online, kenyataan
terpaksa kita akui dengan rasa malu:
juara satu angka bunuh diri, pengidap
gangguan jiwa berat terbanyak.
Bagai angin, dianggap akan berlalu.
Sebab kita mudah lupa, itu selalu.
2024
Tentang Penyair
I Ketut Angga Wijaya, lahir di Negara, Jembrana, Bali, 14 Februari 1984. Mengawali karir kepengarangan sebagai penulis puisi sejak SMA tahun 2001 saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya di kota kelahirannya, tempat ia menimba banyak ilmu bersama Nanoq da Kansas, guru pertama yang mengajarinya menulis, bermain teater, membaca kehidupan, dan melihat dunia dari sisi lain.
Pendidikan terakhir ditempuhnya pada Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali (2004-2009), tidak tamat karena di akhir studi mengalami skizofrenia. Sejak 2018, ia telah menulis dan menerbitkan 21 buku, terdiri dari buku kumpulan puisi dan buku kumpulan esai. Buku puisi terbarunya, Meditasi Telepon Genggam, diterbitkan oleh penerbit Sonar Pustaka, Yogyakarta (2025).
Pada 2021, beberapa puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Korea bersama penyair difabel Asia lainnya dan termuat dalam buku puisi Nasihat Musim yang Kupeluk, sekaligus mendapat penghargaan dari Korea Cultural Centre atas dedikasi, semangat, dan produktivitas menulis.
Ia meyakini menulis adalah terapi dan medium katarsis, membawanya menemukan diri dan kembali menyusun kepingan diri yang dulu pernah hilang. Sembari menjadi jurnalis, ia terus menulis juga bergiat pada beberapa komunitas di Denpasar. Ia bisa dijumpai di akun Instagram @anggawijaya548.
