Oleh dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K)
Kampanye kesehatan mental semakin sering mengajak masyarakat mengenali persoalan kejiwaan, mengurangi stigma, dan tidak ragu mencari pertolongan profesional. Kesadaran ini penting. Namun, perjalanan pemulihan tidak selesai ketika seseorang mengetahui bahwa dirinya membutuhkan bantuan.
Ada pelayanan yang harus dijangkau, keluarga yang perlu didampingi, tekanan ekonomi yang harus dihadapi, serta lingkungan sosial yang ikut menentukan apakah seseorang dapat kembali menjalani kehidupan secara bermartabat.
Di Bali, kesehatan mental tidak dapat hanya dibicarakan melalui kampanye dan edukasi.
Kita perlu melihat persoalan ini lebih dekat, melalui kehidupan orang-orang yang membutuhkan pertolongan, keluarga yang merawat, pekerja yang menghadapi tekanan, serta penyintas yang berusaha membangun kembali kehidupannya.
Kesadaran merupakan pintu masuk. Tetapi, setelah pintu itu terbuka, siapa yang hadir untuk membantu?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena persoalan kesehatan mental tidak selalu berhenti pada kurangnya pengetahuan. Banyak orang mungkin sudah memahami bahwa gangguan kejiwaan membutuhkan penanganan profesional. Mereka juga mengetahui pentingnya pengobatan dan dukungan keluarga.
Namun, pengetahuan tersebut belum tentu membuat pertolongan menjadi mudah dijangkau.
Ada jarak antara mengetahui kebutuhan dan memperoleh pelayanan. Jarak itu dapat dipengaruhi oleh biaya, ketersediaan tenaga profesional, informasi mengenai layanan, dukungan keluarga, serta kondisi sosial dan ekonomi yang dihadapi seseorang.
Karena itu, kesehatan mental membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Edukasi harus berjalan bersama pelayanan, pendampingan, dan advokasi. Kita perlu memastikan bahwa kepedulian tidak hanya hadir dalam bentuk pesan, tetapi juga dalam tindakan yang dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Kesadaran Bertambah, Persoalan Belum Selesai
Kampanye kesehatan mental memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Informasi yang tepat membantu seseorang mengenali tanda-tanda awal gangguan kejiwaan, memahami pentingnya pertolongan profesional, dan mengurangi anggapan bahwa masalah kesehatan mental merupakan sesuatu yang memalukan.
Perubahan cara pandang ini perlu terus diperkuat. Stigma masih dapat membuat seseorang menyembunyikan kondisi yang dialaminya. Ketakutan terhadap penilaian lingkungan juga dapat membuat keluarga enggan mencari bantuan.
Namun, kita perlu menyadari bahwa kampanye kesadaran tidak otomatis menyelesaikan persoalan pelayanan.
Seseorang mungkin sudah mengetahui bahwa dirinya membutuhkan pertolongan, tetapi tidak mengetahui tempat yang dapat dituju. Keluarga mungkin memahami pentingnya pengobatan, tetapi menghadapi kesulitan dalam memastikan keberlanjutan pelayanan.
Ada pula orang yang sudah mendapatkan penanganan, tetapi membutuhkan dukungan lebih lanjut untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam situasi seperti ini, ajakan untuk mencari pertolongan harus disertai informasi yang jelas mengenai bagaimana pertolongan dapat diperoleh.
Edukasi kesehatan mental perlu menjelaskan bukan hanya apa yang harus dikenali, melainkan juga bagaimana seseorang dapat mengakses pelayanan.
Masyarakat membutuhkan informasi mengenai layanan yang tersedia, proses memperoleh bantuan, serta dukungan yang dapat diberikan ketika menghadapi persoalan kejiwaan.
Pada saat yang sama, pelayanan harus mampu merespons kebutuhan masyarakat.
Kita tidak bisa berharap seseorang memperoleh pertolongan hanya dengan meningkatkan pengetahuan apabila akses terhadap pelayanan masih menjadi persoalan. Kesadaran dan pelayanan harus saling terhubung.
Kampanye yang terus berulang tanpa perubahan dalam akses pelayanan berisiko membuat masyarakat semakin mengenal istilah kesehatan mental, tetapi tetap menghadapi kesulitan ketika membutuhkan bantuan.
Oleh karena itu, keberhasilan edukasi kesehatan mental tidak cukup diukur dari seberapa banyak orang memahami persoalan kejiwaan. Kita juga perlu melihat apakah orang yang membutuhkan pertolongan benar-benar dapat memperolehnya.
Setelah Rantai Dilepas, Siapa yang Datang?
Persoalan kesehatan mental di Bali juga dapat dilihat melalui penanganan orang dengan gangguan jiwa yang mengalami pemasungan.
Pemasungan merupakan persoalan kemanusiaan yang menunjukkan bagaimana seseorang dapat kehilangan hak untuk hidup secara bermartabat ketika dukungan yang dibutuhkan tidak tersedia.
Melepaskan rantai atau membuka ruang gerak seseorang merupakan tindakan penting. Namun, pembebasan tidak boleh dipahami sebagai akhir dari persoalan.
Ada pertanyaan yang perlu kita ajukan setelah seseorang dibebaskan dari pemasungan: “Rantainya dilepas. Lalu siapa yang datang minggu depan?”
Pertanyaan ini mengingatkan kita bahwa pemulihan membutuhkan keberlanjutan.
Setelah seseorang dibebaskan, siapa yang mendampingi? Bagaimana keluarga memperoleh dukungan? Apakah pengobatan dapat dilanjutkan? Apakah orang tersebut memiliki kesempatan untuk berinteraksi kembali dengan lingkungan? Apakah ada pelayanan yang dapat diakses ketika keluarga menghadapi kesulitan?
Pembebasan dari pemasungan tidak dapat berdiri sendiri. Orang dengan gangguan jiwa membutuhkan penanganan yang berkelanjutan, sementara keluarga membutuhkan dukungan untuk menghadapi situasi yang mungkin tidak mudah.
Keluarga sering berada dalam posisi yang berat. Mereka harus merawat anggota keluarga, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan menghadapi berbagai tuntutan kehidupan. Ketika dukungan pelayanan tidak memadai, beban tersebut dapat semakin besar.
Karena itu, pemulihan tidak boleh sepenuhnya dibebankan kepada keluarga.
Pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas, dan masyarakat memiliki peran untuk memastikan bahwa seseorang yang telah dibebaskan dari pemasungan tidak kembali menghadapi situasi yang sama.
Kita perlu membangun hubungan antara pelayanan kesehatan, dukungan sosial, dan pendampingan keluarga. Penanganan tidak cukup dilakukan ketika seseorang berada dalam kondisi krisis. Dukungan harus tetap tersedia setelah kondisi tersebut berlalu.
Pemasungan bukan hanya persoalan keluarga. Ia juga menunjukkan pentingnya sistem pelayanan yang mampu menjangkau masyarakat dan memberikan dukungan secara berkelanjutan.
Seseorang yang membutuhkan pertolongan harus memiliki kesempatan untuk mendapatkan pelayanan tanpa kehilangan haknya sebagai manusia.
Self-Care Tidak Selalu Sesederhana Anjuran
Dalam pembicaraan kesehatan mental, kita sering mendengar anjuran untuk menjaga diri, beristirahat, mengelola stres, dan memberikan ruang bagi kebutuhan pribadi.
Self-care merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesejahteraan psikologis. Namun, kita perlu memahami bahwa kemampuan seseorang untuk merawat dirinya sangat dipengaruhi oleh kondisi kehidupan yang sedang dihadapi.
Tidak semua orang memiliki ruang yang sama untuk beristirahat.
Ada orang yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada keluarga yang menghadapi tekanan ekonomi. Ada pula seseorang yang harus menjalankan berbagai tanggung jawab sosial ketika dirinya sedang mengalami kesulitan.
