25 Oktober 2026

Lemhannas Dorong Generasi Muda Melek Geopolitik

Gubernur Lemhannas RI Ace Hasan Syadzily bersama jajaran ITB dan mahasiswa dalam Studium Generale bertema “Generasi Muda dan Kesadaran Geopolitik” di Aula Barat ITB, Bandung, Rabu. (Foto: Lemhanas RI)

BANDUNG, Bicarabali.com – Generasi muda perlu memahami geopolitik agar mampu membaca perubahan dunia, berpikir kritis, dan menentukan sikap terhadap berbagai persoalan yang berdampak pada kepentingan nasional. Kesadaran ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Pesan tersebut disampaikan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., saat memberikan kuliah umum bertema “Membangun Kesadaran Geopolitik Generasi Muda: Memahami Dunia, Menentukan Posisi, Memberi Kontribusi” di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (7/10/2026).

Dalam paparannya, Ace menjelaskan bahwa kesadaran geopolitik merupakan kemampuan membaca, memahami, dan menanggapi dinamika kekuatan global secara kritis dan strategis. Kemampuan ini diperlukan karena perkembangan internasional dapat memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk melalui perubahan harga energi, gangguan rantai pasok, dan persaingan penguasaan sumber daya strategis.

Sebagai contoh, Ace menyebut gangguan di Selat Hormuz akibat konflik Iran-Israel yang, menurut paparannya, membuat biaya logistik naik hingga 150–200 persen. Ia juga menyinggung longsor di tambang Grasberg, Papua, pada 2025 yang disebutnya mengurangi pasokan tembaga dunia.

Kedua contoh tersebut menunjukkan bahwa peristiwa global dapat berdampak pada Indonesia. Karena itu, Indonesia perlu memahami posisi dan kepentingannya di tengah persaingan antarnegara.

Lima Kemampuan yang Perlu Dimiliki Generasi Muda

Ace menekankan bahwa kesadaran geopolitik dapat dimulai dari kebiasaan memeriksa informasi secara kritis. Generasi muda tidak cukup hanya membaca suatu berita, tetapi juga perlu mengetahui siapa yang menyampaikan informasi tersebut dan kepentingan apa yang mungkin berada di baliknya.

Ia mendorong mahasiswa mengajukan lima pertanyaan ketika menghadapi sebuah peristiwa, yakni apa yang terjadi, mengapa hal itu terjadi, siapa yang berkepentingan, apa dampaknya bagi bangsa, serta apa yang dapat dilakukan.

Menurut Ace, ada lima kemampuan yang perlu dikembangkan generasi muda untuk menghadapi perubahan global menuju 2045. Kelimanya meliputi kesadaran strategis, kemampuan berpikir kritis, kesadaran terhadap kepentingan nasional, kompetensi global, dan literasi digital.

Ia juga menyoroti jumlah penduduk muda Indonesia. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 yang disampaikannya, kelompok usia 15–29 tahun mencapai 66 juta jiwa.

Jumlah tersebut merupakan potensi besar bagi pembangunan nasional. Namun, potensi itu perlu diimbangi dengan peningkatan keterampilan, kemampuan menyaring informasi, dan penguasaan teknologi agar generasi muda tidak tertinggal dalam persaingan global.

“Sekali lagi, teknologi adalah kekuatan. Indonesia perlu mencipta, mengembangkan, menguasai, dan mengamankan teknologi,” ujar Ace.

Kolaborasi Menuju Indonesia Emas 2045

Ace menegaskan, kesadaran geopolitik tidak boleh berhenti pada pengetahuan. Pemahaman tersebut perlu diterjemahkan menjadi kontribusi nyata untuk memperkuat ketahanan nasional.

Upaya membangun kesadaran geopolitik, menurutnya, membutuhkan keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, generasi muda, ekosistem teknologi, masyarakat, dan organisasi kepemudaan.

Ia berharap ITB dapat terus mencetak generasi muda yang produktif, inovatif, serta mampu menjadi pemimpin yang adaptif dan kompetitif. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun kemampuan berpikir strategis sekaligus mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menutup paparannya, Ace mengingatkan bahwa geopolitik bukan semata-mata tentang berbagai peristiwa yang terjadi di dunia, melainkan juga tentang bagaimana perubahan tersebut memengaruhi Indonesia.

Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengambil peran dalam menentukan arah masa depan bangsa. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang Indonesia yang akan kita tinggali, tetapi juga tentang Indonesia yang kita bentuk hari ini,” tutup Ace.

Kuliah umum tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat Lemhannas RI. Berdasarkan informasi resmi ITB, kegiatan berlangsung dalam agenda Studium Generale di kampus ITB, Bandung. (WIJ/BB/Rls)

(Sumber: Siaran pers Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) melalui VRITIMES, 8 Oktober 2026.)

Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *