KLUNGKUNG, Bicarabali.com – Banner promosi yang biasanya berakhir menjadi sampah setelah acara ternyata bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Rumah BUMN Klungkung membuktikannya melalui pelatihan pembuatan tote bag atau tas belanja dari banner bekas yang digelar di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Klungkung pada awal Oktober 2026 lalu.
Pelatihan bertajuk “Upcycling Banner Bekas Menjadi Tote Bag” ini melibatkan sepuluh peserta yang terdiri atas mitra binaan Rumah BUMN Klungkung dan peserta umum. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mengurangi limbah visual sekaligus membuka peluang usaha melalui pemanfaatan kembali material bekas.
Banner berbahan plastik tebal atau flexi membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Tanpa pengelolaan yang tepat, material tersebut berpotensi menambah timbunan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Melalui pelatihan ini, peserta diajak melihat bahwa banner bekas tidak harus berakhir sebagai sampah. Dengan keterampilan dan kreativitas, material tersebut dapat diubah menjadi tas yang bisa digunakan kembali untuk berbelanja.
Pelatihan menghadirkan Dian Susanti, pemilik Econiq, sebagai mentor. Econiq merupakan usaha yang bergerak di bidang upcycled textiles, yakni mengolah kembali limbah tekstil dan barang bekas menjadi produk baru yang memiliki nilai guna.
Bahan yang biasa diolah Econiq antara lain seragam atau coverall Pertamina, handuk lama hotel, hingga pakaian bekas. Material tersebut kemudian diubah menjadi berbagai produk, seperti tas, pouch, bantal leher, lanyard, suvenir, hingga seragam korporat sesuai pesanan.

Peserta Belajar Menjahit dari Bahan Bekas
Pelatihan berlangsung dalam dua tahap. Pada sesi pertama, peserta diperkenalkan dengan berbagai jenis bahan bekas yang dapat dimanfaatkan untuk membuat tas, termasuk cara membersihkannya sebelum digunakan.
Banner yang digunakan dalam pelatihan berasal dari kegiatan Rumah BUMN Klungkung sebelumnya. Selain itu, peserta juga dapat memanfaatkan bahan lain, seperti karung beras serta karung pakan kucing atau anjing.
Peserta kemudian belajar membuat pola, mengenal mesin jahit, dan menerapkan pola tersebut pada material yang akan diolah. Pada sesi kedua, mereka berlatih mengoperasikan mesin jahit serta menyatukan potongan-potongan bahan hingga menjadi tote bag.
Proses ini membutuhkan ketelitian agar bentuk tas presisi dan hasil jahitan rapi. Meski menghadapi kesulitan, peserta tetap antusias mengikuti pelatihan sampai selesai.
Dian Susanti mengaku kagum melihat semangat peserta dalam mengubah spanduk bekas menjadi tas belanja yang modis dan kokoh.
“Mengisi pelatihan upcycling hari ini sungguh luar biasa! Saya sangat kagum melihat antusiasme para peserta saat mengubah spanduk bekas yang tadinya dianggap sampah menjadi produk tas belanja yang modis dan kokoh,” ujar Dian.
Menurut dia, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang berbagi keterampilan menjahit dasar, tetapi juga membuka wawasan mengenai potensi ekonomi limbah.
“Melalui kelas ini, kami tidak hanya berbagi keterampilan menjahit dasar, tetapi juga membuka mata bahwa limbah banner bisa punya nilai ekonomi tinggi jika dikelola secara kreatif,” katanya.
Mengurangi Sampah Sekaligus Membuka Peluang Ekonomi
Kemala Dewi dari Rumah BUMN Klungkung mengatakan, pelatihan tersebut mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan, terutama dengan mengurangi pencemaran tanah dan udara akibat penimbunan maupun pembakaran banner bekas.
Material yang sebelumnya dibuang dapat dimanfaatkan kembali menjadi tas belanja. Penggunaan tas tersebut juga diharapkan membantu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kantong plastik sekali pakai.
Selain memberikan manfaat lingkungan, kerajinan dari banner bekas berpotensi dikembangkan menjadi peluang usaha bagi peserta.
Antusiasme itu dirasakan pula oleh Ratna, peserta yang merupakan bagian dari UMKM Utenaya. Ia mengaku senang dapat berbagi pengalaman dengan peserta lain dalam lokakarya tersebut.
“Seru banget hari ini bisa sharing bareng teman-teman di workshop Upcycled Banner! Gak nyangka, dari spanduk-spanduk bekas event, bisa disulap jadi tote bag yang super keren,” ujar Ratna.
Pelatihan ini menunjukkan bahwa pengurangan sampah dapat berjalan beriringan dengan pengembangan keterampilan dan kegiatan ekonomi kreatif. Banner bekas yang sebelumnya tidak lagi digunakan berpeluang memperoleh kehidupan baru sebagai produk fungsional, bahkan menjadi sumber pendapatan apabila dikembangkan secara berkelanjutan. (WIJ/BB)