Dalam kehidupan masyarakat Bali, hubungan sosial dan kewajiban adat merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Upacara dan kegiatan adat dapat menjadi ruang kebersamaan, memperkuat hubungan keluarga, serta memberikan dukungan sosial. Namun, dalam situasi tertentu, kewajiban sosial juga dapat menghadirkan tekanan, terutama ketika seseorang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
Seseorang mungkin ingin beristirahat, tetapi masih harus memikirkan pekerjaan. Ia mungkin ingin memberikan perhatian kepada kondisi psikologisnya, tetapi memiliki tanggung jawab keluarga yang tidak dapat ditinggalkan.
Dalam keadaan seperti ini, anjuran untuk menjaga diri perlu disampaikan dengan pemahaman terhadap kondisi kehidupan seseorang.
Kita tidak bisa hanya mengatakan bahwa seseorang harus mengelola stres tanpa memahami sumber tekanan yang sedang dihadapinya.
Self-care tidak selalu berarti seseorang harus menyediakan waktu dan biaya untuk melakukan aktivitas tertentu. Merawat diri juga berkaitan dengan kemampuan memperoleh dukungan, memiliki ruang untuk berbicara, serta mendapatkan kesempatan untuk menjalani kehidupan tanpa tekanan yang berlebihan.
Dukungan sosial di lingkungan adat dan komunitas dapat menjadi kekuatan apabila hadir secara empatik.
Lingkungan perlu memberikan ruang bagi seseorang yang sedang mengalami kesulitan. Jangan sampai kewajiban sosial justru menambah rasa bersalah karena seseorang dianggap tidak mampu memenuhi tuntutan yang ada.
Kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan bagaimana seseorang mengelola pikirannya. Ia juga berhubungan dengan bagaimana lingkungan memberi ruang untuk hidup, bekerja, beristirahat, dan meminta pertolongan.
Kita perlu membicarakan kesehatan mental dengan memahami kehidupan masyarakat secara utuh.
Tekanan Psikologis di Balik Kehidupan Kerja
Bali memiliki kehidupan ekonomi yang berkaitan erat dengan sektor pariwisata. Di balik aktivitas pelayanan, mobilitas, dan berbagai pekerjaan yang menopang sektor tersebut, terdapat manusia yang juga membutuhkan perhatian terhadap kesejahteraan psikologisnya.
Pekerja pariwisata dapat menghadapi tuntutan pelayanan, jam kerja, dan ketidakpastian kondisi ekonomi. Sementara itu, awak kapal dapat menghadapi keterpisahan dari keluarga, keterbatasan ruang, serta tekanan selama bekerja jauh dari rumah.
Kondisi tersebut tidak berarti bahwa setiap pekerja mengalami gangguan mental. Namun, lingkungan kerja dan situasi kehidupan dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang.
Tekanan pekerjaan, keterbatasan waktu, dan hubungan sosial yang tidak selalu mudah merupakan bagian dari kondisi yang perlu diperhatikan dalam pembicaraan kesehatan mental.
Kita perlu memastikan bahwa edukasi kesehatan mental juga menjangkau kelompok pekerja yang menghadapi situasi tersebut.
Mereka mungkin tidak selalu memiliki kesempatan untuk mengikuti kegiatan edukasi. Mereka juga mungkin menghadapi kesulitan untuk membicarakan persoalan psikologis karena khawatir dianggap tidak mampu menjalankan pekerjaan.
Padahal, kebutuhan untuk memperoleh dukungan tidak membuat seseorang menjadi lemah.
Lingkungan kerja perlu memberikan ruang bagi pekerja untuk menyampaikan kesulitan yang dihadapi. Akses terhadap bantuan dan kesempatan untuk berbicara secara aman merupakan bagian penting dari perhatian terhadap kesehatan mental.
Kesehatan mental di tempat kerja tidak cukup hanya melalui kampanye. Ia membutuhkan lingkungan yang memungkinkan seseorang mendapatkan dukungan ketika menghadapi tekanan.
Dalam konteks Bali, perhatian terhadap kesehatan mental pekerja perlu menjadi bagian dari pembicaraan yang lebih luas mengenai kehidupan masyarakat.
Kita tidak boleh hanya melihat aktivitas ekonomi dan pelayanan yang berlangsung setiap hari. Kita juga perlu melihat manusia yang menjalankan aktivitas tersebut.
Penyintas Bukan Sekadar Sumber Cerita
Salah satu hal penting dalam gerakan kesehatan mental adalah keterlibatan penyintas.
Pengalaman penyintas dapat membantu masyarakat memahami gangguan kejiwaan dengan cara yang lebih dekat. Mereka dapat menceritakan bagaimana menghadapi stigma, menjalani pengobatan, memperoleh dukungan, dan membangun kembali kehidupan.
Kesaksian tersebut memiliki nilai penting dalam edukasi.
Namun, penyintas tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai orang yang diminta berbagi cerita untuk menginspirasi masyarakat.
Mereka juga memiliki pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman menjalani pelayanan kesehatan mental.
Penyintas mengetahui bagaimana rasanya mencari pertolongan. Mereka memahami bahwa proses pemulihan tidak selalu berjalan lurus. Mereka juga mengetahui bahwa kebutuhan setiap orang dapat berbeda.
Pengalaman tersebut merupakan sumber pengetahuan yang penting.
Karena itu, penyintas perlu dilibatkan dalam penyusunan program, perencanaan kegiatan, pelaksanaan pelayanan, hingga evaluasi.
Mereka bukan hanya penerima manfaat dari sebuah program. Mereka juga dapat membantu menentukan apakah program tersebut benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Keterlibatan penyintas akan membuat gerakan kesehatan mental lebih dekat dengan kehidupan nyata.
Ketika sebuah program dirancang tanpa mendengarkan pengalaman orang yang menjalani pemulihan, ada kemungkinan kebutuhan mereka tidak sepenuhnya dipahami.
Sebaliknya, ketika penyintas diberi ruang untuk berpartisipasi, pengalaman mereka dapat menjadi dasar untuk memperbaiki pelayanan.
Kita perlu mengubah cara memandang penyintas.
Mereka bukan sekadar orang yang memiliki pengalaman masa lalu dengan gangguan kejiwaan. Mereka adalah individu yang memiliki kemampuan, pengetahuan, dan kesempatan untuk berkontribusi dalam kehidupan masyarakat.
Pemulihan bukan berarti seseorang harus kehilangan identitas atau pengalaman hidupnya.
Pengalaman menjalani gangguan kejiwaan dapat menjadi bagian dari perjalanan seseorang, tetapi tidak harus menentukan seluruh kehidupannya.
Penyintas berhak memperoleh kesempatan untuk bekerja, berkarya, berinteraksi, dan berpartisipasi dalam masyarakat.
Gerakan kesehatan mental perlu membuka ruang bagi kesempatan tersebut.
Komunitas sebagai Ruang Pemulihan
Pelayanan kesehatan mental membutuhkan dukungan yang tidak berhenti pada hubungan antara tenaga kesehatan dan orang yang membutuhkan pertolongan.
Kehidupan seseorang berlangsung di tengah keluarga, lingkungan sosial, dan komunitas.
Karena itu, komunitas memiliki peran penting dalam mendukung pemulihan.
Komunitas dapat menjadi ruang untuk bertemu, berbagi pengalaman, memperoleh informasi, dan membangun hubungan sosial.
Bagi seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan, kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain dapat menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Namun, komunitas tidak boleh hanya dipahami sebagai tempat berkumpul.
Ia perlu menjadi ruang yang memungkinkan seseorang merasa diterima, memperoleh dukungan, dan berpartisipasi tanpa harus terus-menerus ditempatkan sebagai orang yang membutuhkan pertolongan.
Keluarga juga membutuhkan ruang untuk memperoleh informasi dan berbagi pengalaman.
Mereka perlu memahami bahwa proses pemulihan dapat membutuhkan waktu. Kebutuhan seseorang dapat berubah, dan dukungan yang diperlukan tidak selalu sama.
Komunitas dapat membantu membangun hubungan antara keluarga, penyintas, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Dalam konteks Bali, dukungan komunitas juga dapat berhubungan dengan kehidupan sosial dan lingkungan adat.
Kekuatan hubungan sosial perlu diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih empatik.
Kita perlu memastikan bahwa seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan tidak kehilangan kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat.
Dukungan komunitas tidak menggantikan pelayanan profesional. Namun, komunitas dapat membantu memperkuat hubungan sosial dan mendukung keberlanjutan pemulihan.
Dengan demikian, kesehatan mental tidak hanya menjadi urusan individu atau keluarga.
Ia menjadi bagian dari tanggung jawab bersama.
Dari Kesadaran Menuju Advokasi
Kesehatan mental di Bali membutuhkan pendekatan yang menghubungkan edukasi, pelayanan, dukungan sosial, dan advokasi.
Kesadaran tetap menjadi langkah penting. Masyarakat perlu memahami persoalan kejiwaan, mengenali tanda-tandanya, dan mengurangi stigma.
Namun, kesadaran harus diikuti oleh akses terhadap pertolongan.
Orang yang dibebaskan dari pemasungan membutuhkan pendampingan setelahnya. Keluarga membutuhkan dukungan, bukan sekadar tanggung jawab. Pekerja membutuhkan ruang aman untuk membicarakan tekanan psikologis. Penyintas perlu dilibatkan dalam merancang program yang menyangkut kehidupan mereka.
Kita juga perlu memperhatikan kondisi sosial dan ekonomi yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis.
Ajakan untuk menjaga kesehatan mental harus disertai pemahaman terhadap kehidupan masyarakat.
Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk memperoleh pelayanan. Tidak semua keluarga memiliki dukungan yang memadai. Tidak semua pekerja memiliki kesempatan untuk membicarakan persoalan psikologisnya.
Karena itu, gerakan kesehatan mental perlu terus memperkuat hubungan antara masyarakat dan pelayanan.
Kepedulian tidak cukup hanya hadir ketika seseorang mengalami krisis.
Ia perlu hadir ketika seseorang membutuhkan informasi, ketika keluarga mulai menghadapi kesulitan, ketika pekerja mengalami tekanan, dan ketika penyintas membutuhkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam masyarakat.
Pertanyaan tentang kesehatan mental akhirnya tidak hanya berkisar pada seberapa banyak masyarakat memahami persoalan ini.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah seseorang yang membutuhkan bantuan benar-benar dapat memperolehnya.
Apakah keluarga memiliki dukungan ketika menghadapi kesulitan? Apakah pelayanan dapat dijangkau? Apakah penyintas memiliki kesempatan untuk ikut menentukan program yang menyangkut kehidupannya?
Kesadaran membuka pintu. Tetapi pelayanan, dukungan, dan keterlibatan penyintas menentukan apakah seseorang dapat melangkah lebih jauh.
Bali tidak cukup hanya mengajak masyarakat peduli kesehatan mental.
Kita perlu memastikan bahwa kepedulian tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari, ketika seseorang membutuhkan pertolongan, ketika keluarga mulai kelelahan, dan ketika pemulihan membutuhkan waktu.
Kesehatan mental bukan hanya tentang mengenali masalah. Ia juga tentang memastikan bahwa tidak ada orang yang harus menghadapi masalah itu sendirian. ***
Denpasar, Oktober 2026
Biodata Penulis
dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K) adalah psikiater di Bali Mental Health Clinic. Ia merupakan inisiator berdirinya Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Rumah Berdaya Denpasar. Sebagai pegiat isu kesehatan mental, ia terus aktif memberikan edukasi kesehatan mental serta mendorong dukungan dan pemberdayaan bagi orang dengan gangguan jiwa, penyintas, dan keluarga. Ia dapat dijumpai di akun Instagram @gstraiwiguna.
